Seputar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA

BAGIAN I
INOVASI PEMBELAJARAN
APRESIASI PUISI

A.    Selayang Pandang tentang Apresiasi Puisi
Apresiasi dapat diartikan usaha pengenalan suatu nilai terhadap nilai yang lebih tinggi. Apresiasi itu merupakan tanggapan seseorang yang sudah matang dan sudah berkembang ke arah penghayatan nilai yang lebih tinggi sehingga ia mampu melihat dan mengenal nilai dengan tepat dan menanggapinya dengan hangat dan simpati. Berdasarkan pengertian tersebut apresiasi sastra dapat diartikan sebagai pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra yang dapat menimbulkan kegairahan terhadap sastra itu, serta menciptakan kenikmatan yang timbul sebagai akibat semua itu

Sedangkan pengertian puisi ialah jenis sastra yang bentuknya dipilih dan ditata dengan cermat sehingga mampu mempertajam kesadaran orang akan suatu pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat bunyi, irama, dan makna khusus.

Dengan demikian pengertian puisi dapat diartikan sebagai pengenalan dan pemahaman terhadap nilai-nilai karya puisi yang dapat menimbulkan kegairahan terhadap karya puisi, serta menciptakan kenikmatan. . Kenikmatan itu timbul karena pembaca (1) merasa mampu memahami pengalaman orang lain; (2) merasa pengalamannya bertambah sehingga dapat menghadapi kehidupan dengan lebih baik; (3) merasa kagum akan kemampuan sastrawan dalam memberikan, memadukan, dan memperjelas makna terhadap pengalaman yang diolahnya; dan (4) mampu menemukan nilai-nilai estetik dalam karya itu.
Apa yang perlu kita lakukan dalam memahami dan menikmati puisi? Jawaban atas pertanyaan berikut dapat dijadikan salah satu pilihan tuntunan.
1.    Apakah makna atau tema puisi itu?
2.    Bagaimana kesan yang dikandungnya?
3.    Bagaimana nadanya?
4.    Apakah maksud atau tujuannya?
5.    Bagaimana keselaran antara keempat unsur itu ?
6.    Bagaimana diksinya?
7.    Sesuaikah penggunaan kata nyata (the comcrete word)nya?
8.    Tepatkah penggunaan majasnya?
9.    Bagaimana ritme dan rimanya?
10.    Bagaimana hubungan antara hakikat dan metode pendekatan puisi itu?

Jika jawaban atas pertanyaan di atas sudah diperoleh, dapat dikatakan  prinsip kritik sastra di bawah ini sudah terpenuhi.
1.    Apa yang hendak dicapai atau dilakukan sang seniman?
2.    Baik atau pantaskan sang seniman melakukan hal itu?
Sebelum sampai pada taraf penikmatan dan penilaian yang dikemukakan di atas, perlu diupayakan langkah awal berikut.Perlu diusahakan membaca puisi itu dengan suara serta irama yang tepat sehingga isinya dapat dipahami secara jelas.
1.    Perlu diusahakan memahami dan mencari makna serta bentuk kalimat, yang sama sekali lain dari pemakaian biasa, dalam puisi itu.
2.    Perlu diusahakan mengenal dan mengetahui nama orang dan tempat yang terdapat dalam puisi itu.
3.    Perlu diperhatikan dan dipahami satu persatu majas, kiasan, dan konotasi setiap kata dalam puisi.
4.    Perlu diusahakan, jika mungkin, mengetahui saat puisi itu diciptakan dan angkatan (penzamanan) penyairnya.
5.    Perlu diusahakan,jika mungkin, mengetahui  biografi dan falsafah hidup penyair yang melatarbelakangi puisinya.
6.    Perlu dilakukan penceritaan kembali puisi itu dengan kata-kata sendiri

B.    Pembelajaran Apresiasi Puisi pada KTSP
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahasa Indonesia pembelajaran apresiasi puisi  dilakukan pada kegiatan mendengar, membaca, berbicara, dan menulis.  Pada tiap kegiatan terdapat standar kompentesi dan kompetensi dasar masing-masing.
Kompetensi dasar pada  apresiasi puisi  KTSP bahasa Indonesia meliputi kegiatan sebagai berikut:
1.    Mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman.
2.    Mengungkapkan isi suatu puisi yang disampaikan  secara langsung ataupun melalui rekaman
3.    Membacakan puisi  dengan lafal, nada, tekanan, dan intonasi yang tepat
4.    Menulis puisi lama dengan memperhatikan bait, irama, dan rima
5.    Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima
6.    Membahas isi puisi berkenaan dengan gambaran penginderaan, perasaan, pikiran, dan imajinasi melalui  diskusi
7.    Menghubungkan isi puisi dengan realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat melalui  diskusi
8.    Membacakan puisi karya sendiri dengan lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang sesuai
9.    Membahas ciri-ciri dan nilai-nilai yang terkandung dalam gurindam
10.    Menjelaskan keterkaitan gurindam dengan kehidupan sehari-hari

Berdasarkan hal tersebut di atas guru seharusnya tidak  lagi mengajarkan teori-teori sastra pada siswa melainkan siswa langsung diberikan karya sastra untuk diapresiasi. Dengan demikian, standar kompetensi dan kompetensi dasar yang diharapkan dapat tercapai. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas maka guru harus dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat.

Tetapi dalam kenyataannya terdapat banyak masalah yang muncul dalam kegiatan apresiasi puisi di SMA  mulai dari kurangnya minat siswa terhadap apresiasi sastra, bahan pembelajaran yang tidak memadai , media pembelajaran,  metode pembelajaran, kurangnya waktu yang tersedia. Kurangnya inovasi pembelajaran dari guru misalnya  merupakan masalah yang cukup serius karena inovasi pembelajaran puisi  merupakan salah satu kunci untuk  mengatasi masalah kejenuhan siswa dalam belajar.

Selain inovasi guru bahasa Indonesia yang kurang, pembelajaran apresiasi sering kali tidak tampak karena guru mengajar dengan metode  ceramah. Guru cenderung mengajarkan sastra dengan menjabarkan definisi tentang sastra, baik puisi, prosa, ataupun drama. Guru menerapkan metode pembelajaran yang membuat siswa memperoleh pengalaman sastra, misalnya dengan praktik membaca puisi, menulis puisi, bermain peran dan sebagainya

Melalui pembelajaran apresiasi puisi sebenarnya siswa dapat memperoleh pemahaman untuk menghargai manusia dan memahami nilai-nilai kemanusiaan. Mengingat bahwa karya sastra puisi banyak mengandung unsur-unsur sosial manusia dan kemanusiaan.

