Kurikulum dan Pembelajaran

Judul                          : Kurikulum dan Pembelajaran

Penulis                       : Dr. wina Sanjaya, M.Pd.

Jumlah Halaman       : 379

Ukuran Buku             : 23 x 14 cm

Penerbit                     :Kencana Prenada Media Group

Tahun                         : 2008

Kota Terbit                : Bandung

Perangkum                : Lida Nalida

========================================================

Bab 1

HAKIKAT KURIKULUM

A.   Pengertian Kurikulum

Dalam dunia pendidikan kurikulum ditafsirkan secara berbeda-beda. Namun, tafsiran yang berbeda-beda itu memiliki kesamaan. Kesamaan tersebut adalah bahwa kurikulum berhubungan erat dengan usaha mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Kurikulum memiliki tiga dimensi yakni kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar, dan kurikulum sebagai perencanaan program pembelajaran.

Kurikulum sebagai mata pelajaran biasanya erat hubungannya dengan usaha memperoleh ijazah. Kurikulum sebagai mata pelajaran memiliki ketentuan sebagai berikut:

  1. Perencanaan kurikulum biasanya menggunakan judgment ahli  bidang studi.
  2. Mempertimbangkan tingkat kesulitan peserta didik, minat, dan urutan bahan
  3. Menekankan pada penggunaan metode dan strategi pembelajaran.

Kurikulum sebagai pengalaman belajar adalah seluruh kegiatan yang dilakukan siswa baik di dalam maupun di luar sekolah asal kegiatan tersebut berada di bawah tanggung jawab guru (sekolah). Kurikulum sebagai suatu rencana adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraa kegiatan belajar mengajar.

Dari ketiga pengertian di atas konsep kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah dokumen perencanaan yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai, isi, materi, dan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata.

 B.    Peran dan Fungsi Kurikulum

1.    Peran Kurikulum

    1. Peran konservatif, melestarikan berbagai nilai budaya sebagai warisan masa lalu.
    2. Peran Kreatif, mengandung hal-hal baru sehingga dapat membantu siswa untuk dapat mengembangkan setiap potensi yang dimilikinya agar dapat berperan aktif  dalam kehidupan sosial yang senantiasa bergerak maju secara dinamis.
    3. Peran kritis dan evaluatif, menyeleksi nilai dan budaya mana yang perlu dipertahankan dan nilai budaya mana yang harus diubah anak didik.Fungsi Kurikulum

Dilihat dari cakupan, tujuan, dan isi,  kurikulum  mempunyai 4 fungsi yaitu:

  1. Fungsi pendidikan umum, untuk mempersiapkan anak didik agar menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab
  2. Fungsi suplementasi, memberikan pelayanan terhadap semua perbedaan kemampuan, minat, dan bakat siswa.
  3. Fungsi eksplorasi, menemukan dan mengembangakan minat dan bakat siswa
  4. Fungsi keahlian, mengembangkan kemampuan anak sesuai dengan keahlian yang didasarkan pada minat dan bakat siswa.

Di samping fungsi di atas terdapat pula fungsi untuk guru, siswa, Kepala Sekolah, pengawas, orang tua, dan masyarakat. Bagi guru, berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Bagi siswa, berfungsi sebagai pedoman belajar. Bagi Kepala Sekolah, berfungsi untuk menyusun perencanaan dan program sekolah. Bagi pengawas, kurikulum berfungsi sebagai panduan dalam melaksanakan supervisi. Bagi orang tua, kurikulum berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan  bagi penyelenggaran program sekolah, maupun membantu putra-putri mereka belajar di rumah sesuai dengan program sekolah.

  1. C.   Kurikulum dan Pengajaran

Peter F. Oliva (1992) menggambarkan hubungan kurikulum dan penagajaran dengan bebebrapa kemungkinan yaitu:

  1. 1.    Model dualistis (The dualistic model)  
  1. Model Berkaitan (The interlocking model)
  1. 3.    Model Konsentris (The concentric model)

 

 

 

 

 

 

 

  1. 4.    Model Siklus (The cyclical model)

 

  1. D.   Kurikulum Ideal dan Kurikulum Aktual

Kurikulum ideal merupakan pedoman bagi setiap guru khusunya tentang tujuan dan kompetensi yang harus dicapai, Sedangkan kurikulum aktual adalah kurikulum nyata yang dapat dilaksanakan  oleh  guru sesuai dengan kondisi yang ada.

  1. E.    Kurikulum Tersembunyi (Hidden curriculum)

Kurikulum tersembunyi  adalah efek yang muncul sebagai hasil belajar yang sama sekali di luar tujuan yang dideskrpsikan. Menurut Ballack dan Kiebard, Hidden curriculum memilki tiga dimensi yaitu:

  1. Dapat menunjukkan suatu hubungan sekolah meliputi guru, peserta didik, struktur kelas dll.
  2. Menjelaskan sejumlah proses pelaksaan di dalam dan di luar sekolah.
  3. Mencakup perbedaan tingkat kesengajaan (intensionalitas)
  1. F.    Peran Guru dalam Pengembangan Kurikulum

Murray Printr (1993) mecatat peran guru  sebagai berikut

  1. 1.    Implementers, guru mengaplikasikan kurikulum yang sudah ada.
  2. 2.    Adapters, guru sebagai penyelaras kurikukulum dengan karakteristik dan kebutuhan siswa dan kebutuhan daerah
  3. 3.    Developers, guru memilki kewenangan dalam mendesain sebuah kurikulum sesuai dengan karakteristik misi dan visi sekolah dan pengalaman belajar.

 

Bab  2

 LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

 

  1. A.   Hakikat Pengembangan Kurikulum

Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya. Orientasi pengembangan kurikulum menurut Seller menyangkut enam aspek yaitu:

  1. Tujuan pendidikan menyangkut arah kegiatan pendidikan.
  2. Pandangan tentang anak, anak dianggap sebagai organisma yang aktif atau yang pasif.
  3. Pandangan tentang proses pembelajaran. Apakah PBM dianggap    sebagai proses transformasi ilmu pengetahuan atau mengubah prilaku?
  4. Pandangan tentang lingkungan. Apakah lingkungan harus dikelola secara formal atau bebas?
  5. Konsep tentang peran guru. Apakah sebagai instruktur atau fasilitator?
  6. Evaluasi belajar. Apakah mengukur keberhasilan dengan tes atau nontes?

Hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum adalah isi atau muatan kurikulum. Dalam mengembangkan isi dan muatan kurikulum harus memperhatikan.

  1. 1.    Rentangan kegiatan (Range of Activity)

Pengembangan isi kurikulum biasanya diawali dengan rancanagn kebijakan kurikulum, rancanagn bidang studi, program pengajaran, unit pengajaran, dan rancangan pembelajaran.

  1. 2.    Tujuan Kelembagaan (institusional purpose)

Tujuan kelembagaan sama artinya dengan visi dan misi sekolah . Pengembangan kurikulum selamanya harus sejalan dengan visi dan misi sekolah yang bersangkutan karena pada hakikatnya kurikulum disusun untuk mencapai tujuan sekolah.

Proses pengembangan kurikulum harus dimulai dengan asumsi-asumsi filosofis sebagai sistem nilai atau pandangan hidup suatu bangsa. Berdasarkan asas filsafat itulah selanjutnya ditentukan tentang hakikat pengetahuan, sosiokultural, hakikat anak didik, dan toeri-teori belajar. Inilah yang menjadi dasar pengembangan kurikulum. Dengan kata lain landasan pengembangan kurikulum itu meliputi asas filsofis, psikologis, dan sosio budaya termasuk di dalamnya asas teknologi.

Pengembangan landasan kurikulum terdiri atas tiga sumber yakni;

  1. Hakikat dan nilai ilmu pengetahuan
  2. Studi tentang kehidupan sebagai aspek sosial budaya.
  3. Studi tentang siswa dan teori-teori belajar
  1. B.   Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum
  2. Prinsip relevansi, pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ada dua relevansi. 1) relevasi internal, setiap kurikulum harus keserasian antarkomponen kurikulum. 2) relevansi eksternal, keserasian antara tujuan, isi, dan proases belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan masyarakat. Ada tiga relevasi eksternal yaitu relevansi dengan lingkungan hidup siswa, relevansi dengan perkembanagn jaman, revansi dengan tuntutan dunia kerja.
  3. Prinsip Fleksibilitas, kurikulum harus dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada. Prinsip ini memiliki dua dimensi yaitu fleksibel bagi guru dan siswa.
  4. Prinsip kontinuitas, perlu dijaga saling ketergantungan dan kesinambungan antarmateri pelajaran dari berbagai jenjang.
  5. Prinsip efektivitas, berkenaan dengan suatu rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dapat dicapai dalam KBM. Efektifitas dapat berhubungan dengan kegiatan guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar.
  1. C.     Landasan pengembangan Kurikulum
  2. Landasan filosofis, sebagai landasan fundamental  filsafat mempunyai empat fungsi. 1) Menentukan arah dan tujuan pendidikan. 2) Menentukan isi dan materi pelajaran. 3) Menentukan strategi dan cara mencapai tujuan.
    1. Filsafat dan tujuan pendidikan, tujuan pendidikan harus mengandung. 1) autonomy memberi kesadaran, pengetahaun, dan kemampuan yang prima kepada setiap individu dan kelompok. 2) Survival pendidikan bukan saja harus menjamin terjadinya pewarisan dan memperkaya budaya dari generasi ke generasi, akan tetapi harus memberikan pemahaman saling ketergantungan antar manusia
    2. Filsafat sebagai proses berpikir, kurikulum cenderung bersifat idealis akan berbeda dengan kurikulum yang berorientasi pada aliran realis, pragmatis, dan ekstensialis.
      1. Landasan Psikologi

Kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologis perkembangan dan psikologi anak.

  1. a.    Psikologi perkembangan anak, menurut Piaget anak memliki  fase perkembangan kognitif: 1) Sensorimotor (0-2 tahun)  2) Praoperasional (2-7tahun). 3)Operasional Konkret, ( 7-11tahun.4) Operasional Formal(11-14 tahun ke atas.
  2. Psikologi belajar, perkembangan kurikulum tidak terlepas dari teori belajar. Teori belajar ada dua aliran. 1) aliran belajar behavioristik elementeristik. 2) aliran belajar kognitif-wholistik.
  1. 3.    Ladasan Sosiologis-Teknologis dalam Pengembangan kurikulum

Sekolah bukan hanya berfungsi untuk mewariskan kebudayaan dan nilai-nilai suatu masyarakat akan tetapi sekolah juga berfungsi untuk mempersiapkan anak didik dalam kehidupan masyarakat.

  1. a.    Kekuatan sosial yang dapat Mempengaruhi Kurikulum

Kekuatan kelompok dapat memberikan tekanan dalam proses pengembangan kurikulum. Seringkali kelompok-kelompok tersebut memberikan masukan dan tuntutan yang berbeda seperti golongan agama, poloitik militer, industri dll. Pengembang kurikulum harus dapat memperhatikan tuntutan yang berbeda tersebut. Oleh sebab itu, menyerap informasi dari masyarakat merupakan langkah penting dalam proses penyusunan kurikulum.

  1. b.    Kemajuan IPTEK sebagai bahan pertimbangan Penyusunan Kurikulum

Kemajuan teknologi memberikan dampak posistif dan negatif terhadap kehidupan masyarakat. Seiring dengan hal tersebut kurikulum harus mampu menyesuaikan terhadap perubahan yang terjadi. Hal ini penting agar isi dan strategi yang dikembangkan dalam kurikulum  tidak terlihat usang. Hal penting yang harus diperhatikan terhadap perubahan yang terjadi adalah perubahan pola hidup dan perubahan kehidupan sosial politik.

Bab 3

DESAIN KURIKULUM

 

  1. A.   Desain Kurikulum Disiplin Ilmu

Desain kurikulum disiplin ilmu merupakan desain kurikulum yang berpusat kepada pengetahuan. Kurikulum ini berorientasi pada pengembangan intelektual siswa, dikembangkan oleh para ahli mata pelajaran sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Siswa dalam kurilkulum ini bukan hanya diharapkan menguasai mata pelajaran melainkan terlatih proses berpikirnya melalui proses penelitian ilmiah yang sistematis.

Strategi dalam kurikulum ini menggunakan strategi ekspositoris, guru menyampaikan gagasan atau informasi secara langsung. Evaluasi yang digunakan bervariasi disesuaikan denga tujuan mata pelajaran. Pelajaran humaniora diukur dengan esai, kesenian dikuur berdasarkan unsure subjetivitas. Matematika diukur berdasarkan pemahaman aksioma.

Ada tiga bentuk kurikulum yang berorintasi pada disiplin ilmu.

  1. 1.    Subject Centered Curriculum, isi atau bahan disusun dalam bentuk mata pelajatan yang terpisah-pisah tidak berhubungan satu sala lain. Setipa guru bertanggung jawab terhadap mata pelajarannya masing-masing
  2. Correlated Curriculum, mata pelajaran tidak disajikan secara terpisah akan tetapi di antara mata pelajaran sejenis dikelompokan sehingga menjadi suatu bidang studi.. Korelasi bahan atau isi materi pelajaran dapat dilakukan melalaui pendekatan: 1) struktural, kajian suatu pokok bahasan ditinjau dari berbagai mata pelajaran. 2) fugsional, didasarkan pada pengkajain suatu yang berarti dalam kehidupan sehari-hari. Selanjut topik tersebut dikaji berdasarkan berbagai mata pelajaran.
  3. Integrated curriculum, belajar berangkat dari sesuatu pokok masalah                                                                                                    yang harus dipecahkan. Belajar bukan hanya menghafal fakta tetapi mencari dan menganalisis fakta sebagai bahan untuk memecahkan masalah. Dengan demikian, perkembangan siswa tidak hanya pada intelektual sajan tetapi sikap dan emosi atau keterampilan.
    1. Desain Kurikulum Berorientasi pada Masyrakat.

Dalam desain kurikulum ini kebutuhan masyarakat harus dijadikan dasar dalam menentukan isi kurikulum. Ada tiga persepektif dalam kurikulum iini. 1) Persepektif status quo, Rancangan kurikulum ini diarahkan untu melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat. Yang dijadikan dasar oleh para perancang kurikulum ini adalah aspek-aspek penting dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, perlu dikaji berbagai aktivitas yang dilakukan oleh orang dewasa untuk menjadi isi kurikulum yang harus diajarkan kepada siswa.2) Persepektif pembaharuan, menekankan pada proses mengembangkan hubungan antar kurikulum dan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi masyarakat. Tujuan kurikulum ini adalah mempertemukan siswa dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia. Ada tiga kriteria yang harus diperhatikan dalam mengimplentasikan kurikulum ini. Pertama, siswa harus memfokuskan kepada salah satu aspek yang ada di masyarakat yang dianggap perlu diubah. Kedua, siswa harus melakukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi di masyarakat. Ketiga, tindakan siswa harus didasarkan pada nilai. Evaluasi pembelajaran diarahkan kepada kemampuan siswa mengartikulasiakn isu atau masalah, mencari pemecahan masalah, memiliki kamauan untuk menlakuakn tindakan,

  1. C.     Desain kurikulum Berorientasi pada Siswa

Yang mendasari desain ini adalah bahwa pendidikan diselenggakan untuk membantu anak didik. Dalam mendesain kurikulum ini Alece Crow( Crow &Crow, 1955) menyarankan sebagai berikut:

  1. Kurikulum harus disesuikan dengan perkembangan anak.
  2. Isi kurikulum harus mencakup keterampilan, pengetahuan dan sikap
  3. Anak ditempatkan sebagai subjek belajar
  4. Dupayakan apa yang dipelajari siswa sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat perkembangan siswa.