Berdasarkan latar belakang dan pengalaman pribadi sebagai guru bahasa Indonesia penulis mencoba memberikan beberapa inovasi pembelajaran apresiasi puisi. Inovasi pembelajaran puisi yang akan kami sajikan berdasarkan pengalaman penulis mengajar apresiasi puisi di Sekolah Menengah Atas (SMA) 84 Jakarta. Tentu saja inovasi pembelajaran ini penulis lakukan berdasarkan tujuan dan disesuaikan dengan keterbatasan media pembeljaran yang ada di SMA 84 Jakarta.

C.    Beberapa Inovasi Pembelajaran Apresiasi Puisi
1.    Baca Puisi Serempak
a.    Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar Kelas X/ 1
Standar Kompetensi    : Membaca pemahaman   wacana sastra puisi dan cerpen
Kompetensi Dasar
7.1    Membacakan puisi karya sendiri dengan lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang sesuai

b.    Teknik pembelajaran
Siswa diberi lembar fotokopi puisi, lalu siswa membaca puisi tersebut secara bersama-sama atau secara bergantian tiap bait dengan teman sekelas atau teman sekelompoknya.

c.    Alat yang diperlukan
Lembar fotokopi puisi
Kegiatan dilakukan secara berkelompok

d.    Cara Menerapkan
1)    Guru memberikan penjelasan singkat tetang kegiatan hari itu
2)    Siswa membentuk kelompok
3)    Siswa bereksplorasi tentang membaca puisi secara bersama-sama atau bergantian setiap bait dalam kelompok
4)    Siswa menampilkan  hasil eksplorasinya di depan kelas
5)    Siswa memberikan komentar tentang isi dari puisi itu
6)    Secara serempak, siswa satu kelas membaca bersama-sama
7)    Guru merefleksikan hasil pembelajaran

2.    Baca Puisi Berpasangan
a.     Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar Kelas X/ 1
Standar Kompetensi    : Membaca pemahaman   wacana sastra puisi dan cerpen
Kompetensi Dasar
7.1    Membacakan puisi karya sendiri dengan lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang sesuai

b.    Teknik Pembelajaran
Siswa dibuat  berpasang-pasangan. Secara berpasangan siswa membaca puisi berdasarkan interpretasi yang mereka miliki.
c.    Alat dan Bahan
Fotokopi puisi kegiatan dilakukan secara kelompok

d.    Cara Penerapan
1)    Guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu
2)    Guru membentuk kelompok
3)    Siswa dengan pasangannya
4)     mengidentifikasikan puisi yang telah dipilihnya
5)    Siswa membaca puisi secara bersama-sama atau bergantian tiap bait
6)    Siswa memberikan komentar tentang isi dari puisi itu
7)    Guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.
3.     Mengganti Puisi
a.    Stándar Kompetensi dan Kompetensi Dasar  kelas X/1
Standar Kompetensi    :  Menulis
Mengungkapkan pikiran, dan perasaan  melalui kegiatan menulis  puisi
Kompetensi Dasar
8.1    Menulis puisi lama dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

b.    Teknik Pembelajaran
Siswa mengganti puisi dengan kata-katanya sendiri. Yang diganti tentunya tidak semua persajakannya tetapi beberapa kata yang dipandangnya yang  pantas untuk diubah. Siswa wajib mengubahnya meskipun puisi itu sudah dipandang baik
c.    Alat yang diperlukan
Lembar fotokopi puisi, lembar folio kosong
Kegiatan dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok
d.    Cara Penerapan
1)    Guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu
2)    Guru membagikan lembar fotokopi puisi dan folio kosong
3)    Siswa mengganti sebagaian persajakan (rima dan irama) dengan kata-kata sendiri
4)    Siswa membacakan hasil pekerjaannya di depan kelompok.
5)    Siswa lain memberikan komentar tentang penampilan temannya
6)    Guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.
4.    Menulis Puisi Berdasarkan Objek Langsung
a.    Stándar Kompetensi dan Kompetensi Dasar  kelas X/1
Standar Kompetensi    :  Menulis
Mengungkapkan pikiran, dan perasaan  melalui kegiatan menulis  puisi
Kompetensi Dasar
8.2    Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

b.    Teknik Pembelajaran
Siswa menulis puisi berdasarkan objek langsung yang dilihatnya. Siswa diajak ke luar kelas untuk melihat objek yang mereka senangi kemudian menuliskannya ke dalam bentuk puisi.

c.    Alat yang diperlukan
Lembar folio kosong atau buku kerja, bermacam-macam objek sesuai tema
Kegiatan dilakuakan secara perorangan
d.    Cara menerapkan
1)    Guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu.
2)    Guru mengajak siswa untuk jalan-jalan ke luar kelas dan melihat-lihat lingkungan sekitarnya.
3)    Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membuat puisi berdasarkan objek yang dilihatnya
4)    Siswa mengidentifikasi objek dan menuangkan imajinasinya ke dalam puisi berdasarkan pengamatan terhadap objek
5)    Guru dan siswa kembali ke kelas, siswa membacakan hasil pekerjaannya di depan kelas
6)    Siswa lain memberikan tanggapan tentang penampilan temannya
7)    Guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.
5.    Menulis Puisi Berdasarkan Lamunan
a.    Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar  kelas X/1
Standar Kompetensi    :  Menulis
Mengungkapkan pikiran, dan perasaan  melalui   kegiatan menulis  puisi
Kompetensi Dasar
8.2    Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

b.    Teknik Pembelajaran
Siswa diajak untuk melamunkan sesuatu (tokoh idola, alam, hewan, atau apa saja) kemudian menuliskan dalam bentuk puisi
c.    Alat yang diperlukan
Lembar folio kosong dan buku kerja
Kegiatan dilakukan secara perseorangan
d.    Cara Penerapan
1)    Guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu
2)    Guru mengajak siswa untuk melamun sejenak 5-10 menit tentang sesuatu sesuai dengan tema hari itu (tokoh idola, alam)
3)    Siswa menuliskan hasil lamunannya ke dalam bentuk puisi
4)    Siswa  membaca puisi secara perseorangan di depan kelas
5)    Siswa lain memberikan penilaian tentang penampilan temannya
6)    Guru mereflesikan hasil pembelajaran hari itu.
6.    Meneruskan Puisi
a.    Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar  kelas X/1
Standar Kompetensi    :  Menulis
Mengungkapkan pikiran, dan perasaan  melalui kegiatan menulis    puisi
Kompetensi Dasar
8.2    Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

b.    Teknik Pembelajaran
Siswa diberi lembar puisi yang belum selesai penulisannya. Siswa meneruskan penulisan puisi yang belum selesai tersebut sehingga menjadi sebuah puisi
c.    Alat yang diperlukan
Lembar fotokopi puisi yang belum selesai /dikosongkan
Kegiatan dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok
d.    Cara Penerapan
1)    Guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu
2)    Guru membagikan lembar fotokopi puisi yang belum selesai
3)    Siswa meneruskan puisi tersebut sehingga menjadi puisi yang utuh
4)    Siswa membacakan hasil pekerjaannya di depan kelompok atau kelas
5)    Siswa memberikan komentar tentang isi dari puisi itu
6)    Siswa lain memberikan penilaian tentang penampilan temannya
7)    Guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.
8)    Dengan kegiatan yang sama guru dapat melakukan inovasi lain dengan cara memberiakan puisi yang awalnya dikosongkan untuk diisi oleh siswa.

APRESIASI PUISI

W.S. Rendra

Nyanyian Sahabat
Persahabatan adalah hidup
ia mengalir di darahku
bergetar di nadiku
berirama dengan tiap detak jantung

persahatan adalah kokoh
setegar batu karang
seperti tembok cina
meski raga tumbang
ia akan selalu tegak dalam dada yang memendam langit

nyanyian ini untukmu kawan

untuk setiap gelas yang tak sempat kau teguk
untuk kebahagiaan yang belum lama kau rasakan
dari luka yang yang panjan

nyanyian ini untkmu kawan

untuk setiap langkah yang kau jejakan
pada jalan-jalan takdir yang menggurat di telapak kaki
untuk kebersamaan kita didtik terakhir
dan untuk semua kebisingan ini

persahabaatb adalah  nyanyian
ia mengaum dalam setiap desah napasku

Gen 13 j Juni 2010
Sumber: http://gen2.blogspot.com/2110/06/puisi-
persahabatan.html

BAGIAN II
INOVASI PEMBELAJARAN APRESIASI CERPEN

A.    Selayang Pandang tentang Apresiasi Cerpen
Apresiasi cerpen adalah penghargaan terhadap karya cerpen yang didasarkan pada pada pemahaman terhadapa cerpen. Untuk sampai pada tahap menetapkan penghargaan (kesimpulan) terhadap suatu karya cerpen ada tahap-tahap tertentu yang harus dilewati terlebih dahulu.
Adapun tahap-tahap tersebut menurut Maidar Arsyad sebagai berikut:
a.    Tahap 1 : adalah tahap penikmatan, pada tahap ini penikmat melakukan tindakan membaca, atau mendengarkan   cerpen
b.    Tahap 2  :  Tahap penghargaan, di sini penikmat merasakan  adanya manfaat, apakah itu menyenangkan, memberi hiburan, memberi kepuasan, atau memperluas pandangan.
c.    Tahap 3 : adalah tahap pemahaman, di sini penikmat melakukan tindakan meneliti, menganalisis unsur ekstrinsik dan ekstrinsik
d.    Tahap 4 : adalah penghayatan, pada tahap ini penikmat atau pembaca akan menganalisis lebih lanjut karya sastra tersebut, mencari hakikat atau makna suatu karya sastra  beserta argumentasinya. Misalnya, mengapa alur novel begini begitu
e.    Tahap 5 : adalah tahap implikasi atau penerapan, setelah membaca  atau menikmati karya sastra sangat mungkin timbul ide baru disertai dengan argumentasinya dari pengalaman karya sastra. Dari kesadaran itu mungkin  muncul ide untuk kemudian melaksanakannya demi kepentingan sosial, politik atau budaya.

Berdasarkan keterangan di atas dapat dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan apresiasi terhadap karya sastra cerpen  ialah upaya atau proses menikmati, memahami, dan menghargai karya sastra secara kritis, sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, dan kepekaan pikiran kritis dan kepekaan pikiran yang baik. Pembelajaran apresiasi cerpen menekankan pada penghargaan terhadap karya sastra berdasarkan pemahaman.

Siswa sebagai objek dan sekaligus subjek pembelajaran sastra untuk sampai pada tarap penghargaan kepada karya sastra memerlukan proses. Proses tersebut dapat dirancang oleh guru sehingga dapat diikuti dengan mudah dan menyenangkan. Dengan demikian maka diperlukan suatu inovasi atau kreativitas guru untuk mengajarkan apresiasi sastra (cerpen)

B.    Pembelajaran Apresiasi Cerpen pada KTSP
Tujuan pembelajaran apresiasi cerpen di tingkat Sekolah Menengah Atas tercantum pada   kompetensi dasar  sebagai berikut:
1)    Mengemukakan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerita pendek  melalui kegiatan diskusi
2)    Menemukan  nilai-nilai  cerita pendek melalui kegiatan  diskusi
3)    Menganalisis keterkaitan unsur intrinsik suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari
4)    Menulis karangan berdasarkan  kehidupan diri sendiri dalam   cerpen (pelaku, peristiwa, latar)
5)    Menulis karangan berdasarkan  pengalaman orang lain dalam   cerpen (pelaku, peristiwa, latar)
6)    Mengidentifikasi alur, penokohan, dan latar dalam cerpen yang dibacakan
7)    Menemukan nilai-nilai dalam cerpen yang dibacakan
8)    Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen
9)    Menulis resensi buku kumpulan cerpen berdasarkan unsur-unsur resensi
10)    Menulis cerpen  berdasarkan kehidupan orang lain (pelaku, peristiwa, latar)

Dalam kenyataannya ternyata pembelajaran apresiasi cerpen belum menunjukkan pembelajaran variatif yang mampu meningkatkan pemahaman sekaligus penghargaan terhadap karya sastra cerpen. Guru masih menggunakan metode pembelajaran yang konvensional yaitu mengajarkan teori-teori sastra (cerpen), pengertian unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik  yang bersifat pengetahuan. Akhirnya, siswa menjadi  bosan dan kurang menyenangi pembalajaran sastra. Padahal, seharusnya karya sastra langsung  bersentuhan dengan siswa agar dapat merasakan langsung terjadi interaksi antara karya sasatra dengan peniikmatnya (siswa).