Kurikulum yang berorientasi pada siswa mininmal dapat dilhat dari dua persepektif. 1) persepektif kehidupan anak di masyarakat, proses pembelajaran bukan hanya mengembangkan kemampuan intelektual, tetapi bagaimana proses belajar itu dapat mengembangkan seluruh aspek kehidupan siswa. Dengan demikian, materi kurikulum yang dipelajari di sekolah serta pengalaman belajar didesain sesuai dengan kebutuhan anak sebagai persiapan agar mereka hidup di masyarakat.2) persepektif psikologi, menurut para pengembang kurikulum persepektif kurikulum ini, tugas dan tanggung jawab pendidikan di sekolah bukan hanya sekedar mengembangkan segi intelektual siswa saja, akan tetapi mengembangkan seluruh pribadi siswa sehingga dapat manusia yang utuh. Kurikulum persepektif ini menekankan pada adanya hubungan emosional antara siswa dengan guru.

  1. D.     Desain Kurikulum Teknologis

Teknologi mempengaruhi kurikulum dapat dilihat dari dua sisi. 1) Sisi penerapan hasil-hasil teknologi, adalah perencanaan yang sistematis dengan menggunakan media atau alat dalam kegiatan pembelajaran. Penerapan dan pemanfaatan hasil teknologi untuk meningkatkan efektivitas dan efesiensi pembelajaran. 2) Teknologi sebagai suatu sistem, menekankan kepada penyusunan program dengan menggunakan pendekatan sistem yang ditandai dengan perumusan tujuan khusus sebagai tujuan yang harus dicapai. Karakteristik kurikulum ini adalah: 1) belajar dipandang sebagai proses respon terhadap rangsangan. 2) Belajar diatur berdasarkan langkah-langkah tertentu dengan sejumlah tugas yang dipelajari. 3) Secara khusus siswa belajar individual, meskipun dalam hal-hal tertentu bisa saja belajar kelompok.    Efektivitas dan keberhasilan implementasi kurikulum teknologi hendaklah memperhatikan hal-hal sebagai berikut. 1) kesadaran akan tujuan. 2) siswa diberi kesempatan untuk mempraktikan kecakapannya sesuai dengan tujuan.3) Siswa perlu diberi tahu yang telah dicapai.

Bab 4

PENDEKATAN DAN MODEL

PENGEMBANGAN KURIKULUM

  1. A.    Pndekatan Pengembangan Kurikulum
    1. 1.      Pendekatan Top Down

Pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif pra pejabat pendidikan atau para adminintrator pemegang kebijakan. Prosedur kerjanya adalah. Langkah pertama, pembentukan tim pengarah oleh pejabat pendidikan. Tugas tim ini menentukan konsep dasar, rumusah falsafah, dan tujuan umum pendidikan. Langka kedua, menyusun kelompok kerja yang bertugas untuk menjabarkan kebijakan-kebijakan yang telah rumuskan tim pengarah. Langkah ketiga Pembentukan tim perumus mengkaji dan membeir catatan-catatan atau revisi hasil penjabaran kelompok kerja. Administrator memerintahkan ke setiap sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum.

  1. 2.              Pendekatan Grass Roots

Inisiatatif pengembangan kurikulum dimulai dari lapangan atau dari guru-guru sebagai implementator. Pendekatan ini hanya mungkin dilakukan jika: 1) kurikulum itu bersifat lentur. 2) guru memiliki sikap profesional yang tinggi.

Ada beberapa langkah penyempurnaan kurikulum dengan menggunakan pendekatan grass roots. 1) menyadari adanya masalah. 2) mengadakan refleksi. 3) mengajukan hipotesis atau jawaban sementara. 4) Menentukan hipotesis yang mungkin dekat dan dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi. 5) Mengimplementasi perencanaan dan mengevaluasinya secara terus menerus shingga terpecahkan masalah yang dihadapi. 6) Membuat dan menyusun laporan hasil pelaksanaan pengembangan melalui grass roots.

  1. B.   Model-model pengembangan kurikulum

Model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks. Model dapat diartikan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu ke dalam realita yang sifatnya lebih praktis. Manfaat model adalah sebagai berikut:

  1. Menjelaskan beberapa aspek prilaku dan interaksi manusia.
  2. Mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan penelitian.
  3. Menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks
  4. Sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan.

Macam-macam model pengembangan kurikulum antara lain.

1)     Model Tyler, model ini dianggap fundamentalis karena  berhubungan dengan tujuan pendidikan, pengalaman belajar, pengorganisasia pengalaman belajar, dan evaluasi.

2)    Model  Taba, model ini menitikberatkan pada bagaimana mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan. Ada lima langkah dalam mengembangkan model ini yaitu a) Menghasilkan unit-unit percobaan (pilot unit) melalui langkah-langkah mengdiagnosis kebutuhan, memformulasikan tujuan memilih isi, mengorganisasi isi, memilih pengalaman belajar, mengorganisasi pengalaman belajar, menentukan alat evaluasi serta prosedur yang harus dilakukan  siswa. b) menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangka menentukan validitas dan kelayakan penggunaannya. c) merevisi dan mengkosolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yang diperoleh dalam uji coba. d) mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum.e) implementasi dan diseminasi kurikulum yang telah teruji.

3)     Model olive, model kurikulum harus bersifat simple, komprehensif, dan sistematik.

4)    Model Beauchamd, ada lima langkah dalam proses pengembangan kuriklum. a) menetapkan area atau wilayah yang akan melakukan perubahan kurikulum.b) menetapkan orang-orang yang akan telibat dalam pegembangn kurikulum. c) menetapkan prosedur yang akan ditempuh d) implementasi Kurikulum e) melaksanakan evaluasi kurikulum.

5)    Model Wheeler Proses pengembangan kurikulum terjadi terus-menerus dari tujuan umum dan khusus, mentukan pengalaman belajar, menetukan isi materi, mengorganisasi pengalaman dan bahan belajar. Evalusi dan kembali lagi ke tujuam umum dan khusus.

6)    Model Nicholis, model ini menggunakan pendekatan siklus seperti Wheeler. Ada lima langkah langkah pengembanagn kurikulum menurut Nicholis. a) analisis situasi, b) menentukan tujuan khuus c) menentukan dan mengorganisasi isi pelajar. d)menentukan dan mengorganisasi metode. e) evaluasi

7)    Model Dynamic Skilbeck, model ini model ini digunakan untuk pengembanagn kurikulum pada level sekolah. Langkah-langkah pengembangan model ini adalah sebagai berikut; a) menganalisis situasi. b) memformulasikan tujuan. C) menyusun program. C) interpretasi dan implementasi.e) monitoring feedback, penilaian, rekmendasi.

Bab 5

PENGEMBANGAN TUJUAN DAN ISI KURIKULUM

  1. A.   Pendahuluan

Pengembangan komponen-komponen kurikulum membentuk sistem kurikulum. Komponen kurikulum yang saling berkaitan tersebut adalah:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5.1

Komponen Sistem Kurikulum

  1. B.   Pengembangan Tujuan Kurikulum

Ada beberapa alasan  mengapa tujuan perlu dirumuskan dalam kurikulum. Pertama, tujuan erat kaitannya dengan arah dan sasaran yang harus dicapai oleh setiap upaya pendidikan. Kedua, dapat membantu dalam mendesain model kurikulum dan sistem pembelajaran. Ketiga, dapat digunakan sebagai control kualitas pembelajaran.

  1. Klasifikasi tujuan

Bloom mengklasifikasikan tiga domain tujuan:

  1. Domain kognitif tujuan pendidikan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual atau kemampuan berpikir. Domain ini dibagi lagi menjadi enam tingkatan yaitu: 1) pengetahuan, 2) pemahaman, 3) penerapan, 4) analisis, 5) sintesis, 6, evaluasi.
  2. Domain afektif, berkenaan dengan sikap. Domainn ini merupakan kelanjutan dari domain kognitif. Seseorang memiliki sikap tertentu terhadap sesuatu objek manakala telah memiliki kemampuan yang kognitif tingkat tinggi. Domain afektif mempunyai tingkatansebagai berikut: 1) penerimaan, 2) merespon, 3) Menghargai, 4) mengorganisasi, 5) karakterisasi nilai
  3. c.    Domain Psikomotor, tujuan yang berhubungan dengan kemampuan keterampilan seseorang. Ada enam tingkatan dalam yang termasuk dalam domain ini: 1) gerak reflek, 2) keterampilan dasar, keterampilan perceptual,3) keterampilan fisik, gerakan keterampilan, komunikasi nondiskursif.
  4. 2.    Herarkis Tujuan

Dilihat dari herarkis tujuan pendidikan dapat digambarkan sebagai berikut:  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Arah Penja baran Tujuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. C.     Pengembangan Materi Kurikulum

Bahan atau materi kurikulum adalah isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami siswa dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.

  1. 1.    Sumber-sumber Materi Kurikulum

Ada tiga sumber materi kurikulum: 1) masyarakat beserta budayanya, sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar dapat dapat hidup di masyarakat. Dengan demikian, apa yang dibutuhkan masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan isi kurikulum. Kebutuhan masyarakat yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum meliputi masyarakat lingkungan sekitar lokal, dalam tatanan nasional, dan masyarakat global. 2) Siswa sebagai sumber materi kurikulum, tugas dan fungsi pendidikan adalah untruk mengembangkan seluruh potensi siswa. Oleh sebab itu, kebutuhan anak menjadi salah satu sumber materi kurikulum.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perumusan isi kuriulum dikaitkan dengan siswa yakni. 1) Kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan perkembangan anak.2) Isi kurikulum sebaiknya mencakup keterampilan, pengetahuan dan sikap.3) siswa hendaknya didorong untuk belajar secara aktif. 4) materi kurikulum hendaknya sesuai dengan minat dan keinginan siswa.

  1. 2.    Tahap penyeleksian materi Kurikulum
    1. a.    Identifikasi kebutuhan

Tahap ini dimulai dari penilaian apakah bahan atau materi kurikulum yang ada cukup memadai untuk mencapai tujuan? Dan apakah tujuan sudah sesuai dengan perkembangan jaman? Di sinilah pengembang kurikulum dituntut berpikir kritis untuk mengevaluasi dan menyeleksi bahan atau materi yang sesuai dengan kebutuhan.

  1. b.    Mendapatkan bahan kurikulum

Bahan kurikulum dapat diperoleh dari jurnal penelitian, menelaah sumber-sumber literatur yang baru, melacak informasi internet dll.

  1. c.    Analisis bahan

Analisis bahan kurikulum diperlukan untuk menghindari kesalah-kesalahan yang mungkin terjadi. Kesalahan dari sudut kelengkapan  maupun keakuratan dapat mengakibatkan rendahnya kualitas kurikulum.

  1. d.    Penilaian bahan kurikulum

Kriteria untuk menentukan bahan layak atau tidak adalah dengan cara menguji scope dan sequence-nya. Apakah tingkat kedalaman dan urutan bahannya sesuai dengan tarap perkembangan siswa.

  1. e.    Membuat keputusan mengadopsi bahan

Penentuan kelayakan bahan harus dilakukan secara objektif. Oleh karena itu, para pengembang kurikulum harus hati-hati serta menjauhkan diri dari kepentingan subjektif.

  1. 3.      Jenis-jenis Materi Kurikulum

Materi kurikulum  yang harus dipelajari siswa terdiri dari fakta, konsep, prinsip, hukum, dan keterampilan. Fakta adalah sifat dari suatu gejala, peristiwa, benda yang wujudnya dapat ditangkap oleh panca indra. Konsep adalah abstraksi kesamaan dan keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat. Prinsip, hubungan antara dua atau lebih konsep yang sudah teruji secar empirik.. Keterampilan adalah pola kegiatan yang memiliki tujuan tertentu yang memerlukan manipulasi dan koordinasi informasi.

  1. Kriteria penetapan materi.

Secara umum ada beberapa pertimbangan dalam menetapkan materi kurikulum yakni: a) tingkat kematangan siswa.b) tingkat pegalaman siswa.c) Tarap kesulitan materi.

Bab 6

HAKIKAT KURIKULUM

TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

  1. A.     Pendahuluan

Kurikulum  satuan pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum terbaru di Indonesia yang disarankan untuk dijadikan rujukan oleh para pengembang kurikulum di tingkat satuan pendidikan. KTSP lahir dari semangat otonomi daerah, dalam hal ini urusan pendidikan tidak semuanya tanggung jawab pusat, akan tetapi sebagian tanggung jawab daerah. Oleh sebab itu, dilihat dari model pengembangan KTSP merupakan salah satu model kurikulum yang bersifat desentralisasi.

  1. B.     Pengertian dan Karakteristik KTSP
    1. 1.    Pengertian

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan  oleh masing-masing satuan pendidikan. Ada beberapa hal yang berhubungan dengan makna kurikulum operasional. Pertama, Sebagai kurikulum operasional KTSP  dalam pengembangnnya tidak terlepas dari ketetapan yang disusun pemerintah secara nasional. Hal ini sesuai dengan UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1 yang menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum mengacu padal Standar Nasional Pendidikan.  Kedua , sebagai kurikulum operasiona KTSP harus memperhatikan ciri khas kedaerahan sesuai dengan bunyi undag-undang No 20 tahun 2003 ayat 2 yakni kurikulum pada semua jenjang  dan jenins pendidikan dikembangkan dengan prinsip diverifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Ketiga, sebagai kurikulum operasional para pengembang kurikulum di daerah memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum menjadi unit-uit pelajaran, mengembangkan strategi, metode, media dan evalusi.

  1. 2.    Karakteristik KTSP

KTSP memiliki karakteristik sebaai berikut

  1. Berorientasi pada disiplin ilmu. Hal ini terlihat dari pertama, terdapatnya struktur program yang memuat sejumlah mata pelajaran. Kedua, keberhasilan KTSP diukur dari kemampuan siswa menguasai materi pelajarn.
  2. Beroreitasi pada pengembangan individu. Hal ini terlihat dari prinsip pembelajaran ditekankan pada aktivitas siswa, dan dalam strutur kurikulum terdapat komponen pengembangan diri yang menekankan pada minat dan bakat siwa.
  3. Mengakses kepentingan daerah. Hal ini terlihat dari salah satu prinsip KTSP yaitu berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
  4. Merupakan kurikulum teknologis. Hal ini terlihat dari standar kompetensi, kmpotensi dasar, dan indkator hasil belajar yang didalamnya mengadopsi teknologi.
  5. C.  Tujuan KTSP

     Secara umum tujuan KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenngan (otonomi) dalam lembaga pendidikan.