C.     Beberapa Inovasi Pembelajaran  Apresiasi Cerpen
Berikut ini adalah beberapa alternatif inovasi pembelajaran apresiasi cerpen sebagai alternatif dalam usaha mengairahkan dan meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk mengikuti pembalajarn sastra dengan menyenangkan.
1.    Awali Ceritera
a.    Tujuan
Membuat sebuah awalan  paragaraf pertama cerita yang sudah ada.
b.    Teknik Pembelajaran
Siswa membuat awalan cerita yang telah dikosongkan sehingga dapat terangkai dengan cerita yang sudah ada. Siswa diberi lembar cerita yang awalnya telah dipotong satu paragraf. Secara individu siswa mengisi awalan dari sebuah cerita pendek

c.    Alat yang diperlukan
Fotokopi lembar cerita yang awal ceritanya dihilangkan dan alat tulis
d.    Cara Menerapkan
1)    Guru memberikan penjelasan tentang kegiatan hari itu
2)    Guru membagikan lembar cerita yang paragraf pertamanya sudah dibuang kepada masing-masing siswa (kelompok)
3)    Siswa mengidentifikasi lembar cerita yang diterimannya
4)    Siswa membuat satu paragraf untuk paragraf pertama atau awalan cerita yang sudah ada isi ceritanya
5)    Siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas
6)    Siswa lain memberikan tanggapan dari hasil presentasi temannya
7)    Pada akhir pelajaran guru menyampaikan bagian awal cerita yang dihilangkan.
8)    Guru merefleksikan hasil pembelajaran

2.    Akhiri Cerita
a.    Tujuan
Siswa dapat mengakhiri cerita dengan benar dan runtut berdasarkan isi cerita yang sudah ada.
b.    Teknik Pembelajaran
Siswa mengakhiri sebuah cerita yang endingnya tidak ada  atau telah dipotong. Dengan bahasa sendiri, siswa mengakhiri cerita. Siswa diberi lembar cerita yang akhir atau ending cerita dipotong satu atau dua paragraf. Secara individu siswa menulis akhir cerita tersebut.
c.    Cara Menerapkan
1)    Guru memberikan penjelasan tentang kegiatan hari itu
2)    Guru membagikan lembar cerita yang paragraf akhirnya sudah dihilangkan kepada masing-masing siswa (kelompok)
3)    Siswa mengidentifikasi lembar cerita yang diterimanya.
4)    Siswa membuat ending dari sebuah cerita yang sudah ada isi ceritanya
5)    Siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas
6)    Siswa lain memberikan tanggapan dari hasil presentasi temannya
7)    Pada akhir pelajaran guru menyampaikan bagian akhir cerita yang dihilangkan.
8)    Guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu
3.    Ganti Tokoh
a.    Tujuan
Siswa dapat mengingat dan lebih mengenal nama seseorang berdasarkan pengetahuan siswa baik karakter maupun sifatnya yang cocok dalam cerita tersebut.

b.    Teknik Pembelajaran
Siswa mengganti nama-nama tokoh yang terdapat  dalam cerpen dengan nama-nama yang pernah mereka kenal di kelas, di rumah, dan lingkungannya. Siswa diberi lembar cerita yang nama-nama tokoh pada setiap isi cerita tersebut telah dihapus. Secara individu siswa disuruh memberi nama tokoh cerita tersebut berdasarkan karateristik dan sifat yang pernah mereka kenal.
c.    Alat yang diperlukan
Fotokopi lembar cerita yang nama-nama tokoh telad dihapus kegiatan dapat dilakukan secara perorangan
d.    Cara menerapkan
1)    Guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu
2)    Guru membagikan lembar cerpen yang nama-nama tokokhnya sudah dikosongkan kepada masing-masing siswa
3)    Siswa mengidentifikasi lembar cerita yang diterimannya
4)    Siswa membeir nama pada lembar cerita yang nama tokohnya tidak ada
5)    Siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas, mengapa nama tersebut muncul atau diberikan
6)    Guru merefleksiakn hasil pembelajaran hari itu.

4.    Ganti setting (latar)
a.    Tujuan
Siswa dapat mengenal dan lebih mengingat dan lebih mengenal nama-nama  daerah berdasarkan berdasarkan pengetahuan siswa terutama karakteristik yang cocok dalam cerita tersebut.

b.    Teknik Pembelajaran
Siswa mengganti  nama tempat sebuah cerpen dengan nama tempat yang mereka kenali sehari-hari. Siswa diberi lembar cerita yang nama lokasi/setting pada setiap isi cerita tersebut telah di hapus. Secara individu siswa disuruh memberi nama tempat di mana  cerita tersebut dikisahkan berdasarkan karakteristik tempat yang pernah mereka kenali.
c.    Alat yang diperlukan
Fotokopi lembar cerita yang nama-nama lokasi/setting yang muncul telah dihapus kegiatan dilakukan secara perorangan.

d.    Cara menerapkan
1)    Guru memberikan penjelasan  singkat tentang kegiatan hari itu
2)    Guru membagikan lembar cerita yang setting tempatnya dikosongkan kepada masing-masing siswa
3)    Siswa mengidentifikasi lembar cerita yang diterimanya
4)    Siswa memberi nama pada lembar cerita yang nama tempatnya tidak ada
5)    Siswa mempresentasikan hasil pekerjaannnya di depan kelas, mengapa nama tersebut muncul atau diberikan
6)    Guru merefleksiakn hasil pembelajaran hari itu.

5.    Urutan Plot
a.    Tujuan
Siswa dapat mengurutkan sebuah cerita dengan benar, urut dan runtut berdasarkan potongan-potongan plot yang ada.
b.    Teknik Pembelajaran
Siswa mengurutkan plot sebuah cerita dengan satu kalimat satu plot. siswa diberi amplop yang berisi potongan-potongan plot berupa satu kalimat. Siswa disuruh mengurutkan plot tersebut sehingga menjadi sebuah kalimat ceritayang urut dan runtut.
c.    Alat yang diperlukan
Potongan-potongan plot dalam satu kalimat, lembar kertas kosong, lem kerta, amplop. Kegiatan dapat dilakukan secar perorangan atau kelompok

d.    Cara Penerapan
1)    Guru   memberikan penjelasan singkat  kegiatan hari itu
2)    Guru membagikan amplop yang berisi potongan plot kepada masing-masing  siswa (kelompok)
3)    Siswa mengidentifikasi potongan plot yang diterimanya
4)    Siswa mendiskusikan dan mengurutkan plot tersebut
5)    Siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas
6)    Siswa (kelompok) lain memberikan tanggapan atas presentasi temannya
7)    Pada akhir pelajaran guru  menyampaikan urutan plot aslinya kepada siswa sebaagi bahan perbandingan
8)    Guru merefleksikan hari pembelajaran hari itu.

6.    Diagram atau Skema Tokoh
a.    Tujuan
Siswa dapat membuat sebuah skema tokoh dengan benar dan lengkap berdasarkan cerita yang dibacanya.
b.    Teknik pembelajaran
Siswa membuat skema sebuah tokoh cerita atau mendiagramkan tokoh berdasarkan asal-usul, watak, kelahiran, dan sebagainya. Siswa diberi lembar fotokopi ceritera, dalam waktu yang telah ditentukan. Siswa disuruh membaca dan menganalisis. Setelah selesai siswa disuruh membuat sebuah skema tokoh, berdasarka asal usul , watak, kelahiran dan sebagainya.
c.    Alat yang diperlukan
Lembar fotokopi cerita
Kegiatan dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok
d.    Cara Penerapan
1)    Guru memberikan penjelasan singkat  kegiatan hari  itu
2)    Guru membagikan lembar fotokpi cerita kepada masing-masing siswa (kelompok)
3)    Siswa membaca dan mengidentifikasi cerita yang diterimanya
4)    Siswa mendiskusikan dan membuat skema tokoh tersebut
5)    Siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas
6)    Siswa (kelompok) lain memberikan tanggapan atas presentasi temannya
7)    Guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.

Pembacaan cerpen
Putu Wijaya

Bahan Apreiasi Cerpen
Aku Menangis di Kuburanmu
Suara kicau burung mulai membangunkan Khairul di pagi dingin di hari minggu. Setelah mencuci mukanya dengan air sejuk kemudian ia membuat secangkir kopi hangat untuk menemaninya membaca  harian pagi edisi minggu. Seperti biasa ia selalu mencari beberapa pekerjaan di kolom lowongan kerja. Khairul yang akrab dipanggil Irul ini tidak memiliki pekerjaan tetap, dia hanya seorang penulis kecil untuk harian pagi. Ketika ia memiliki atau membuat sebuah tulisan yang bagus maka akan ia kirimkan ke redaksi harian pagi itu dan mendapatkan upah yang sesuai dengan karyanya.
Pada malam minggu terkadang Irul mengunjungi pacarnya Imel yang tinggal di Perumahan Karyawan yang tidak jauh dari rumahnya. Imel memang termasuk keluarga yang berada, berada.Berbeda dengan Irul yang hidup dalam kesederhanaan. Namun orang tua Imel tidak melarang hubungan mereka. Meski dari keluarga yang berada, tapi Imel tidak memilih-milih temam .  Karena itu Khairul sangat menyayanginya dan rela melakukan apa saja agar pacarnya tersebut bahagia.
Malam hari tiba waktunya makan malam bersama antara mereka berdua. Namun saat makan malam berlangsung, hidung Imel mengeluarkan tetesan darah kental . Saat itu Irul khawatir namun Imel hanya bilang kalau itu mimisan biasa. Mendengar itu kekekhawatiran Irul berkurang. Suatu minggu pagi mereka berjalan dijalan kota namun tiba-tiba Imel jatuh pingsan ,saat itu ia langsung dibawa Irul ke rumah sakit terdekat. Setelah diperiksa oleh dokter yang bersangkutan Imel di vonis menderita kangker otak. Hal itu diberitahukan oleh dokter ke Imel, dan dikatakan bahwa umurnya tidak akan lama lagi. “ Dok, saya harap dokter tidak memberitahukan hal ini pada pacar saya yang sedang menunggu di depan. Karena saya tidak ingin dia bersedih,” pinta Imel pada Dokter tersebut. Setelah Dokter keluar dari ruangan,” Gimana, dok, keadaan pacar saya?” Tanya Irul.
“O…anda tenang saja. Pacar anda baik-baik saja.  Hanya terkena anemia atau kekurangan darah.  Makanya dia sering letih dan pingsan,” jawaban Dokter pada irul. “Lalu, bagaimana, dok?” Tanya Irul lagi panasaran.
“Hm…tolong biarkan dia istirahat untuk beberapa hari ini dan jangan diganggu dulu ya…”saran Dokter pada Irul lalu masuk ke dalam ruangan.
Dokter meminta agar Imel tabah dan sabar serta banyak berdoa agar datang suatu keajaiban nanti dan segera diminta memberitahukan kepada kedua orang tuanya tentang penyakit yang sedang dideritanya tersebut. Dan juga untuk tidak berhenti berobat ke spesialis-spesialis kanker otak. Akhirnya Irul mengantar Imel  mengucapkan selamat malam pada Irul dan berpesan agar hati-hati di jalan, begitu pula dengan Irul yang berpesan agar Imel banyak beristirahat.
Pada malam harinya setelah selesai makan malam bersama keluarga, Imel menceritakan yang terjadi terhadap dirinya kepada kedua orang tuanya. Imel merupakan anak satu-satunya di keluarga tersebut, jadi wajar ia sangat disayang oleh kedua orang tuanya. Mendengar apa yang disampaikan oleh anaknya tersebut kedua orang tuanya sangat sedih dan khawatir, dan segera berusaha bagaimana agar anaknya bisa cepat sembuh.
Sudah seminggu sejak pengobatan Imel yang tidak diketahui oleh Khairul. Bahkan ketika Irul menelpon untuk menanyakan keadaannya, pasti tidak pernah diangkat. Sms dari Irul tidak pernah dibalas. Sampai suatu hari Imel menelpon Khairul untuk datang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Imel, Khairul dipersilahkan masuk dan duduk diruang tamu. Orang tua Imel memperhatikan dari atas tangga. Imel juga pernah berpesan pada orang tuanya untuk tidak memberitahukan penyakit yang dideritanya kepada Khairul sampai kapanpun.
Dengan wajah mulai pucat Imel meminta Khairul untuk mendengarkan ucapannya dengan serius. “Rul, aku minta kamu jauhi aku mulai saat ini…”pintanya dengan nada sedih.
“Kenapa,,,?” Tanya Khairul penasaran.
“Aku mau kuliah ke luar negeri. Orang tuaku ingin aku hidup dengan orang yang sukses. Aku harap kamu bisa berusaha keras dan kembali padaku dengan kesuksesan yang kamu raih…”
Mendengar hal itu Khairul merasa terpukul dengan keadaan dirinya. Setelah Irul pulang maka Imel menangis di dalam kamar dan orang tuanya ikut sedih melihat yang terjadi pada anaknya.
Setibanya di rumah, Irul selalu murung dan memikirkan ucapan-ucapan yang telah didengarnya dari Imel. Itu menjadi sebuah penyemangatnya setelah pisah dari Imel. Ia bertekad untuk berusaha dan menjadi orang yang sukses, setelah itu ia akan kembali untuk membuktikan pada orang tua Imel, kalau ia mampu untuk menjadi orang yang sukses.
Hampir setiap hari ia mencari pekerjaan, kebetulan Harian Pagi yang sering ia kirimi tulisan sedang mencari orang untuk menjadi wartawan tetap. Dimulainya karir menjadi seorang wartawan, karena kerjanya yang gigih dan memuaskan kemudian Irul diangkat menjadi pemimpin redaksi yang mengelola harian pagi tersebut. Namun ketertarikannya terhadap menulis tidak pudar, ia mulai membuat novel tentang kisah hidupnya yang ia angkat menjadi cerita menarik. Novel yang ia buat laku keras dan terkenal di seluruh nusantara bahkan sampai di Malaysia. Novel tersebut tersebut juga sempat dibaca oleh Imel, ia senang Khairul sudah mulai sukses. Kini Irul tidak lagi bekerja di harian pagi seperti biasa, Kini ia telah menjadi penulis terkenal dan kaya raya. Namun , apa yang telah ia raih kini  tidak membuatnya lupa dari mana asalnya. Dia tidak sombong dan selalu membantu orang-orang yang kesusahan.
Pada hari minggu, seperti biasa Khairul pergi untuk berlibur pulang kerumahnya di kampung, namun cuaca agak sedikit mendung, namun tak menjadi halangan karena ia membawa mobil. Ketika mobilnya lewat di depan rumah Imel, ia hanya mendapati rumah tersebut sudah disegel dan tak berpenghuni lagi. Kebetulan rumah  lama Khairul berada di sekitar pemakaman umum, ia melihat kedua orang tua Imel berjalan kaki dengan baju yang kusam dan membawa sekeranjang bunga. Ia tidak  membalas apa yang pernah dikatakan Imel  dulu padanya.Ia bertanya mau ke mana kedua orang tua tersebut. Karena merasa kasihan pada Khairul kedua orang tua Imel pun melupakan janji mereka untuk tidak mengatakan keadaan anaknya yang sebenarnya.
Orangtua Imel bercerita bahwa Imel terkena kanker otak,dan sebenarnya ia tidak pergi kuliah keluar negeri tetapi untuk pergi berobat. Dia tidak ingin membuat Khairul sedih dan dia berpesan agar Khairul tetap semangat dan ia senang atas kesuksesan yang telah Khairul raih.
“Kami telah berusaha untuk kesembuhannya, Seluruh harta kami jual agar anak kami bisa sembuh, tapi Tuhan berkehendak lain,” ucap orangtua Imel dengan sedih.
Setelah mendengar apa yang telah disampaikan orang tua tersebut,  Irul jatuh lemas terdiam. Sejenak ia membayangkan wajah Imel tersenyum padanya, terbayang pula segala kisah yang pernah mereka lalui bersama. Kemudian Khairul meminta orang tua Imel untuk mengantarkannya kekuburan Imel.
Disana segunduk tanah dan batu nisan bertuliskan  nama Imelda Melani. Khairul menatap foto yang ada di kuburan tersebut, foto yang tersenyum padanya. Meninggalkan kisah kasih yang pilu,  membuat air mata Khairul jatuh untuk ke sekian kalinya, menangisi kepergian kekasih yang sangat ia cintai.
Ma’shum Abdul Jabbar
Siswa SMK Negeri 5 Pekanbaru