Secara khusus diterapkannya KTSP adalah.1) meningkatkan kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. 2) meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama. 3) meningkatkan kompetisi yang sehat antara satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.

  1. D.   Dasar Penyususnan KTSP

Pengembangan KTSP didasarkan dua landasan pokok yakni landasan empiris dan landasan formal. Landasan empiris di antaranya. 1) adanya kenyataan rendahnya kualitas pendidikan baik proses maupun hasil. 2) Indonesia memiliki keragaman sosial budaya degan potensi dan  kebutuhan yang berbeda. Keanekaragaman daerah perlu dijadikan pertimbangan dalam proses penyusunanan dan pengembanagn kurikulum. Yang menjadi landasan formal KTSP adalah UU RI no 20 tahun 2003 tentang  Sistem Pendidikan Nasional dan Permen RI No 19 Tahun 2005 tentang Standar Naional Pendidikan.

  1. E.    Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP
    1. 1.    Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik, dan lingkungan
    2. 2.    Beragam dan terpadu, kurilum meliputi subtansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pegembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna.
    3. 3.    Tanggap terhadap ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
    4. 4.    Relevan dengan kebutuhan kehidupan
    5. 5.    Menyeluruh dan berkesinambungan
    6. 6.    Belaar sepanjang hayat, diarahkan pada proses penegembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
    7. 7.    Seimbang antara kepentingan nasional dan  kepentingan daerah.

Dalam mengimplentasikan KTSP perlu memperhatikan prinsip-prinsip pelaksanaan yaitu: 1) peningkatan iman dan takwa. 2) pengembangan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik. 3) Tuntutan kepentingan  daerah dan nasional harus seimbang. 4)  Tuntutan dunia kerja, selain mempesiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi namun KTSP membeli peserta didik dengan berbagai keterampilan dan kecakapan sesuai dengan tuntutan dunia kerja. 5) Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, KTSP perlu secara terus-menerus disempurnakan sesuai dengan perkembang IPTEK dan seni.6) Agama,menghormati dan toleran  terhadap setiap agama dan mendorong agar meraka berprilku sesuai dengan agama mereka. 7) Dinamika perkembanagn global, KTSP dikembangkan agar peserta didik mampu bersaing secara global dan hidup berdampingan dengan bangsa lain. 8) Persatuan dan nilai-nilai kebangsaan, KTSP harus mendorong peserta didik memiliki wawasan kebangsaan. 10) Kondisi sosial budaya masyarakat setempat, KTSP harus dikembangkan sesui dengankeragaman social budaya. 11) kesetaraan gender. KTSP harus dikembangkan dengan memperhatikan rasa keadilan dan mengembangkan kesetraan gender. 12) Karakteristik satuan pendidikan, KTSP dikembanagkan sesuai dengan misi dan visi sekolah.

  1. F.    Komponen KTSP

KTSP terdiri dari empat komponen. !) Tujuan pendidik, tujuan pendidikan satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu pada tujuan umum pendidikan. Tujuaan ptingkat satuan pendidikan telah dirumuskan  pada Permen No 19 Tahun 2005 tentang stndar Nasional pendidikan. 2) Struktur Program dan Muatan Kurikulum. Struktur program dan muatan kurikulum terdiri dari kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, etetika, pelajaran jasmani, olah raga, kesehatan. Muatan KTSP meliput mata pelajaran, muatan lokal, pengembangan diri, pengaturan jam belajar. Pengaturan beban belajar meliputi. a) menggunakan sistem paket. b) sistem kridit semester (SKS). c) Jam pebelajaran untuk setiap  mata pelajaran sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum dan dimungkinkan menambah maksimun 4 jam. d) alokasi waktu untuk penugasan  terstruktur dan kegiatan mandiri dalam sistem paket. untuk SD sederajat 0%-40%, SMP  dan sederjat 0%-50%, SMA dan sederajat 0%-60%.. e) Alokasi waktu untuk praktik.  empat jam praktik setara dengan atau kali tatap muka.f) Alokasi waktu untu tatap muka, penugasan   terstruktur yang menggunakan sistem SKS yaitu 40 menit tatap muka, 20 menit  kegiatan mandiri. Satu SKS terdiri dari  45 menit tatap muka, 25 menit kegiat terstruktur dan kegiatan mandiri. Kenaikan, penjurusa, dan kelulusan

  1. Proses Penyusunan KTSP.

1)    Analisis konteks

  1. Mengidetifikasi standar isi dan standar  isi
  2. Menganalisis semua kondisi yang ada.
  3. Menganalisis peluang dan tantangan
  4. Mekanisme penyusunan
  5.  Menyusun tim penyusun. kegiaatn

2)    Mekanisme penyusunan

  1. Tim penyusun
  • Tim penyusun KTSP pada SD, SMP, SMA, dan SMK terdiri atas guru, konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggta.
  • Tim penyusun KTSP MI,MTs, MA, dan MAK terdiri atas guru, konselor, dan kepala madrsah sebagai ketua merangkap anggota.
  • Tim penyusun KTSP khusus(SDLB, SMPLB, SMALB) terdiri atas guru, konselor, kepala sekolah sebagi ketua merangkap anggota.
  1. Kegiatan

Kegiatan dapat berbentuk rapat kerja/lokakaya sekolah/madrasah. Tahap kegiatannya meliputi penyiapan dan penyususna draf, review , finalisasi, pemantapan dan penilaian.

  1. Penberlakuan

KTSP diamggap sudah berlaku apabila dinyatakan berlaku oleh kepala sekolasetelah mendapat pertimbangan dari komite sekolahdan diketahui oleh dinas pendidikan tingkat kabupaten/kota.

BAB 7

PENGEMBANGAN DAN DOKUMEN KTSP

  1. A.   Pendahuluan

Struktur KTSP terdiri dari dua dokumen. Dokemen pertama berisi tentang acuan pengembangan KTSP memuat latar belakang, tujuan dan prinsip pengembangan, tujuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum, kalender pendidikan. Dokumen dua, berisi tentang silabus dan rencana pelaksaan pembelajaran

Dokumen Satu

Bab1 Pendahuluan

  1. Latar Belakang dan Dasar Pengembangan
  2. Tujuan pengembanagn dan Funsi KTSP

C. Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP

Bab 2 Tujuan Pendidikan

  1. Tujuan Pendidikan
  2. Visi dan Misi Sekolah

C. Misi Sekolah

Bab 3 Struktur dan Muatan Kurikulum

  1. Mata Pelajaran
  2. Muatan Lokal
  3. Kegiatan Pengembangan
  4. Pengaturan Beban Belajar
  5. Kententuan Belajar
  6. Kenaikan Kelas dan Kelulusan
  7. Penjurusan
  8. Pedidikan Kecakapan Hidup
    1. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global

BAB 4.Kalender Pendidikan Minggu, hari, dan jam efektif

  1. Program Tahunan
  2. Program Semester

Dokumen dua

Dokumen dua berisi tentang silabus mata pelajaran

  1. B.     Pengembangan Dokumen Satu KTSP

BAB 1 Pendahuluan

  1. a.    Latar Belakang

Pendahuluan berisi latar belakang. Pada latar belakang berisi dua alasan. 1) alasan rasional, berisi menjawab pertanyaan mengapa  perlunya KTSP? 2) dasar hukum, UUNomor 20 tahun 2003. Peratuaran Pemerintah Nomor 19 tahun 2009.

  1. b.    Tujuan Pengembangan dan Fungsi KTSP
    1. 1.    Untuk dijadikan pedoman bagi guru dalam pengelolaan pembelajaran sesuai dengan karakteristiksiswa dan kebutuhan daerah.
    2. 2.    Sebagai pedoman dalam menetukan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai siswa.
    3. c.    Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP
      1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
      2. Beragam dan terpadu
      3. Tanggap dan terpadu
      4. Tanggap terhadap perkembangan IPTEK dan seni
      5. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
      6. Menyuruh dan berkesinambungan
      7. Belajar sepanjang hayat.
      8. Seimbangn anatar kepentingan nasional dan daerah.

BAB 2 Tujuan Pendidikan

  1. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan dirumuskan sesuai UU No 20 Tahun 2003 Pasal 3. Disamping tujuan pendidikan juga dirumuskan tujuan sekolah. Dalam peraturan pemerintah No.19  Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pnedidikan  Bab V pasal 26 dijelaskan Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar, menengah umum, menengah kejuruan, dan pada jenjang pendidikan menengah.

  1. Visi dan Misi Sekolah

Visi adalah sasaran akhir yang terukur dan realisitis sesuai dengan potensi sekolah yang bersangkuta. Sedangkan misi adalah berkenaan dengan pertanyaan upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencapai visi sekola

Bab 3 Struktur dan Muatan Kurikulum

  1. Mata Pelajaran
    1. Kelompok Mata Pelajaran, terdiri dari
      1. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia
      2. Kelompok mata pelajarn kewarganegaraan dan kepribadian
      3. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
      4. Kelompok mata pelajara estetika
      5. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahrag, dan kesehatan
      6. Struktur Kurikulum

Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 7.1

Struktur Kurikulum SD/MI

Komponen

Kelas dan alokasi Waktu

I

II

III

IV, V, dan VI

  1. Mata Pelajaran

3

  1. Pendidikan Agama

2

  1. Pendi. kewarganegaraan

5

  1. Bahasa Indonesisa

5

  1. Matematika

4

  1. Ilmu Pengetahuan Alam

3

  1. Ilmu Pengetahuan Sosial

4

  1. Seni Budaya dan Keterampilan

4

  1. Penjaskes

2

  1. Muatan Lokal

2

  1. Pengembangan Diri

2*)

Jumlah

26

27

28

32

*) ekuivalen 2 jam pelajaran

Tabel 7.2

Struktur Kurikulum SMP/MTs

Komponen

Kelas dan alokasi Waktu

I

II

III

  1. Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama

2

2

2

2. Pendi.kewarganegaraan

2

2

2

3. Bahasa Indonesia

4

4

4

4. Bahasa Inggris

4

4

4

5. Matematika

4

4

4

6. Ilmu Pengetahuan Alam

4

4

4

7. Ilmu Pengetahuan Sosial

4

4

4

8. Seni Budaya

2

2

2

9. Penjaskes

2

2

2

1o. KeterampilanTIK

2

2

2

  1. Muatan Lokal

2

2

2

  1. Pengembangan Diri

2*)

2*)

2*)

Jumlah

32

32

32

Tabel 7.3

Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas X

 

Komponen

Alokasi waktu

Semester I Semester II
  1. Mata Pelajaran
  1. Pendidikan Agama

2

2

  1. PendidikanKewarganegaraann

2

2

  1. Bahasa Indonesia

4

4

  1. Bahasa Inggris

4

4

  1. Matematika

4

4

  1. Fisika

2

2

  1. Biologi

2

2

  1. Kimia

2

2

  1. Sejarah

1

1

  1. Geografi

1

1

  1. Ekonomi

2

2

  1. Sosiologi

2

2

  1. Seni Budaya

2

2

  1. Penjaskes

2

2

  1. TTIK

2

2

  1. Keterampilan/Bahasa Asing

2

2

  1. Muatan Lokal

2

2

  1. Pengembangan Diri

2*)

2*)

Jumlah

38

38

*) ekuivalen 2 jam pelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 7.4

Struktur Kurikulum SMA/MA Program Ilmu Alam

 

Komponen

Alokasi Waktu

Kelas XI

Kelas XII

Smt I Smt I Smt I Smt II
A. Mata Pelajaran
  1. Pendidikan Agama

2

2

2

2

  1. Pend Kewarganegaraan

2

2

2

2

  1. Bahasa Indonesia

4

4

4

4

  1. Bahasa Inggris

4

4

4

4

  1. Matematika

4

4

4

4

  1. Fisika

5

5

5

5

  1. Biologi

4

4

4

4

  1. Kimia

4

4

4

4

  1. Sejarah

1

1

1

1

  1. Ekonomi

2

2

2

2

  1. Sosiologi

2

2

2

2

  1. Seni Budaya

2

2

2

2

  1. Penjaskes

2

2

2

2

  1. TIK

2

2

2

2

  1. Keterampilan/Bahasa Asing

2

2

2

2

  1. B. Muatan Lokal

2

2

2

2

  1. C. Pengembangan Diri

2*)

2*)

2*)

2*)

Jumlah

39

39

39

39

*) ekuivalen 2 jam pelajaran

Tabel 7.5

Struktur Kurikulum SMA/MA Program Sosial

 

 

Komponen

Alokasi Waktu

Kelas XI

Kelas XII

Smt I Smt I Smt I Smt II
A. Mata Pelajaran
  1. Pendidikan Agama

2

2

2

2

  1. Pend Kewarganegaraan

2

2

2

2

  1. Bahasa Indonesia

4

4

4

4

  1. Bahasa Inggris

4

4

4

4

  1. Matematika

4

4

4

4

  1. Sejarah

3

3

3

3

  1. Geografi

3

3

3

3

  1. ekonomi

4

4

4

4

  1. Sosiologi

3

3

3

3

  1. Seni Budaya

2

2

2

2

  1. Penjaskes

2

2

2

2

  1. TIK

2

2

2

2

  1. Keterampilan/Bahasa Asing

2

2

2

2

B. Muatan Lokal

2

2

2

2

  1. C. Pengembangan Diri

2*)

2*)

2*)

2*)

Jumlah

39

39

39

39

*) ekuivalen 2 jam pelajaran

Tabel 7.6

Struktur Kurikulum SMA/MA program Bahasa

 

 

Komponen

Alokasi Waktu

Kelas XI

Kelas XII

Smt I Smt I Smt I Smt II
A. Mata Pelajaran
  1. Pendidikan Agama

2

2

2

2

  1. Pend Kewarganegaraan

2

2

2

2

  1. Bahasa Indonesia

5

5

5

5

  1. Bahasa Inggris

5

5

5

5

  1. Matematika

3

3

3

3

  1. Sastra Indonesia

4

4

4

4

  1. Bahasa Asing

4

4

4

4

  1. Antropologi

2

2

2

2

  1. Sejarah

2

2

2

2

  1. Seni Budaya

2

2

2

2

  1. Penjaskes

2

2

2

2

  1. TIK

2

2

2

2

  1. Keterampilan/Bahasa Asing

2

2

2

2

B. Muatan Lokal

2

2

2

2

  1. C. Pengembangan Diri

2*)

2*)

2*)

2*)

Jumlah

39

39

39

39

*) ekuivalen 2 jam pelajaran

Tabel 7.7

Struktur Kurikulum /MA program Keagamaam

 

 