Sumber: http://xpresiriau.com/cerpen-remaja/cerpen-cinta-remaja-cerpen-remaja/aku-menangis-di-kuburanmu/

BAGIAN III
INOVASI PEMBELAJAR APRESIASI DRAMA

A.    Selayang Pandang tentang Apresiasi Drama
Drama adalah penyajian ulang suatu kehidupan manusia. Cerita drama bersumber pada kehidupam manusia. Karenanya, drama merupakan penyajian ulang suatu kehidupan manusia di atas panggung. Dengan penyajian ulang ini, maka cerita drama sesungguhnya (atau yang ada dalam angan-angan pengarangnya) jelas tidak akan sama dengan keadaan cerita drama yang diulang di atas panggung.

Para pelakunya mungkin bisa sama orangnya, tetapi pada umumya diperankan oleh orang lain, sebab belum tentu pelaku yang sama dalam ceritera drama sesungguhnya itu dapat memerankan kembali peristiwa itu secara tepat. Penyajian cerita drama ulangan tidak akan mungkin sama dengan ceritera drama aslinya, karena itu benar apa yang dikatakan Aristoteles bahwa drama ( di atas panggung) adalah tiruan dari perbuatan-perbuatan (action, gerak), tetapi bentuk tiruan ini dapat diusahakan semirip mungkin dengan yang asli.

Drama adalah suatu bentuk seni. Usaha untuk membuat penyajian ulang cerita drama itu sebagai bahan tiruan semirip mungkin dengan yang asli atau sesama mungkin dengan keadaan cerita drama yang asli adalah suatu seni.

Pengertian sama di sini adalah sangat luas, yakni untuk drama panggung (drama teater) cukup apabila dipentaskan di atas panggung pokok persoalannya (tema) melalui ucapan dan gerak para pelakunya. Sedangkan untuk drama film dituntut lebih banyak lagi persamaannya, misalnya: tempat kejadian (lokasi) lengkap dengan segala dekorasinya, seperti pohon, gedung dan lain-lain.

Di samping itu, drama dikatakan sebagai seni adalah bahwa dalam drama sutradara bebas untuk antara lain menyajikan bagian mana yang harus disajikan lebih dulu dari cerita drama itu, asalkan pokok persoalannya (tema) dapat digambarkan oleh penontonnya, walaupun sedikit banyak sutradara terikat dengan teknik pementasan dan lain-lain.

Dalam penyajian suatu drama di atas panggung, seorang sutradara terikat oleh suatu naskah drama (The Playwright). Naskah drama adalah suatu cerita drama dalam bentuk (dialog) atau dalam bentuk tanya jawab antarpelaku. Jadi, drama adalah suatu cerita  dalam bentuk dialog. Naskah drama disajikan atau diproyeksikan melalui antawacana (dialog)  dan gerak (perbuatan, action) para pelaku dari sebuah panggung kepada penonon. Jadi, naskah drama mempunyai dua buah alat: dialog dan gerak.

Dalam beberapa hal gerak  lebih pentimg daripada dialog sebab melihat perbuatan lebih mudah menangkap ceritanya  daripada mendengar dialog para pelaku tentang kejadian itu. Ini berlaku dalam drama film.

B.    Pembelajaran Apresiasi Cerpen pada KTSP Pembelajaran apresiasi sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA)  bentuknya  bisa bermacam-macam. Bentuk tersebut disesuaikan dengan tingkat usia siswa dan jenjang kelas. Apresias untuk kelas X tentu saja tidak sama dengan  kelas XI dan XII. Hal itu disebabkan tingkat pemahaman dan tingkat pemikiran biasanya sejalan dengan pertambahan usia. Di samping itu, semakin banyak pengalaman seseorang biasanya semakin baik penghayatannya terhadap karya sastra. Hal yang demikian itu kiranya cukup wajar karena sastra tak lain dan tak bukan berbicara tentang hidup dan kehidupan manusia.

Bentuk apresiasi drama di Sekolah Menengah Atas (SMA) bisa berbentuk  menyadur  naskah drama menjadi karangan prosa, menganalisis naskah  drama, atau pementasasan drama. Adapun tujuan pembelajaran apresiasi drama tertuang dalam kompetesi dasar yang ditentukan pada  Kurikulu
Tingkat Satuan Pendidkan (KTSP)  Sekolah Menengah Atas (SMA) .Kompeteni dasar tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Mengidentifikasi peristiwa, pelaku dan perwatakan, dialog, dan konflik pada  pementasan drama
2.    Menganalisis  pementasan drama berdasarkan  teknik pementasan
3.    Menyampaikan dialog disertai gerak-gerik dan mimik, sesuai dengan watak tokoh
4.    Mengekpresikan perilaku dan dialog tokoh protogonis dan atau antagonis
5.    Mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama
6.    Menggunakan gerak-gerik,  mimik, dan intonasi, sesuai dengan watak tokoh dalam pementasan drama
7.    Mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog naskah drama
8.    Menarasikan pengalaman manusia  dalam bentuk adegan dan latar pada naskah drama
9.    Menyimpulkan isi drama melalui  pembacaan teks drama

Kendala yang dihadapi  dalam pembelajaarn apresiasi drama di Sekolah Menengah Atas (SMA)  adalah masalah sarana dan prasarana, alokasi waktu yang terbatas, bahan yang kurang memadai, kompetensi guru yang belum maksimal terhadap keterampilan berdrama, dan metode pembelajaran apresiasi drama. Disamping itu, minat siswa terhadap  apresiasi drama  masih kurang.
C.    Beberapa Inovasi Pembelajaran Apresiasi Drama
Berikut  adalah beberapa inovasi pembelajaran apresiasi sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dapat dilakukan untuk meberikan sedikit variasi pembelajaran  apresiasi drama di SMA. Variasi ini diharapkan  dapat mengatsi sebagian kemdala yang dihadapi dalam pembelajaran apresiasi drama. Inovasi tersebua adalah sebagi berikut:
1.    Membuat Naskah Drama
a.    Tujuan
Siswa dapat membuat naskah drama dengan cepat dan runtut.
b.    Teknik Pembelajaran
Siswa membuat naskah drama dengan cepat dan runtut. Siswa membuat naskah drama pendek  berdasarkan situasi yang mereka kenali. Situasi dapat disesuaikan dengan kondisi siswa contohnya rumah, di sekolah, atau di tempat biasa mereak bermain.
c.    Alat yang diperlukan
Lembar folio kosong dan kegiatan dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok
d.    Cara penerapan
1)    Guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu.
2)    Guru membagi siswa ke dalam kelompok kecil
3)    Siswa mendiskusikn tema dan membuat naskah drama berdasarkan kesepakatan kelompok
4)    Kelompok melaporkan hasil pekerjaan di depan  kelas
5)    Siswa lain memperhatikan dan memberikan komentar tentang penampilan temannya
6)    Guru merefleksikan hasil pembelajaran  hari itu
2.    Memprosakan  Drama
a.    Tujuan
b.    Siswa dapat menyadur drama ke dalam bentuk prosa
c.    Teknik Pembelajaran
Siswa disuruh membaca naskah drama. Siswa menganalisis peristiwa pada naskah drama tersebut. Kemudian siswa mengubahnya menjadi prosa.dengan cara menyadurnya dengan bahasa sendiri.
d.    Alat yangdiperlukan
Naskah drama dan kegiatan dilakukan perorangan

e.    Cara Penerapan
1)    Guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan belajar hari itu.
2)    Guru membagikan  lembaran fotokopi naskah drama dan folio kosong
3)    Siswa membaca naskah drama secara global untuk mengetahui suasana pembicaraan atau suasana dialognya
4)    Siswa mengidentifikasi adegan atau peristiwa  yang terjadi dalam drama tersebut
5)    Siswa menuliskan inti dari adegan yang  telah diketahui
6)    Siswa memahami dialog-dialog drama  secara tepat
7)    Siswa mencerikatakan kembali isi dialog dengan bahasa sendiri
8)    Siswa mengubah naskah drama tersebut dengan cara menyadur menggunakan bahasa sendiri dalam bentuk prosa.
9)    Guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.
3.    Bermain Drama
a.    Tujuan
Siswa dapat mengekspresikan diri dan mengeksploitasi kemampuannya ke dalam bentuk pementasan  drama.
b.    Teknik Pembelajaran
Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, tiap kelompok diberi kebebasan untuk mementaskan sebuah drama komedi, persahabatan, atau kepahlawanan dll.
c.    Cara Penerapannya
1)    Guru memberikan pejelasan singkat tentang kegiatan hari itu
2)    Guru membagi siswa ke dalam kelompok kecil
3)    Kelompok menidentifikasi naskah drama yang akan di[pentaskan denagn membagi peran kepada anggota kelompoknya
4)    Kelompok berlatih dan mendiskusikan format pementasan
5)    Di hari kberikutnya siswa mementaskan drama  di depan kelas
6)    Siswa lain memperhatikan dan memberi komentar tentang penampilan temannya.
7)    Guru merefleksiakn hasil pembelajaran hari

Pementasan Drama

D I A M
Judul asli : Le Silence
Karya: Jean Murriat
Saduran: Bakdi Soemanto
Para Pelaku:
1.    Aleks
2.    Irna
3.    Dawud