Komponen

Alokasi Waktu

Kelas XI

Kelas XII

Smt I Smt I Smt I Smt II
A. Mata Pelajaran
  1. Pendidikan Agama

2

2

2

2

  1. Pend Kewarganegaraan

2

2

2

2

3. Bahasa Indonesia

4

4

4

4

4. Bahasa Inggris

4

4

4

4

5. Matematika

4

4

4

4

6. Tafsir dan Ilmu tafsir

3

3

3

3

7. Ilmu Hadis

3

3

3

3

8. Ushul Fiqh

3

3

3

3

9. Tasawuf/ Ilmu Kalam

3

3

3

3

  1. 10. Seni Budaya

2

2

2

2

  1. Penjaskes

2

2

2

2

  1. TIK

2

2

2

2

  1. Keterampilan/Bahasa Asing

2

2

2

2

  1. Muatan Lokal

2

2

2

2

  1. Pengembangan Diri

2*)

2*)

2*)

2*)

Jumlah

38

38

38

38

 

*) ekuivalen 2 jam pelajaran

 

 

Tabel 7.8

Struktur Kurikulum SMK/MAK

 

 

Komponen

Alokasi waktu
Kelas x,XI, dan XII
Jam/mgua) Durasi
A. Mata Pelajaran
  1. Pendidikan Agama

2

192

  1. Pend Kewarganegaraan

2

192

  1. Bahasa Indonesia

2

192

  1. Bahasa Inggris

4

440B)

  1. Matematika

4

440B)

  1. Ilmu pengetahuan Alam

2

192 B)

  1. Ilmu Pengetahuan Sosial

2

192 B)

  1. Seni budaya

2

192

  1. Penjaskes

2

192

  1. 10.  Kejuruan
  1. 10.1Keterampilan computer dan pengelolaan   Informasi

2

202

  1.        10.2  Kewirausahaan

2

192

  1. 10.3 Dasarkompetensi  kejuruanc)

2

2

  1. 10.4. Kompetensi Kejuruan

6

1000 d)

  1. Muatan Lokal

2

192

  1. Pengembangan Dirie0

(2)

(192)

Jumlah

38

3950

Keterangan notasi

a)      Alokasi waktu pelajaran per minggu adalah jumlah jam minimal bagi setiap program keahlian

b)      Durasi waktu adalah jumlah jam minimal yang digunakan oleh setiap program keahlian. Program keahlian yang memerlukan waktu lebih dikini integrasikan kepada kelompok dasar Kompentensi  kejuruan di luar jumlah jam yang dicantumkan dasar kompetensi kejuruan

c)      Terdiri atas berbagai mata pelajran yang ditentukan sesuai dengan kebutuhan setiap program keahlian

d)      Jumlah jam kompetensi kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standar kompetensi yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boloeh kurang dari 1000 jam..

e)      Ekuivalen 2 jam pembelajaran.

 

Bab 4 Kalender Pendidikan

Kalender pendidikan disusun oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat dengan mengacu pada ketentuan yang ditetapkan dalam standar isi. Yang perlu disusun dalam kalender pendidikan adalah. a) Jumlah minggu dan hari efektif. b) Perencanaan program tahunan. c) Rencana program semester

 

  1. C.  Pengembangan Dokumen Dua
    1. 1.    Pengembangan Silabus
      1. a.    Pengertian

Silabus dapat diartikan sebagai rencana program pembelajaran satu atau kelompok mata pelajaran yang berisi tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai siswa, pokok materi yang harus dipelajari siswa serta bagaimana cara mempelajarinya dan bagaimana cara untuk mengetahui pencapaian kompetensi dasar yang telah ditentukan.

Silabus memuat berbagai hal yakni. 1) Tujuan apa yang harus dicapai siswa. 2) Materi apa yang harus dipelajari siswa. 3) Bagaimana cara yang dapat dilakukan yang dapat dilakukan agar SK dan KD itu dapat dicapai? 4) Bagaimana menentukan keberhasilan siswa.

 

  1. b.    Manfaat Silabus

Untuk guru, silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam menyusun Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran, sebagai pedoman dalam penyelenggaraan suatu proses pembelajaran. Untuk admisnitrator, termasuk kepala sekolah silabus dapat dijadikan rujukan dalam menentukan berbagai kebijakan sekolah. Bagi pengawas bermanfaat untuk melakukan supervise sekolah.

  1. c.  Prinsip pengembangan silabus

Prinsip pengembangan silabus antara lain. a) ilmiah, b) relevan, c) sistematis,  d) konsisten, e) memadai, f) aktual dan kontektual, g) fleksibel, dan h) menyeluruh.

  1. Unit Waktu

1)    Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyeleggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.

2)    Penyusunan silabus memerhatikan alokasi waktu yang disediakan per  semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran yang sekelompok.

3)    Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk mata pelajaran denagn alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum.

  1. e.    Pengembang kurilkulm

Pengemabang silabus  dapat dilakukan oleh guru secara mandiri atau kelompok MGMP atau kegiata PKG.

  1. f.     Format silabus

Format kurikulum memuat hala-hal berikut: 1) menentukan identitas silabus, 2) rumusan standar kompetensi, 3) menentukan kompetensi, 4) mengidentifikasi materi pokok/materi pembelajaran. Beberapa pertimbangan untuk menentukan materi pokok. a) potensi peserta anak didik, b) relevan dengan karakteristik daerah, c) tingkat perkembangan fisik, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik, d) kebermanfaatan bagi peserta didik, e) struktur keilmuan, f) aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran, g)  relevan dengan kebutuhan peserta didk dan tuntutan lingkungan, h) sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia, dan i) merumuskan kegiatan pembelajaran. 5) Merumuskan indikator. 6) Menentukan penilaian. 7) Menentukan alokasi waktu. 8) menentukan sumber belajar.

2.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

a. Pengertian  dan fungsi RPP

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaarn untuk setiap kegiatan proses pembelajaran. RPP dikembangkan berdasarkan silabus.

  1. b.  Komponen-komponen RPP

Komponen RPP terdiri dari : 1) Tujuan pembelajaran.2) materi/isi 3) Strategi dan metode pembelajaran. 4) Media dan sumber belajar. 5) evaluasi

Bab 8

SISTEM PEMBELAJARAN

  1. A.   Pengertian dan Kegunaan Sistem

Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuaI dengan tujuan yang telah ditetapkan. Ada tiga hal penting dalam sIstem yakni: 1) Setiap sistem pasti memiliki tujuan. 2) Sistem selalu mengandung satu proses. 3) Proses kegiatan dalam suatu sIstem selalu melibatkan dan memanfaatkan berbagai komponen atau unsur-unsur tertentu.

  1. B.   Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap sistem
  2. Faktor guru, guru adalah komponen yang sangatmenentukan dalam implentasi suatu strategi pembelajaran
  3. Faktor siswa , siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Sikap dan penampilan siswa di kelas juga merupakan aspek lain yang mempengaruhi proses pembelajaran.
  4. Faktor sarana dan prasarana, sarana adalah segala sesuatau yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran.
  5. Faktor lingkungan, ada dua faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran yaitu faktor organisasi kelas dan iklim sosial-psikologi. Organisasi kelas yang terlalu besar memilki kecenderungan sebagai berikut. a) sumber daya kelompok semakin luas sehingga waktu yang tersedia semakin sempit. b) Kelompok kurang mampu memanfaatkan dan menggunakan sumber daya yang ada. c) kepusaan belajar setiap siswa cenderung menurun. d) perbedaan individu semakin tampak sehingga semakin sukar mencapai kesepakatan. e) semakin banyak siswa yang menunggu untuk sasam-sama maju mempelajari materi pelajaran baru. F) semakin banyak siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam iklim belajar.
  1. C.   Komponen-komponen Sistem Pembelajaran

Belajar adalah perubahan tingkah laku. Proses belajar akan tampak dengan cara membandingkan kondisi sebelum dan sesudah proses belajar seperti gambar berikut.

Siswa 1

PROSES

siswa

Output

Input

 

 

 

 

Isi/Materi

                                                                                 

 

Metode

                                                                                               

 

 

 

 

Gambar 8.1 Komponen Sistem Proses Pembelajaran

 

Dari gambar 8.1 dapat dilihat bahwa sebagai suatu sistem, proses pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang satu sama lain saling berinteraksi dan berinterelasi. Komponen-komponen tersebut adalah tujuan, materi pelajaran, metode atau strategi pembelajaran, media dan evaluasi.

Bab  9

MENGAJAR DAN BELAJAR

DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM

  1. A.   Konsep Dasar Mengajar
    1. Mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaranSecara deskripsi mengajar dapat diartikan sebagai proses penyampaian informsi atau pengetahuan  dari guru kepada siswa. Sebagai proses pengajaran berorientasi pada guru memiliki beberapa karakteristik:

a)    Proses pengajaran berorientasi pada guru (teacher centered), dalam kegiatan belajar mengajar, guru memegang peran sangat penting. Guru menentukan segalanya. Sehubungan dengan pengajaran tersebut guru memilki tiga peran utama yang harus dilakukan guru yaitu guru sebagai perencana, penyampai informasi, dan evaluator.

b)    Siswa sebagai objek belajar, konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai pelajaran. Sebagai objek kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai dengan dengan minat dan bakatnya, bahkan untuk belajar sesuai dengan gayanya sangat terbatas.

c)    Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu. Proses pengajaran berlangsung pada tempat tertentu misalnya terjadi di dalam kelas dengan penjadwalan yang ketat sehingga siswa hanya belajar manakala ada kelas yang telah didesai sedemikan rupa sebagai tempat belajar.

d)    Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi, keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan.

  1. Mengajar sebagai Proses Mengatur Lingkungan.

Perubahan paradigma mengajar dari hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran kepada mengajar sebagai proses mengatur lingkungan  didasarkan pada: 1) siswa bukan orang dewasa dalam bentuk mini akan tetapi mereka adalah organism yang sedang berkembang.Oleh karena itu, tugas   guru mengarahkan dan membimbing mereka  agar tumbuh dan berkembang secara optimal.  Guru harus dapat mengatur lingkung untuk membantu perkembangan siswa dengan baik. 2) ledakan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecenderungan setiap orang tidak meungkin dapat menguasai setiap cabang ilmu.3) perkembangan teknologi khususnya teknologi, memungkinkan setiap orang bisa mendapatkan ilmu pengetahuan di mana dan kapan pun. 4) penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah laku.

Terdapat beberapa karakteristik dari konsep mengajar sebagai proses mengatur lingkungan.

a)    Mengajar berpusat pada siswa (student centered)

Mengajar tidak ditentukan oleh selera guru, akan tetapi sangat ditentukan oleh siswa. Guru berfungsi sebagi fasilitator dan siswa tidak dianggap objek belajar.

b)    Siswa sebagai subjek belajar

Siswa tidak dianggap sebagai organisme yang pasif tetapi dipandang sebagai organism yang aktif, yang memiliki potensi berkembang.

c)    Proses pembelajaran berlangsung di mana saja

Kelas bukan satustunya tempat belajar siswa. Siswa dapat memanfaatkan berbagai tempat belajar sesuai dengan kebutuhandan sifat materi pelajarn

d)    Pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan

Perubahan tingkah laku merupakan tujuan pembelajaran bukan hanya penguasaan materi. Oleh karena itu, penguasaan materi bukanlah akhir dari proses pengajaran tetapi hanya tujuan antara untuk pembentukan tingkah laku yang lebih luas.

  1. B.   Mengajar dan Pembelajaran

Pembelajaran dimaknai bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi juga dimaknai sebagai proses mengatur lungkungan.Dalam pembelajaran tampak jelas bahwa istilah pembelajaran itu menunjukkan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru. Bruce Weil (1980) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran semacam ini. Pertama, proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif. Kedua, berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari. Ada tipe pengetahuan fisik, sosial, dan logika. Ketiga, dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial. Anak akan lebih mempelajari pengetahuan logika dan sosial dari temannya sendiri.

Pembelajaran harus diarahkan agar siswa mampu mengatasi setiap tantangan dan rintangan dalam kehidupan yang cepat berubah, melalui sejumlah kompetensi yang harus dimilki, yang meliputi, kompetensi akademik, kompetensi okupasial, kompetensi kultural, dan kompetensi temporal. Itulah sebabnya, makna belajar bukan hanya mendorong anak agar mampu menguasai sejumlah materi pelajaran akan tetapi bagaimana agar anak itu memiliki sejumlah kompetensi untuk mampu menghadapi rintangan yang muncul sesuai dengan perubahan pola kehidupan masyarakat.

Makna pembelajaran  ditunjukkan oleh beberapa ciri sebagai berikut:

  1. Pembelajaran adalah proses berpikir.

Belajar  menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dengan lingkungan. Asumsi yang mendasari pembelajaran berpikir adalah bahwa pengetahuan itu tidak datang dari luar, akan tetapi dibentuk oleh individu itu sendiri dalam struktur kognitif yang dimilikinya. La Costa (1985) mengklasifikasikan mengajar berpikir menjadi tiga yakni, teaching of thinking, adalah proses pembelajaran yang diarahkan untuk pembentukan keterampilan berpikir kritis , berpikir kreatif, dan sebgainya. Teaching for thinking, proses pembelajaran yang diarahkan pada usaha menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong terhadap pengembangan kognitif. Teaching about thinking, pembelajaran yang diarahkan untuk membantu siswa lebih sadar terhadap proses berpikinya (metodologinya)

  1. Proses Pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak

Otak manusia terdiri dari dua bagian otak kiri dan otak kanan. Proses berpikir otak kiri bersifat logis, skuensial, linier, dan rasional sedangkan ota kanan bersifat noverbal, kesadaran spasial, pengenalan, bentuk, seni, kerativitas, dan visualisasi. Keduabelahan otak tersebut pellu dikembangkan secara seimbang dan optimal.

  1. Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat

Belajar adalah proses yang terus menerus, yang tidak pernah berhenti dan tidak terbatas pada dniding kelas. Prinsip belajar sepanjang hayat  sejalan dengan empat pilar pendidikan universal. 1) Learnig to know atau Learning to learn, belajar itu pada dasarnya tidak dapat berorientasi pada produk atau hasil, akan tetapi juga berorientasi pada pada proses belajar. Dalam proses belajar siswa bukan hanya sadar akan apa yang harus dipelajari akan tetapi juga memilki kesadaran dan kemampuan bagaiman cara mempelajari yang harus dipelajari. 2) Learning to do, belajar itu bukan hanya sekedar mendengar dan melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan akan tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi. 3) Learning to be, belajar adalah membentuk manusia yang ‘menjadi dirinya sendiri” dengan kata lain belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu yang memilki tanggung jawab sebagai manusia. 4) Learning to live together adalah belajar untuk bekerja sama. Dalam kontek ini termasuk juga pembentukan masyarakat demokratis yang memahami dan menyadari akan adanya setiap perbedaan pandangan antara individu.

  1. C.   Prinsip mengajar
    1. Berorientasi pada tujuan, segala aktivitas guru dan siswa mesti diupayakan untuk mencapai tujuan yang akan dicapai. Keberhasilan strategi pembelajaran ditentukan keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.
    2. Aktivitas, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa , baik aktivitas fisik maupun psikis.
    3. Individualistas, mengajar adalah usaha untuk mengembangkan setiap individu siswa walaupun kita mengajar pada sekolompok siswa.
    4. Integritas, mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi siswa. Jadi, tidak saja mengembangkan aspek kognitif saja, melainkan aspek afektif dan psikomotor.
    5. Interaktif, mengajar bukan hanya menyampaikan pengetahuan melainkan dianggap sebagai mengatur lingkungan yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
    6. Inspiratif, proses pembelajaran harus dapat memungkinkan siswa untuk mencoba dan melakukan sesuatu. Oleh karena itu, guru mesti membuka berbagi kemungkinan yang dapat dikerjakan siswa.
    7. Menyenangkan, proses pembelajaran adalah proses yang dapat mengembangkan seluruh potensi siswa.
    8. Menantang, proses yang menantang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir , yakni merangsang kerja otak secara maksimal.
    9. Motivasi, dorongan yang memungkinkan siswa untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Motivasi bisa tumbuh karena merasa membutuhkan. Guru harus dapat membangkitkan motivasi belajar sehingga belajar menjadi kebutuhan bagi siswa.
  1. D.   Makna Belajar
  2. 1.    Belajar sebagai Proses Perubahn Tingkah Laku

Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan muculnya perubahan tingkah laku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi  individu dengan lingkungan yang disadari.Belajar pada dasarnya adalah suatu proses aktivitas mental seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat positif baik perubahan baik perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun psikomotor.

Tidak semua perubahan tingkah laku adalah hasil belajar. Ada banyak faktor yang menyebabkan perubahan tingkah laku diantaranya. 1) pengaruh tinngkah laku karena pengaruh obat. 2) Perubahan prilaku karena kematangan. 3) perubahn tingkah laku Karena penyakit. 4) perubahan tingkah laku karena pertumbuhan jasmani.

Belajar dilakukan secara sadar. Tanpa kesadaran tidak mungkin apa yang dipelajari dapat dikuasai. Namun demikian untu belajar tentang sikap bisa saja dilakukan tanpa kesadaran tetapi kebiasaan.

  1. 2.    Bentuk dan Hasil Perbuatan Belajar

Menurut Gagne sebagai  suatu proses ada delapan tipe perbuatan belajar yaitu.

  1. Belajar signal, memberikan reaksi terhadap perangsang.
  2. Belajar mereaksi perangsang melalui penguatan, yaitu memberikan reaksi yang berulang-ulang manakala terjadi reinforcement atau penguatan.
  3. Belajar membentuk rangkaian, yaitu belajar menghubung-hubungkan gejala atau faktor  yang satu dengan yang lain sehingga menjadi satu kesatuan yang berarti.
  4. Belajar asosiasi verbal, memberikan reaksi dalam bentuk kata-kata, bahasa.
  5. Belajar membedakan hal yang majemuk 
  6. Belajar konsep menempatkan objek menjadi klasifikasi tertentu.
  7. Belajar kaidah atau prinsip, menghubung-hubungkan beberapa konsep.
  8. Belajar memecahkan masalah, menggabungkan beberapa kaidah atau prinsip untuk memecahkan persoalan.

Kedelapan tipe belajar di atas tersusun secara hiearki, yang memberi petunjuk bagaimana perbuatan belajar dilakukan atau bagaimana terjadinya perbuata belajar.

Berkenaan dengan hasil belajar Gagne mengemukan ada lima jenis tipe hasil belajar yakni;

  1. Belajar kemahiran intelektual (kognitif), ada tiga tipe yaitu belajar mebedakan atau diskriminasi, belajar konsep, dan belajar kaidah.
  2. Belajar informasi verbal, belajar menyerap atau mendapatkan, menyimpan dan mengkomunikasikan beberapa informasi dari berbagai sumber
  3. Belajar meagatur kegiatan intelektual, adalah belajar untuk memecahkan masalah dengan memanfaatkan konsep dan kaidah yang telah dimilkiya
  4. Belajar sikap, hasil belajar sikap tampak dalam bentuk kemauan, minat, perhatian, dan perubahn perasaan.
  5. Belajar keterampilan motorik, berhubungan dengan kesanggupan atau kemampuan sesorang dalam menggunakan anggota badan.

 

  1. E.    Teori-teori Belajar

Banyak teori belajar  yang membahas tentang terjadinya tingkah laku. Setiap teori berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia, yaitu pandangan hakikat  manusia menurut John locke  da Leibnitz. Menurut John Locke, manusia merupakan orgnisme pasif. Manusia bagaikan kertas putih. John locke terkenal dengan teori tabularasanya. Dari pandangan ini aliran belajar behavioristik-elemtaristik. Sedangkan Leibnitz, menganggap manusia adalah organime aktif. Manusia merupakan sumber dari semua kegiatan belajar. Pandangan ini melahirkan aliran belajar kognitif-holistik.

Tabel 9.1

Perbedaan Aliran Behavioristik dan Kognitif

Teori Belajar Behavioristik

Teori Belajar Kognitif

  • mementingkan pengaruh lingkungan
  • mementingkan bagian-bagian
  • mengutamakan peranan reaksi
  • hasil belajar terbentuk secara mekanis
  • dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu
  • mementingkan pembentukan kebiasaan
  • memecahkan masalah dilakuak n dengan “trial and error”
    • mementingkan apa yang ada dalam diri
    • mementingkan keseluruhan
  • mengutamakan fungsi kognitif
  • terjadinya keseimbangan dalam diri
  • tergantung pada kondisi saat ini
  • mementingkan terbentuknya struktur kognitif
  • memecahkan masalah didasarkan kepasa “insight”
  1. a.    Beberapa Teori Belajar Behavioritik

1)    Belajar Koneksionisme (Thorndike)

Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus-respon sebanyak-banyaknya. Hukum-hukum belajar koneksionisme adalah. a) Hukum kesiapan (law of readiness), hubungan stimulus respon akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri siswa.2) Hukum latihan (law of exercise), kuat dan lemahnya hubungan stimulus respon karena latihan dan diulang.3) hokum akibat (law of efek), kuat lemahnya hubungan stimulus respon tergantung kepada akibat yang ditimbulkannya.

2)      Teori Belajar Classical conditioning (Palvov dan Watson), belajar atau pembentukan prilaku perlu dibantu dengan kondisi tertentu. Untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkodisian tertentu

3)      Operant Conditioning (Skinner), respon yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Untuk membentuk tingkah laku tertentu perlu diurutkan atau dipecah-pecah menjadi bagia-bagian atau komponen tingkah laku yang spesifik dan perlu diberikan hadiah setiap respon yang ditimbulkan.

b.Teori-teori Kognitif

1)      Teori Gestalt (Koffka Kohler dan Wertheimer)

Belajar adalah proses mengembangkan insight, Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antarbagian di dalam situasi permasalahan. Teori ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut.: a) Kemampuan insight seseorang tergantung pada kemampuan dasar orang tersebut. b) Insight dipengaruhi atau tergantung kepada pengalaman masa lalunya yang relevan. c) Pengertian merupakan inti dari insight. d) Apabila insight telah diperoleh maka dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dan situasi lain

Beberapa prinsip penerapan teori Gestalt menurut (Nasution, 1982) yaitu: a) Belajar itu berdasarkan keseluruhan, pembelajaarn bukanlah berangkat dari fakta-fakta, tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. b) Anak yang belajar merupakan keseluruhan, tidak hanya mengembangkan intelektual saja tetapi pribadi anak seutuhnya. c) Belajar berkat insight, belajar itu dapat terjadi manakala dihadapkan pada suatu persoalan yang harus dipecahkan.d) Belajar berdasarkan pengalaman, belajar merupakan reorganisasi pengalaman-pengalaman masa lalu yang secara terus-menerus disempurnakan

2)    Teori Medan

Belajar adalah pemecahan masalah. Beberapa hal yang berkaitan dengan proses pemecahan masalah menurut Lewin dalam belajar adalah:

a)      Belajar adalah perubahan struktur kognitif. Setiap orang akan dapat memecahkan masalah manakala ia mengubah struktur kognitif.

b)      Pentingnya motivasi, motivasi adalah faktor yang dapat mendorong setiap individu untuk berprilaku. Motivasi muncul karena adanya daya tarik tertentu.

3)    Teori Konstruktivistik

Belajar bukanlah sekedar menghafal tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Piaget menjelaskan bagaimana mengkontsruksi pengetahuan oleh subjek belajar sebagai berikut. Pembelajaran dimuali dari struktur kognitif atau skema. Skema yang sudah terbentuk disempurnakan melalui pengalaman barunya sehingga terbentuk asimilasi dan akomodasi.

Pada suatu hari anak merasa sakit karena terpecik api maka terbentuklah skema berdasarkan pengalamannya tenatang api sesuatu yang membahayakan dan harus dihindari. Pada suatu saat anak itu melihat ibu memakai pakai api. Kemudian melihat ayahnya merokok mengguanakan api, maka skema yang telah terbentuk disempurnaakan bahwa api bukan harus dihindari akan tetatpi bisa dimanfaatkan.

Bab 10

FAKOR PSIKOLOGIS DALAM PEMBELAJARAN

  1. A.     Motivasi

Keberhasilan belajar siswa dapat ditentukan oleh motivasi belajar yang  belajar yang dimilikinya.  Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi cenderung prestasinya tinggi begitu sebaliknya. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang tetapi karena kurang mempunyai motivasi belajar. Oleh karena itu, pendidikan modern memandang motivasi sebagi sesuatu yang sangat penting.

  1. 1.    Penegertian dan Fungsi Motivasi

 

  1. a.      Pengertian Motivasi

Motivasi adalah dorongan yang dapat menimbulkan prilaku tertentu yang terarah kepada pencapain suatu tujuan tertentu. Hilgard mengatakan bahwa motivasi adalah suatu keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang menyebabkan seseorang melakukan kegiatan  tertentu untuk mencapai tujuan.  Jadi, dengan demikian motivasi muncul dari dalam diri seseorang karena dorongan  untuk mencapai tujuan dari uraian tersebut telihat bahwa motivasi erat hubungannya dengan kebutuhan sebab memang motivasi muncul karena kebutuhan.

  1. b.      Fungsi Motivasi

1)      Mendorong siswa untuk beraktivitas, besar kecilnya semangat seseorang untuk beraktivitas ditentuk oleh besar kecilnya motivasi orang yang bersangkutan.

2)      Motivasi berfungsi sebagai pengarah, tingkah laku yang ditunjukkan setiap individu pada dasarnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhannya atau pun untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

  1. 2.    Motivasi dan Kebutuhan

           Motivasi muncul karena kebutuhan. Oleh karena itu, kebutuhan adalah sumber motivasi Lalu bagaiman kebutuhan dapat mendorong aktivitas. Morgan menjelaskan tentang kebutuhan-kebutuhan siswa sebagi pendorong aktivitas sebagai berikut:

  1. Kebutuhan diri sendiri sebagai Pengerak Kegiatan itu Sendiri.

Menciptakan suasana yang menyenangkan sesuai dengan taraf perkembangan siswa merupakan sesuatu yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar. Apalagi kegembiraan dan tindakkannya diciptakan sendiri.

  1. Kebutuhan karena orang lain

Adakaalnya aktivitias sesorang bukan karena diri sendiri akan tetapi karena kebutuhan untuk memuaskan orang lain (harga diri atau mendapat pengharagaan orang lain)

  1. Kebutuhan untuk mencapai hasil

Keberhasilan yang dicapai akan memunculakn kepuasan. Kepuasan dapat mendorong untuk lebih giat lagi belajar atau bekerja.

  1. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan

Kesulitan dapat mendorong /memotivasi orang untuk mengatasinya . Apalagi,  kalau ada faktor lingkungan yang mendukungnya.

  1. 3.    Jenis-jenis Motivasi

Pembagian motivasi dapat dilihat dari perspektif kebutuhan dan perspektif fungsional, serta dari sifatnya.

  1. Perspektif Kebutuhan

Menurut Maslow terdapat tingkatan-tingkatan kebutuhan manusia

1)     Kebutuhan fisiologis, yakni kebutuhan dasar yang harus terpenuhi sebelum kebutuhan-kebutuhan yang lain terpenuhi.

2)     Kebutuhan akan keamanan, kebutuhan rasa terlindungi, bebas dari rasa takut

3)     Kebutuhan sosial, kebutuhan akan cinta kasih seperti diterima oleh kelompok

4)    Kebutuhan menjadi dirinya sendiri, yaitu kebutuhan beprestise yang erat hubungannya denagn pengembangan bakat dan minat.

  1. Perspektif fungsional

Motivasi yang didasarkan kepada insentif adalah motivasi yang muncul karena adanya tujuan nyata. Mialnya karena mendapat hadiah.

  1. Sifat Motivasi

Ada dua sifat motivasi. Pertama, motivasi intrinsik, motivasi yang muncu dari dalam individu. Kedua motivasi ekstrinsik, motivasi yang muncul dari luar idividu. Dalam proses pembelajarn motivasi intrinsik  sulit untuk diciptakan. Yang mungkin dapat dilakukan adalah mengembangkan motivasi ekstrinsik. Menurut umar Hamalik (1995) muncul faktor yaitu: tingkat kecerdasan siswa,  sikap guru terhadap kelas, pengaruh kelompok siswa, dan sussana kelas.

  1. 4.    Kepuasan dan Motivasi

           Terdapat hubungan yang erat antar kepuasan seseorang yang dicapai dengan motivasi. Semakin orang merasa puas dengan pencapaiannya semakin tinggi motivasi seseorang untuk berprilku sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.Terdapat beberapa kondisi yang dapat dilakukan untuk memberikan kepuasan pada siswa yang dapat mendorong berprilaku baik yakni; a) imbalan hadiah, b) rasa aman dalam belajar, c) situasi lingkungna belajar yang mendukung, d) adanya kesempatan untuk mengembangkan diri

  1. 5.    Prinsip-prinsip Motivasi Belajar

Dari hasiil penelitian Kennetth H. Hoover (Oemar Hamali, 1995) mengumakan sejumlah prinsip sebagai berikut: a) Pujian lebih efektif daripada hukuman. b) Siswa memiliki kebutuhan psikologis yang bersifat mendasar yang perlu mendapat kepuasan.c) Motivasi intrinisik lebih efektif daripada motivasi ekstrinsik.d) respon-repon  atau tindakan tindakan yang sesuai dengan tujuan perlu diberikan penguatan. e) motivasi mudah menular kepada orang lain. f) Pemahaman siswa terhadap tujuan pembelajaran dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. g) Minat siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan oleh diri sendiri, akan lebih besar dibandingkan dengan tugas yang dibebankan orang lain. h) penghargaan dapat meningkatkan motivasi belajar. i ) Strategi pembelajaran yang bervariasi dapat meningkatkan motivasi belajar.j) Minat khusus siswa akan sangat bermanfaat apabila  dihubungkan dengan materi pelajaran. k) Guru perlu memperhatikan  kondisi siswa dalam mengembangkan berbagi teknik untuk merangsang minat belajar. l) Prustasi dan kecemasan dapat dimanfaatakn untuk meningkatkan efektivitas belajar. m) keadaan psikologi yang serius menyebakan kesulitan siswa untuk belajar. n)Tugas yang terlalu sulit menyebabkan anak prustasi.  o) Setiap siswa memilki kadar emosi yang berbeda.  p) pengaruh kelompok sebaya lebih efektif  daripada orang dewasa. q) Motivasi berhubungan dengan peningkatan kreativitas.

  1. 6.    Upaya Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa

           Di bawah ini beberapa petunjuk untuk membangkitkan motivasi belajar siswa:

  1. Memperjelas tujuan yang diinginkan dicapai, tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham kearah mana ia ingin dibawah. Pemahanan tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan motivasi  siswa
  2. Membangkitkan minat siswa,  cara yang dapat dilakukan untuk membangkitkan minat siswa diantaranya: 1) hubungkan bahan pelajaran dengan kebutuhan siswa. 2) Sesuaikan materi dengan tingkat pengalaman dan kemampuan siswa. 3) Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi.
  3. Menciptakan suasana yang menyenangkan, usahakan  agar kesan selamanya dalam suasana menyenangkan.
  4. Berilah pujian yang wajar terhadap keberhasilan siswa, pujian yang wajar bisa dalam bentuk kata-kata, isyarat, senyuman dll.
  5. Beriakan penilaian, bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar .
  6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa,  penghargaan bisa dengan memberikan komentar yang positif
  7. Ciptakan persaingan dan kerja sama, persaingan dan kerja sama dapat memberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran

.

  1. B.   Pengamatan dan Perhatian
    1. 1.    Pengamatan

           Pengamatan adalah proses pemanfaatan dan penggunaan alat indra yang dimiliki individu untuk mengenal lingkungan. Terjadinya proses pengamatan adalah penerimaan rangsangan dari luar diri individu  melalui alat indra yang dimilikinya; setelah informasi yang dihasilkan dari rangsangan akan diteruskan  ke pusat kesadaran otak, dan pada akhirnya pusat kesadaran itu akan memberikan makna dan tafsiran.

Dalam aktivitas pembelajaran di sekolah, guru harus mampu menciptakan agar dapat melakukan pengamatan sebaik-baiknya agar tidak terjadi kesalahan  dalam menafsirkan pengamatan. Untuk itu, ada beberapa hal yang dapat dilakukan: a) membangun struktur yang jelas dari apa yang harus dipelajari. b) mendekatkan siswa pada bahan yang harus dipelajari. c) menghubungkan aspek yang dipelajari dengan pengalaman siswa. d) dalam memberikan rangsangan mulailah dari hal yang bersifat umum lalu ke hal yang bersifat khusus . e) Sesuaikan bahan pelajaran dengan  tingkat perkembagan siswa. f) Pembelajaran yang dirancang harus disesuaikan gaya belajar siswa. Hindari hal-hal yang mengganggu proes pengamatan.

  1. 2.    Perhatian

           Perhatian dapat  diartikan sebagai aktivitas mental seseorang dalam memberikan makna terhadap sesuatu rangsangan. Dengan demikian intensitas dan kualitas perhatian seseorang dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perhatian adalah: a) kekuatan dan daya tarik rangsangan. b) perubahan dan pergantian rangsangan. Rangsangan yang tidak tetap akan menarik perhatian seseorang. c) keteraturan rangsangan. Rangsangan yang teratur dengan tingkat  dengan kepastian yang tinggi akan mempengaruhi tingkat perhatian seseorang.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perhatian seseorang dilihat dari aspek individu  diantaranya: a) minat seseorang terhadap rangsangan. b) Kondisi fisik setiap individu. c) motivasi setiap individu. d) kebutuhan individu.c) sasaran yang jelas.

Bagi guru, meningkatkan perhatian siswa  bisa dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya dengan: a) Penggunaan variasi suara (teacher voice). b) Pemusatan perhatian (focusing). Kebisuan  guru (Teacher silence).  c) Mengadakan kontak pandang (eye contact). d) Gerak guru (teacher movement). f) Variasi dalam penggunaan media dan alat pembelajaran. g) Variasi dalam berinteraksi.

Bab 11

GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN 

Pencapai standar proses untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat dimuali dari menganalisis setiap komponen yang dapat membentuk dan mempengaruhi proses pembelajaran. Komponen yang sangat mempengaruhi  pendidikan adalah komponen guru.  Hal ini karena  guru merupakan ujung tombak  yang berhubungan langsung dengan siswa. Kurikulum yang ideal, sarana prasaran aynag lengkap tanpa diimbangi kemampuan guru mengimplentasikannya  maka semua kurang bermakna.

  1. A.       MeningkatkanProfesional Guru
    1. 1.    Guru sebagai Jabatan Profesional

Untuk meningkatkan profesional guru  upaya pertama yang harus dilakukan adalah menyakinkan kepada setiap orang khusunya pada setiap guru bahwa guru adalah pekerjaan profesional  dalam rangka pencapaian standar proses pendidikan.

Untuk menyakinkan bahwa guru sebagai pekerjaan profesional mari kita tinjau syarat-syarat  atau cirri pokok dari pekerjaan professional.

  1. Pekerjaan profesianal ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam yang hanya mungkin didapatkan dari lembaga-lembaga  pendidikan yang sesuai.
  2. Suatu profesi menekankan  kepada suatu keahlian dalam bidang tertentu  yang spesifik sesuai dengan profesinya.
  3. Tingkat kemampuan dan keahlian suatu profesi didasarkan kepada latar belakang pendidikan yang dialaminya yang diakui mayarakat.
  4. Suatu profesi selain dibutuhkan oleh masyarakat juga memilki dampak terhadap sosial  kemasyarakatan.
  1. 2.  Mengajar sebagai pekerjaan Profesional

Ciri dan karakteristik dari proses mengajar sebagai tugas utama mengajar adalah:

  1. Mengajar bukanlah hanya menyampaikan materi pelajaran saja, akan tetapi merupakan pekerjaan yang bertujuan dan bersifat kompleks. Oleh karena itu, untuk menjadi guru professional diperlukan latar belakang yang sesuai  yaitu latar belakang pendidikan keguruan.
  2. Tugas seorang guru yang memiliki keahlian yang jelas  adalah mengantarkan siswa kearah tujuan yang diinginkan. Hasil pekerjaan guru tidak langsung dapat dilihat dalam waktu yang singkat. Hasilnya baru dapat dilihat setelah beberapa lama. Mungkin satu generasi. Oleh karena itu, kegagalan guru dalam membelajarkan siswa, berarti kegagalan membentuk generasi manusia.
  3. Seorang guru bukan hanya tahu tentang what to teach, akan tetapi juga paham tentang how to teach.
  4. Semakin tinggi derajat keprofesionalan seseorang, maka semakin tinggi pula penghargaan yang diberikan masyarakat.
  5. Pekerjaan guru bukanlah pekerjaan yang statis tetapi pekerjaan yang dinamis yang selamanya harus sesuai dan menyesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  1. 3.    Kompetensi Profesional Guru

Sebagai suatu profesi, terdapat sejumlah kompentensi yang dimiliki seorang guru yakni:

  1. a.      Kompetensi Pribadi

Guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Oleh karena itu, guru harus memiliki kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan  kepribadian, diantaranya pengalaman ajaran agama, menghargai antarumat beragama, berprilaku sesuai dengan norma, mengembangkan sifat-sifat terpuji, dan bersifat demkratis.

  1. Kompentensi Profesional

Kompetensi ini meliputi  kemampuan menguasai landasan pendidikan, memahami psikologi pendidikan, menguasai materi pelajaran, mampu mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran, terampil merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar, mampu melaksanakan evaluasi pembelajaran, mampu menyusun program pembelajaran, mampu melaksanakan unsur-unsur penunjang, dan mampu melaksanakan penelitian.

  1. c.      Kompetensi Sosial Kemasyarakatan

Kompetensi yang berhubungan denana sosial kemasyarakatan adalah  mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan sejawat, mampu untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan dan mampu untuk menjalin kerja sama.

Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 kompetnsi guru mencakup : 1) Kompetensi pedagogik, meliputi pemahaman wawasan pendidikan, dan  peserta didik, kemampuan mengembangkan kurikulum, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, pemanfaatan teknologi,  melaksanakan evalusi  belajar dan pengembangan pesrta didi. 2)  Kompetensi kepribadian,  sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang mantap, stabil, dewas,arif dan bijaksana, berwibawa, berakhlak mulia, menjadi telada, objektif, dan  mengembangkan diri, 3) Kompetensi sosial sekurang-kurang meliputi mampu berkomunikasi lisan dan/atau tulisa isyarat, menggunakan teknologi informasi secar fungsional, bergaul secara efektif,dan bergaul secar santu .

B. Optimalisai Peran Guru dalam Proses Pembelajaran

Ketika  ilmu pengetahuna masih terbatas, penemuan teknologi belum berkembang seperti sekarang guru berperan sebagi sumber belajar. Setelah kemajuan teknologi guru tetap berperan  walaupun sepesat apapu teknologi tetap saja tidak bisa menggantikan peran guru. Berikut adalah beberapa peran guru

  1. 1.    Guru sebagi Sumber Belajar

Sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran hendaknya guru melakukan hal-hal sebagai berikut: a) Guru selalu mengembangkan wawasan ilmu nya melalui berbagai car agar tidak ketynggalan. b) Guru menunjukan sumber belajar  yang dapat dipelajari siswa yang memilki kecapatan belajr di atas rata-rat. c) Guru melakukan pemetaan materi pelajaran

  1. 2.    Guru sebagi Fasilitator

Ada beberapa hal yang harus dipahami oleh guru sebagai fasilitator yang berhubungan dengan pemanfaatan budaya. a) Guru perlu memahami berbagi jenis media dan sumber belajar. b) guru perlu memiliki keterampilan dalam merancang sustu media. c) Guru harus mampumengorganisasikan bergbagai media serta dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar. d) Guru dituntut agar memilki kemampuan dalam berkomunikasi.

  1. 3.    Guru sebagai Pengelola

Dalam hubungannya dengan pengelolaan pembelajaran Alvin C. Eurich menjelaskan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut.a) Segala sesuatu yang dipelajari siswa maka siswa harus mempelajarinya sendiri. b) setiap siswa yang belajar memiliki kecepatan masing-masing.. c) siswa akan belajar lebih banyak jika dia diberi reinforcemet. d) Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti. e) Apabila siswa diberi tanggung jawab maka ia akan lebih termotivasi untuk belajar.

Ada dua kegiatan yang harus dilakukan guru dalam mengelola pembelajarn yaitu meneglola sumber belajar dan melaksanakan peran sebagi suber belajar itu sendiri. sebagi manajer guru memiliki empat fungsi umum yaitu: a) merencanakan tujuan pembelajaran.b) mengorganisakan berbagi sumber belajar. c) memimnpin meliputi memotivasi, mendorong, dan mestimulasi siswa. d)mengawasi segala sesuatu, apakah sudah berfungsi sebagaiman mestinya atau belum dalam rangka pencapaian tujuan.

  1. 4.  Guru sebagai demonstrator

Sebagai demtrator artinya peran untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disamapaikan.

  1. 5.  Guru sebagai pembimbing

Ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh guru dalam membimbing: Pertama, guru harus memahami siswa yang dibimbingnya. Kedua, guru harus terampil merencanakan tujuan kompetensi dan merencanakan proses pembelajarn.

  1. 6.  Guru sebagai Motivator

Beberapa petunjuk untuk mebangkitkan motivasi guru. a. memperjelas tujuan yang ingin dicapai. b. Membangkitkan minat siswa caranya hubungan bahan pelajaran dengan kebutuhan siswa, sesuaikan materi dengan tingkat pengalaman siswa, guanakan berbagai metode dan strategi pembelajaran c. ciptakan susana yang menyenangkan.d. Berilah pujian yang wajar. e, berikan penilaian. f. berikan komentar terhadap hasil pekerjaan siswa. g. Ciptakan persaingan dan kerja sama

  1. 7.  Guru sebagai Evaluator

Terdapat dua fungsi guru dalam memerankan perannya sebagai evaluator. Pertama, menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan. Untuk menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang duprogramkan.

 

 

 

Bab 12

STRATEGI PEMBELAJARAN

  1. A.   Konsep Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai  tujuan pendidikan tertentu.  Dari pengertian di atas ada hal yang perlu diperhatikan yaitu  strategi merupakan rencana tindakan dan strategi disusun untuk mencapai tujuan.

  1. B.     Pertimbangan dalam Mengambangkan Strategi Pembelajaran
    1. 1.    Pertimbangan yang berhubungan dengan Tujuan yang ingin dicapai

Semakin kompleks tujuan yang ingin dicapai maka semakin rumit maka semakin rumit juga strategi yang harus dirancang. Pertanyaan yang dapat diajukan sehubungan dengan tujuan pembelajaran adalah: a. Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan aspek kognitif, afektif atau psikomotor? Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, apakah tingkat tinggi atau rendah. Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademis?

  1. 2.    Pertimbangan yang Berhubungan dengan Bahan atau Materi Pembelajaran

Materi pelajaran yang berupa fakta, konsep, hukum atau teori tertentu memerlukan rancangan strategi yang berbeda. Karena  ini akan berkaitan dengan apakah untuk mempelajari materi pelajaran itu memerlukan prasyarat tertentu atau tidak? Apakah tersedia buku-buku sumber untuk mempealajari materi itu.

  1. 3.    Pertimbangan dari Sudut Siswa

Beberapa pertanyaan  rancangan strategi  pembelajaran dilihat dari sudut siswa  diantaranya: Apakah strategi pembelajaran sesuai dengan kematangan siswa? Apakah strategi pembelajaran sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi siswa? Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan gaya belajar siswa?

  1. 4.    Pertimbangan- pertimbangan lainnya

Yang dimaksud dengan pertimbangan lainnya  adalah pertimbangan  ditinjau dari strategi itu sendiri sebab begitu banyak strategi yang kita pilih untuk membelajarkan siswa. Beberapa pertanyaan yang dapat kita ajukan  diantaranya: Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu strategi saja? Apakah strategi yang kita tetapkan dianggap satu-satunya strategi yang dapat digunakan? Apakah strategi itu memiliki nilai efektifitas dan efesiensi?

  1. C.     Beberapa Jenis Strategi Pilihan
    1. 1.    Strategi Pembelajaran Ekspositoris (SPE)
      1. a.    Konsep Strategi Pembelajaran Ekspositoris

Strategi pembelajaran ekspositoris  adalah strategi pembelajaran yang menekankan pada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada kelompok siswa  dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi secara optimal.

  1. b.    Prinsip penggunaan SPE
    1. Berorientasi pada tujuan, sebelum strategi ini diterapkan terlebih dahulu guru harus merumuskan tujuan.
    2. Prinsip  komunikasi,  sebagai suatu strategi pembelajaran  yang menekankan pada proses penyampaian, maka prinsip komunikasi sangat penting untuk diperhatikan.
    3. Prinsip kesiapan, dalam teori koneksionisme ‘kesiapan ‘ merupakan  hukum belajar. Oleh karena itu, sebelum kita menyampaikan sesuatu maka  kita yakinkan apakah dalam diri anak  sudah tersedia file yang sesuai dengan jenis informasi yang akan sampaikan atau belum?
    4. Prinsip berkelanjutan, harus dapat mendorong siswa untuk mempelajari materi pelajaran lebih lanjut.
    5. c.    Prosedur SPE

Langkah-langkah Penggunaan SPeadalah;

1)  Persiapan, a) mengajak siswa keluar dari kondisi  mental yang pasif, b) membangkitkan motivasi, minat siswa untuk belajar, c) menggugah rasa ingin tahu siswa, d) menciptakan iklim suasana  dan iklim pembelajaran yang terbuka.

2)    Penyajian, hal yang harus diperhatikan  intonasi dan kontak mata dengan siswa.

3)    Menyimpulkan, tahapan untuk memahami  inti dari materi pelajaran. Cara untuk menyimpulkan pertama mengulang kembali inti-inti materi, kedua dengan cara memberikan pertanyaan yang relevan, ketiga  mapping melalui pemetaan keterkaitan antar materi pokok-pokok materi.

4)    Mengaplikasikan, langkah untuk  kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Teknik yang dapat dilakukan untuk langkah ini adalah  pertama dengan membuat tugas yang relevan, kedua dengan memberikan tes yang sesuai dengan materi pengajaran.

  1. Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
    1. a.    Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Inkuiri

Strategi pembelajaran inkuiri adalah  rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban yang sudah pasti dari suatu masalah yang dipertanyakan.

Ciri pembelajaran inkuiri. Pertama menekankan pada aktivitas siswa untuk mencari dan menemukan. Kedua. seluruh aktivitas diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti. Ketiga. Tujuan dari SPI adalah untuk mengembangkan kemampuan  berpikir secara sistematis, logis, dan kritis.

  1. b.    Prinsip-prinsip Pelaksanaan ( SPI)

SPI strategi yang menekankan kepada pengembangan intelektual anak memiliki prinsip-prinsisp. 1) Berorientasi pada pengembangan intelektual. 2) Berprinsip interaksi. 3) Prinsisp bertanya. 4) Prinsip belajar untuk berpikir. 4) Prinsip keterbukaan

  1. c.    Langkah-langkah Pelaksanaan SPI

1)    Oreitasi, langkah untuk membina suasan atau iklimpembelajarn yang responsif.

2)    Merumuskan masalah, langkah membawwa siswa pada persolan yang mengandung teka-teki.

3)    Merumskan hipotesis, jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji

4)    Mengumpulkan Data, aktivitas menjaring data yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan..

5)    Menguji hipotesis, proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data dan informasi yang diperoleh.

6)    Merumuskan kesimpulan, proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis

 

 

 

  1. 3.    Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)
    1. a.    Konsep Startegi Pembelajaran kooperatif (SPK)

Pembelajaran kooperatif merupakan model  pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan atau tim kecil yang heterogen. SPK meiliki dua komponen utama yaitu, komponen tugas(cooperative task) dan komponen struktur insentif kooperatif (cooperative incentive structure)

  1. b.    Prinsip SPK

1)    Ketergantungan Positif, tugas kelompok tidak mungkin diselesaikan manakala ada anggota yang tidak dapat menyelesaikan tugasnya, dan semua ini memerlukan kerja sama yang baik dari  setiap anggota kelompok.

2)    Tanggung Jawab Perseorangan (individual Interdepence) setiap kelompok harus memberikan yang terbaik untuk kelompoknya.

3)    Interaksi tatap muka, dapat memberikan pengalaman yang berharga untuk setiap anggota kelompok

4)    Partisipasi dan komunikasi, untuk dapat berpatisipasi dan berkomunikasi siswa perlu dibekali dengan kemampuan-kemampuan berkomunikasi.

  1. c.    Langkah-Langkah SPK

1)    Penjelasan materi, menyampakani gambaran umum tentang pokok-pokok materi.

2)    Belajar dalam kelompok. Kelompok harus heterogen. Alasan disukainya kelompok heterogem adalah memberikan kesempatan untuk saling mengajar, meningkatkan relasi dan interaksi dari berbagai perbedaan

3)    Penilaian, penilaai dapat dilakukan dengan tes atau kuis  baik secar individu atau kelompok

4)    Rangkuman Tim, penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau yang berprestasi  untuk kemudian diberikan penghargaan hal ini tentu saja dapat membangkitkan semangat belajar.

Bab 13

INOVASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

  1. A.   Pengertian Inovasi

Inovasi dapat diartikan sebagai sebagai sesuatu yang baru dalam situasi sosial tertentu yang digunakan untuk menjawab atau memecahkan suatu permasalahan. Berdasarkan pengertian tersebut  inovasi kurikulum dan pembelajaran dapat diartikan segai suatu ide, gagasan atau tindakan-tindakan tertentu dalam bidang kurikulum dan pembelajaran yang dianggap baru untuk memecahkan masalah pendidikan.

B. Masalah Pendidikan sebagai sumber Inovasi

  1. Masalah Relevansi Pendidkan

Yang dimkaksud dengan relevansi adalah kesesuaian antaar kenyataan atau pelaksanaan dengan tuntutan dan harapan. Dalam konteks pendidikan relevansi adala kesesuaian  antara pelaksanaan dan hasil pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Masalah relevansi adat tiga sisi. Pertama, relevansi pendidikan dengan lingkungan hidup siswa, artinya apa yag diberikan kepada siswa harus sesuai dengan tuntutan masyarakat tempat tinggal siswa. Kedua, relevansi pendidikan dengan tuntutan kehidupan siswa baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang. Ketiga, relevansi pendidikan dengan tuntutan dunia kerja. Relevansi ini memiliki arti bahwa sekolah memilki tanggung jawab untuk mempersiapkan siswa keterampilan yang sesuai dengan dunia kerja.

  1. 2.    Masalah kualitas Pendidikan

Rendahnya kualitas pendidikan juga  dianggap sebagai masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita. Rendahnya kualitas pendidikan dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, dari sisi proses pendidikan, adanya anggapan bahwa selama ini proses pendidikan yang dibangun oleh guru dianggap cenderung terbatas pada penguasaan materi pelejaran  atau bertumpu pada aspek pegembangan kognitif yang rendah yang tidak mampu mengembangkan kreativitas berpikir. Kedua, dari segi hasil rendahnya kualitas pendidikan dilihat dari meratanya hasil Ujian Nasional.

  1. 3.    Masalah efektititas dan efesiensi,

Efektivitas berhubungan dengan tingkat keberhasilan pelaksanaan pembelajaran yang didesain oleh guru untuk mencapai tujuan. Dalam skala yang sempit adalah tujuan pembelajaran khusus, dalam skala yang luas adalah tujuan kurikuler, tujuan institusional, dan bahkan tujaun nasional.

Efesiensi berhubungan dengan jumlah biaya, waktu dan tenaga yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, suatu program pembelajaran memlki tingkat efesiensi yang tinggi  manakala dengan jumlah biaya yang minimal dapat menghasilkan atau mencapai tujuan yang maksimal.

  1. 4.    Masalah daya Tampung yang terbatas    

Masalah pendidikan kita adalah masalah daya tampung SLTP yang terbatas. Hal ini disebabkan karena keberhasilan SD inpres yang mengkibatkan meledaknya lulusan SD yang menuntut pemeritah untuk menyediakan fasilitas agar dapat menamlung lulu SD melanjutkan ke SLTP

  1. C.   Difusi dan Keputusan Inovasi

        Difusi adalah proses komunikasi atau saling tukar informasi  tentang suatu bentuk inovasi antar warga masyarakat sasaran sebagai penerima inovasi dengan menggunakan saluran tertentu dalam waktu yang tertentu pula. Ada dua bentuk sistem difusi yaitu difusi sentralisasi dan difusi desntralisasi. Proses difusi dirahkan agar muncul pemahan yang sama tentang inovasi. Proses pencanaan difusi dinamakan desiminasi . Desiminasi diartiakn sebagai proses penyebaran inovasi yang direncanakan , diarahkan secara baik. Keberhasilan penyebaran inovasi tergantung beberapa faktor  yaitu factor biaya, resiko yang muncul sebagi akibat pelaksanaan inovasi, kompleksitas (semakin rumit inovasi semakin sulit diterima), kompablitas, (mudah sulit menerima inovasi tergantung pada  kesesuaian dengan kebutuhan, tingkat pengetahuan, dan kenyakinan masyarakat), tingkat keandalan, keterlibatan, dan kualitas penyuluh. Faktor-fakto tersebut dapat dijadikan sebagai pertimbanagan dalam merumuskan berbagi bentuk inovasi pendidikan.

  1. D.   Hambatan Hambata Inovasi

Ada enam hambatan yang dapat menghambat suatu inovasi yaitu

  1. 1.    Estimasi (perencanaan) yang Tidak Tepat

Kurang tepatnya estimasi disebabkan karena kurang adanya implementasi inovasi, kurang adanya hubungan antara tim dan pelaksana, kurang adanya kesamaan pendapat tentang tujuan, tidak adanya koordinasi antara petugas yang terlibat, dan adanya tekanan dari pihak tertentu.

  1. Konflik dan motivasI

Konflik sering terjadi saat proses pelaksanaan inovasi. Motivasi lemah dari orang-orang yang terlibat.

  1. 3.    Inovasi tidak berkembang

Beberapa faktor yang menyebabkan tidak berkembangnya inovasi yaitu, faktor geografi, , komunikasi, transfortasi, ikilm dan cuaca dll.

  1. 4.    Masalah Finansial

Keberhasilan inovasi sangat ditentukan oleh dana yang tidak memadai.

  1. 5.    Penolakan dari kelompk tertentu.

Penolakan sering terjadi dari kelompok tradisional dan konsevatif.

  1. 6.    Kurang adanya hubungan sosial

Kurang adanya hubungan sosial yang baik antara berbagai pihak khusunya antar anggota tim, sehingga terjadi ketidakharmonisan dalam bekerja.

  1. E.    Beberapa Jenis Inovasi dalam Kurikulum dan Pembelajaran
    1. 1.    Pemberlakuan Kurikulum tingkat satuan pelajaran (KTSP)
    2. 2.    Penyelenggaraan Sekolah Lanjutan Pertama terbuka  (SLTPT)
    3. 3.    Pengajaran melalu modul
    4. 4.    Pembelajarn melalui komputer.

 

Bab 14

EVALUASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

  1. A.   Evaluasi dan Pengukuran
  2. 1.    Makna Evaluasi dan Pengukuran

Guba dan Lincoln mendefinisikan evaluasi sebagai  suatu proses memberikan petimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan. Sesuatu itu bisa berupa benda, orang, keadaan.  Berdasarkan pengertian tersebut terdapat dua yang menjadi karakteristik evaluasi . Pertama, evaluasi merupakan suatu proses, dalam  evaluasi mestinya terdiri dari berbagai macam tindakan yang  harus dilakukan

Pengukuran berbeda dengan evaluasi. Pengukuran pada umumnya berkenaan dengan masalah kuantitatif untuk mendapatkan informasi yang dapat diukur. Evaluasi akan lebih tepat manakala didahului oleh pengukuran. Sebaliknya pengukuran tidak akan berarti apa-apa jika tidak dikaitkan dengan proses evaluasi. Tes adalah bagian dari pengukuran dan pengukuran adalah bagian dari evaluasi

Antara evaluasi, assessment, dan measurement memilki keterkaitan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Bahkan ketiganya merupakan suatu proses pengambilan keputusan. Seperti gambar 14.2 beriku ini

EVALUASI

(Judgement)

 

 

 

 

 

 

MEASUREMENT

(Data Collection)

Gambar 14.2

Prases Evaluasi

Dari gambar di atas pengambilan  keputusan berupa evaluasi, harus dimulai dari pengumpulan data (measurement), manakala data sudah terkumpul kemudian dilakukan interpretasi data (assessment) berdasarkan interpretasi itu selanjuntya dilakukan evaluas

  1. 2.    Fungsi Evaluasi
    1. 1.    Alat yang penting sebagai unpan balik siswa
    2. 2.    Untuk mengetahui ketercapaian siswa dalam menguasai tujuan
    3. 3.    Memberikan informasi untuk mengembangkan kurikulum
    4. 4.    Digunakan oleh siswa secara individual dalam menganbil keputusan khusunya untuk menentukan masa depan
    5. 5.    Bagi pengembang kurikulum berguna untuk menentukan kejelasan tujuan khusus yang ingin dicapai.
    6. 6.    Sebagai umpan balik semua pihak yang berkepentingan dengan pendidkan di sekolah.

 

  1. B.   Evaluasi Kurikulum
    1. 1.    Makna Evaluasi Kurikulum

Evaluasi kurikulum adalah suatu proses mempertimbangkan untuk member nilai dan arti terhadap suatu kurikulum tertentu. Pertimbangann nilai adalah pertimbangan  yang ada dalam kurikulum itu sendiri.  Misalnya evaluator menilai apakah kurikulum  yang dinilai itu  dapat dimengerti olah guru. dinilai Konsep arti berhubungan denagn kebernmaknaan suaru kurikulum.Misalnya, apakah kurikulum tersebut memberikan  arti untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa.

  1. 2.    Ruang Lingkup Evaluasi Kurikulum

Evaluasi kurikulum mencakup dua sisi

  1. Evaluasi Kurikulum sebagi Suatu Program atau Dokumen

1)  Evaluasi Tujuan Pendidikan meliputi apakah untuk mencapai tujuan sekolah?, Apakah tujua itu mudah dipahami guru? Apakah tujuan yang tertera dalam dokumen kurikulun sudah  sesuai dengan tingkat perkembana siswa.,

2)    Evaluasi terhadap isi /materi kurikulm meliputi apakah isi kurikulum sesuai atau mendukung pencapaian tujuan, apakah isi kurikulum sesuai denngan pandangan dan penemuan mtakhir? Apakah isi kurikulum sudah sesuai dengan pengalaman dan karakteristik lingkungan di mana anak tinggal?Apakah urutan kurikulum sesuai dengankarakteristik isi / materi kurikulum.

3)     Evaluasi terhadap Strategi Pembelajaran, meliputi apakah strategi yang dipilih dapat mendukung keberhasilan pencapai tujuan ? Apakah strategi dapat mendorong aktivita? Bagaimana keterbacaan guru terhadap pedoman pelksanaan strategi pembelajaran?Apakah strategi pebelajaran yang dirumuskan dapat mendorong kreativitas guru? Apakah strategi pembelajaran sudah seuai dengan tingkat perkembangan siswa?Apakah strategi yang dikembangkan sudah sesuai dengan alokasi waktu yang ada?

4)    Evaluasi terhadap Program penilaian beberapa kriteri yang dapat dijadikan kriteria Apakah program evaluasi sesua dengan tujuan ? Apakah evaluasi dipogramkan untuk mencapai fungsi evaluasi baik formatif maupun sumatif? Apakah program evaluasi mudah dibaca guru?Apakah program evaluasi mencakup semua aspek perubahan prilaku?

  1. b.    Evaluasi Pembelajaran sebagai Implementasi Kurikulum

Beberap kriteria yang dapat diajukan untuk menilai implementasi kurikulum adalah: 1) Apakah implementasi yang dilaksanakan sesuai dengan program yang direncankan? Sejauh mana siswa dapat berpartisipasi aktif  dalam proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai?

  1. C.   Evaluasi  Berbasis Kelas
    1. Pengertian Penilaian berbasis kelas merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran  yang dilakukan sebagai proses pengumpulan  dan pemanfaatan informai yang n menyeluruh yang  tenatang hasil belajar yang diperoleh siswa  untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan kompetensi seperti yang diteapkan kurikulum dan sebagai unpan balik untuk perbaikan prose pembelajarn. Ada karakteristi penilaian berbasis kelas. Pertama, merupakan bagian integral dalam proses pembelajara. Kedua, merupakan proses pengumpulan informasi yang menyeluruh. Ketiga, hasil pengumpulandata digunakan untuk menetukan tingkat penguasaan kompetensi. Keempat, pengumpulaninformasi digunakan untuk meningkatkanhasil belajar.
  1. 2.    Prinsip-prinsip Penilaian Berbasis Kelas
    1. a.    Motivasi

Penilaian tidak semata-mata untuk memberikan angka sebagai hasil proses pengukuran akan tetapi apa arti angka yang telah dicapai itu. Pemahaman terhadap angka diharapkan dapat memotivasi untuk melaksanakan proses belajar lebih baik lagi.

  1. b.    Validitas

Penilaian harus menggambarkan informasi ketercapaian kompetensi sehingga dapat menjamin validitas.

  1. c.    Adil

Setiap siswa harus memiliki kesempat yang sama untuk dievaluasi. Penilaian berbasis kelas menempatkan posisi siswa dalam kesejajaran, dengan demikian setiap siswa memperoleh perlakuan yang sama.

  1. d.    Terbuka

Siswa perlu mengetahui dan memahami jenis dan prosedur penilaain yang akan dilkakuuakn beserta kriteri penilaiannya.

  1. e.    Berkesinambungan

Penialain dilalukan secara terus menerus  dan berkesinambungan.

  1. f.     Bermakna

Penilaian harus memberikan makna bagi guru, siswa, dan orang tua

  1. g.    Menyeluruh

Penilaain harus memberikan informasi secara utuh tentang perkembanagan  kognitif, afektif, dan psikomotor

  1. h.    Edukatif

Penilaian harus memberikan umpan balik untuk meperbaiki proses pembelajaran baik siswa dan  guru secara lebih optimal.

  1. D.   Jenis-jenis Tes
    1. 1.    Tes
      1. a.    Penegertian

Tes adalah teknik penilaian yang biasa digunaakn untuk mengukur kemamppuan siswa dalam pencapaian suatu kompetensi tertentu, memlalui pengolahan secara kuantitatif yang hasilnya berupa angka

  1. b.    Kriteria 

Tes harus memiliki  kriteria validitas artinya tes memiliti tingkat validitas apabila dapat mengukur apa yang hendak diukur. Tes harus memiliki tingkat reabilitas yaitu dapat menhasil hasil tes yang kosisten.

  1. c.    Jenis-jenis tes

1)    Tes berdasarkan jumlah peserta, tes individu dan tes kelompok

2)    Tes standard an tes buatan guru

3)    Tes berdasarkan pelaksanaan, terdiri dari tes tulisan, lisan, dan perbuatan

  1. 2.    Nontes/nuan nukiuny

Nontes adalah alat evaluasi yang biasa digunakan untuk menilai aspek tingkah laku termasuk sikap, minat dan motivasi. Tes ini dianaarnay obsevasi, wawancara, studi kasus, skala sikap.

Bab 15

PENILAIAN PORTOFOLIO

  1. A.   Pengertian

Portofolio dapat diartikan sebagai kumpulan karya siswa yang disusun secara sistematis dan terorganisisi  sebagai hasil dari usaha pembelajaran yang telah dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Penilaian portofolio memiliki beberapa manfaat diantarnya

  1. Dapat memberikan bambaran yang utuh tentang perkembang kemampuan siswa.
  2. Merupakan penilain ayng autentik
  3. Dapat mendorong siswa pada pencapai hasil yang maksimal tanpa mersa tertekan.
  4. Dapat menumbuhkan motivasi belajar. mendorong para orang tua untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran.
  5. Perbedaan Tes dan Potofolio

Untuk melihat perbedaan tes dan portofolio perhatikan table 15.1

TES

PENILAIAN PORTOFOLIO

  1. Tes Biasanya dilakukan untuk menilai kemampuan intelektual siswa melalui penguasaan materi pembelajaran
  2. Penilaian fortopolio menilai seluruh aspek perkembangan siswa baik intelektual, minat, sikap, dan keterampilan
  1. Guru berperan sangat dominan dalam proses penilaian sedangkan siswa berperan sebagai orang yang dinilai
2. Peserta didik terlibat dalam proses penilaian dengan menilai dirinya sendiri mengenai kemampuan beserta dalam perkembanagnnya
  1. Kriteria penilaian ditentukan satu untuk semua
3.Kriteria penilaian ditentukan sesuai   dengan karakteritik siswa
  1. Keputusan berdasarkan penilaian ditentukan sendiri oleh guru
4. Proses penilaian beserta pengambilan keputusan dilakukan dengan cara kolaboratif antar guru,siswa, dan orang tua
  1. Penilaian dilakukan dengan berorientasi pada pencapain hasil belajar
5. Penilain berorientasi pada kemajuan, usaha yang dilakukan siswa termasuk pencapain hasil belajar
  1. Penilaian merupakan kegiatan yang terpisah dari proses pembelajaran
6..Penilaian merupakan bagian integral dari proses pembelajaran
  1. Penilaian melui tes biasanya dilakukan pada akhir program pembelajaran
7.Penilaian portofolio dilakukan selama proses pemebalajaran berlangsung
  1. C.   Prinsip-prinsip Penilaian Portofolio
    1. 1.    Saling percaya, antar guru dan siswa harus saling percaya.
    2. 2.    Keterbukaan, guru harus terbuka terhadap penilaain siswa
    3. Kerahasian, kerahasian dokumen  setiap siswa perlu dijaga
    4. Milik bersama,  guru dan siswa harus merasa bahwa portofolio adalah milik bersama
    5. Kepuasan dan kesesuaian, guru dan siswa  merasa puas manakala kompetensi itu telah tercapai
    6. Budaya pembelajaran, penilain portofolio  harus dapat mengembangkan budaya belajar. Sebab penilaian portofolio itu sendiri mengandung proses pembelajaran
    7. Refleksi, penilaian portofolio harus memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukannya
    8. Berorientasi pada proses dan hasil, penilaian portofolio tidak hanya sekedar menilai hasil akhir yang dimiliki siswa akan tetapi juga menilai proses pembelajaran yang dilakuan siswa.
  1. D.   Keunggulan dan Kelemahan Portofolio

Keunggulan

  1. Dapat menilai   kemampuan siswa secara menyeluruh
  2. Dapat menjamin akuntabilitas
  3. Merupakan penialaian bersifat individu
  4. Merupakan penilaian yang terbuka
  5. 5.    Penilaian portofolio bersifat self evaluation

Kelemahan

  1. Memerlukan waktu dan kerja keras
  2. Memerlukan perubahan cara pandang
  3. Memerlukan perubahan gaya belajar
  4. Memerlukan perubahan sistem pembelajaran
  1. E.    Tahapan Pelaksanaan Portofolio

 

  1. 1.    Menentukan Tujuan

Beberapa hal yang sangat penting sehubungan dengan penetapan tujuan portofolio dijelaskan sebagai berikut

  1. Dengan menggunakan potofolio, apakah tujuannya untuk memantau proses pembelajaran atau untuk mengevaluasi hasil akhir atau mungkin keduanya
  2. Apakah menggunakan portofolio sebagai proses pembelajaran atau sebagai alat penilaian?
  3. Apakan penggunaan potofolio untuk memantau dan perubahan setiap siswa?
  4. Apakah portofolio digunakan untuk menunjukkan proses pembelajaran yang sedang berlangsung kepada phak tertenu?
  1. 2.    Penentuan Isi Portofolio

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan isi portofolio diantaranya:

  1. Apakah potofolio berisikan  eviden siswa dengan pengalaman belajar  yang telah dilakukannya atau hanya  bagian yang dianggap penting.
  2. Apakah portofolgi relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai?
  3. Apakah portofolio  itu berisi evidence siswa yang dikerjakan  sendiri atau hasil kelompok.
  1. 3.    Menentukan Kriteria dan Format Penilaian

Contoh Portofolio Penilaian Pros:es Belajar Siswa

Kompetensi Dasar : Motivasi Belajar Nama :

Tanggal:

MP

Indikator

Kriteria

 12345

  1. Keantusiasan
  1. Partisipasi dalam kegiatan diskusi
  1. Keseriusan

dsts Komentar OrangtuaKomnetar Guru

  1. 4.    Pengamatan dan Penentuan bahan Portofolio

Terdapat beberapa pertimbangan dalam memilih dan menentukan bahan portofolio

  1. Evidence yang dipilih  harus dapat mewakili gambaran kemapuan siswa
  2. Evidence dipilih karena dapat menggambarkan perkembangan perubahan  kemampuan siswa.
  3. Evidence dipili karena keterkesanan siswa
  4. Evidence dipilih karena dilihat dari segi kesesuaian dengan kompetens dim kurikulum
  5. Evdence dilpilih akrena diliha dari kepraktisan dan segi artistk
  6. Menyususn Dokumen Portofolio

Forder Portofolio berisi; a) Identisa siswa. b. Mata Pelajaran. c. daftar isi dokumen. E. Isi dokumen beserta komentar-komentarnya baik guru maupun orang tua

DAFTAR PUSTAKA

Barto,J.,& Collins A. (ed) (1977). Portfolio Assessment : A handbook for Educators. Menlo Park, CA: Addison-Wesley Publishing.

Blosomm, Benjamin S. (1964). Taxonomi of Educational Objectives : Cognitive Domain, New York : David McKay.

Chauhan,S.S. (1979). Innovations in Teaching – Learning Process, New Delhi, Vikas Publishing Hause PVT LTD.

Doll, Ronald C. (1974). Curriculum Improvement, Decision Making and Process. Boston  : Ally and Bacon, Inc.

Dunkin, Michael J. (ed) (1987). The International Encyclopedia of Teaching and Teacher Education, England, Pengamoon Press, Healdington Hill Hall.

Gagne, Robert M. dan Briggs. Leslie J. Principles of Intructional Design. New York : Holt Rinehart & Winston, 1979.

Hamalik, Oemar. Pembinaan dan Pengembangan  Kurikulum, Bandung : Pustaka Martiana, 1981.

Hunkin, E.P. Curriculum Development : Program Improvement, Columbus : Charles E. Merril Pub, 1984.

Jackson, Philip W. (ed.) (1992). Handbook of Research on Curriculum, New York MacMillan Publishing Campany.

Jenkins, D. dan Shipman, M.D. (1976). (1980). Curriculum an Introduction London, Open Books.

Johnson, Mauritz. Intentionality in Education, New York : Centered for Curriculum Research and Service, 1977.

Joyce, B, & Weil, M. Models of Teaching. Englewood Cliffs, New Jersey : Prentice-Hall Inc, 1980.

Killen, Roy, (1998). Effective teaching Strategies, Lesson From research and Practice, Second Edition, Australia, Social Science Press.

Lawton, D. Theory and Practice of Curriculum Studies. London : Routledge & Kegan Paul, 1978.

Lauren and Klopfer (1989). Toward The Thinking Curriculum : Toward Cognitive Research. ASCD Publication.

Longstreet, Wilma S, Shane, Harild G. (1993), Curriculum for New Millenium, Boston, Allyn & Bacon.

Mac Donald, Janess B. (1965). Educational Models for Instruction. Washington DC :The Association for Supervision and Curriculum Development.

McNeil, John D.(1990). Curriculum a Comprehensive Introduction, fourth Edition, London, England,  Foresman/Littlem Brown Higher Education. A Division & Illionois.

Marsh, C. & Stafford, K. Curriculum Practices, Sydney : Mc Graw-Hill book Company, 1988.

Miller, John P. dan Seller, Wayne. Curriculum Persfective and Practice. London : Longman,1985

Nasution S. Kurikulum dan pengajaran, Bandung : Bina Aksara,1989.

Nicholls, A. Managing Educational Innovation. London : George Allen & Unwin, 1978.

Nicholls A & Nicholls A.H. Developing a Curriculum : A Practical Gided. 2nd London : Geogrge Allen & Unwin, 1978.

Novak, J.D.A Theory of Education : Ithaca, New York : Cornel University Press, 1977

Oliva. Peter F. Developing Curriculum, A Guide to Problems, Principles and Process, New York : Harper & Publisher, 1988.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Piaget, J. Psychology and epistemology, New York : The Viking Press, 1971.

Print, Murray (1993). Curriculum Developoment and Design, Sydney : Allen & Unwin,1993.

Sanjaya, Wina. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, (2007)

Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, (2007).

Saylor, J. Galen, Alexander, William M. dan Lewis Arthur J. (1981). Curriculum Planning fo Better Teaching and Learning, Holt-Rinehart and Winston.

Seddon, T. (1983). The Hidden curriculumnan overview: Curriculum Perspective.

Skillbeck, M. (1976). School-Based Curriculum Development and Teacher Education in Open university Cours,E.203, Unit 7. Milton Keyniess : ther open Univercity Press.

Sound and Trowbridge. Teaching Science by Inquiry in the Scondary School. Columbus : Charles E Marvil Publishing Company, (1973).

Subandijah. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Jakarta : Pt Raja Grafindo Persada, (1996).

Suparno, Paul. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan, Jogykarta : Kanisius, (1997).

Surapranata dan Muhammad Hatta. Penilaian Portofolio, Implementasi Kurikulum 004. Bandung : Remaja Rodsdakarya, (2004).

Taba, Hilda. Curriculum Development, Theory and Practice : Foundation Process, Desaign and Strategy For Plannig both Primary and Scondary. New York : Harcourt, Brace & World, Inc, (1962).

Tanner Daniel dan Tanner Laurel N. Curriculum Development. New York : Macmillan Publishing Co. Inc, (1980).

Tierney R.J., M.A. Carter dan L.E. Desai. Portofolio Assesment in the Reading-Writing Classroom. Norwood : Christhoper Gordo Publisher, (1991).

Tyler, Ralph. Basic Priciples for Curriculum and Instruction. Chicago ; University of Chicago Press, 1950.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Wragg, E.C. Teacing Teaching. London : David & Charles, 1974.

Yancey, K.B. Portfolios in the Writing Classroom. Urbania, Illionis : National Council of Teacher of English, 1992.

About nalida24

Seputar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA
This entry was posted in PEMBELAJARAN BAHASA, Uncategorized. Bookmark the permalink.