Pentas menggambarkan sebuah ruangan kamar tamu. Ada beberapa meja dan kursi. Ada sebuah pintu di sebelah kiri untuk keluar dan masuk. Di atas meja ada beberapa buku. Saat itu sore hari, kira-kira pukul 18.00. Lampu belum dinyalakan.
Aleks    : (Masuk, menjatuhkan buku-bukunya di meja    dan duduk dengan kesal) Bing, bing. (Berhenti)Bing,bing. (Berhenti) Bong, bong. (Berhenti) Bong, boooooog. Huh, Bongkrek.
Irna        : He, sudah lama?
Aleks        : Baru saja. Kau?
Irna    : Lebih baru dari kau. Mana bung?
Aleks    : Tahu, keluar ‘kali.
Irna    : Jadi, nggalk jadi?
Aleks     : Sejauh info samar-samar, taksiran masih bebas, kau boleh bilang jadi, boleh bilang tidak jadi. Boleh bilang ditunda, boleh bilang dimulai, tetapi terlambat,dan apa saja.
Irna       : Kalau tahu begini , aku mestinya…
Aleks    : Nggak kemari, dan ke Rahayu bersama Agus, nonton, jajan dan minum-minum, dan rileks, dan berputar-putar kota, dan cuci mata, dan…
Irma       : Cukup. Kau tak usah mengolok- olok Agus begitu. Memang dia tak sehebat kau,  tak sebrilyan kau, tak sepopuler kau,  tak serajin kau, dan tak sekaya kau…
Aleks    : Cukup. Tak usah kau mengejek begitu. Berkata menyanjung-nyanjung , tetapi menjatuhkan, menghina, meremehkan, memandang rendah, me…
Irna    : Cukup. Tak u…
Aleks    : Cukup. Kau…
Irna    : Sudah
Dawud    : (Tiba-tiba masuk) Sudah, setiap kali ketemu, begini. Di sekolah, dikantin, disini, di rumah Amroq, di rumah pak Juweh, di rumah…
Irna    :  Sudah. Kau juga sama saja. Marah selalu. Di sini, di sana , dan…
Aleks    : Kau juga mulai lagi. Masalahnya itu apa? Dipecahkan. Tidak asal ngomong ,asal…
Dawud     : Diam.
Semuanya diam sejenak dan beberapa jenak.
Aleks      : Ini jadi…
Irna     : Diam. Dawud bilang apa? Masak nggak dengar bahwa da…
Dawud    : Diam, Irna. Kalau ka uterus-terus begitu, berkeringat tanpa guna. Padahal…
Aleks    : Kau juga ngomong melulu. Nggak konsekuen itu namanya.  Absurd. Buat larangan dilanggar sendiri. Huh dasar…
Irna    : Kau mulai lagi. Komentar itu secukupnya. Tidak ngelantur kesana ke sini…
Aleks    : Diam, Irna, diaaaam!
Dawud    : Kau diam dulu, jangan menyuruh melulu, nggak memberi contoh …
Irna     : Kau juga sendiri mesti diam dulu, baru yang lain itu, Wud.
Diam semua. Tiba-tiba meledak tawa mereka bersama-sama.
Contoh menyadur sebuah drama ke dalam bentuk prosa (memprosakan drama).

Memprosakan Drama
D  I  a  m
Dalam drama tersebut digambarkan pada suatu sore, kira-kira pukul18.00 di sebuah ruangan tamu. Waktu itu lampu belum dinyalakan sehingga tampak agak remang-remang. Di ruang itu ada sebuah meja yang diatasnya terletak beberapa buku.
Aleks masuk ke ruang tamu sambil menjatuhkan bukunya dan duduk dengan perasaan kesal. Tiba-tiba berteriak menyebut nama “Bing” beberapa kali rupa-rupanya nama temannya. Tetapi yang dipanggil tidak menyahutinya. Karena yang dipanggilnya tidak kunjung tiba, ia mengumpat dengan kata “ Bongkrek”.
Irna tiba-tiba muncul dan bertanya apakah Aleks sudah lama ada di ruang tamu. Irna menanyakan Bing yang memang tidak ada di situ. Akan tetapi aleks juga tidak mengetahuinya apakah Bing sudah datang atau belum, atau malah telah pergi.
Karena rupa-rupanya tidak tepat waktu, Irna jadi ragu apakah rencana mereka jadi dilaksanakan atau tidak. Akan tetapi, Aleks yang diajak bicara saat itu hanya menanggapi dengan acuh tak acuh, dan bahkan dengan seenaknya ia menjawab. Sebenarnya terlihat: bahwa Aleks juga kesal akan ketidak tepatan teman-temannya; oleh karena itu ketika Irna memperlihatkan penyesalannya akan ketidaktepatan teman-temannya dan ia merasa telah buang-buang waktu dengan mengatakan, “ kalau tahu begini, aku mestinya”. Aleks langsung memotong ucapannya, dengan menyebut-nyebut Agus, “mendingan nggak kemari dan ke Rahayu bersama Agus, nonton dan jajan …
Irna merasa jengkel, lalu membalas AIeks dengan cara menyanjungnya secara berlebihan sehingga terasa sekali mengejek. Maka terjadilah pertengkaran diantara mereka.
Ketika pertengkaran baru saja berlangsung tiba-tiba Dawud masuk. Ia mencoba melerai pertengkaran tersebut. Dari perkataannya seolah-olah Dawud kesal karena setiap kedua orang itu bertemu, yang ada Cuma pertengkaran saja. Di mana-mana selalu saja bertengkar bila bertemu. Akan tetapi peringatan Dawud itu tidak digubris bahkan Dawud sendiri kena bentakan Irna. Peringatan Dawud membuat Suasana makin gaduh dan rebut.
Secara bergantian mereka mengingatkan untuk diam. Akan tetapi karena mereka saling mengingatkan maka yang terjadi justru bukan suasana diam melainkan tetap saja ribut.
Akhirnya mereka sadar bahwa jika terus menerus terjadi seperti itu, saling mengingatkan, maka diam itu sendiri tak pernah akan terjadi. Salah satu harus mulai diam, atau memberi contoh diam, baru yang lain akan diam. Ternyata itu benar. Semua menjadi diam. Akan tetapi justru suasana diam itulah membuat mereka tertawa bersama. Selesai.

DAFTAR PUSTAKA

BSNP. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Depdiknas. Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.2003
Depdiknas. Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 2. Jakarta: Pusat Bahasa.2003

http://xpresiriau.com/cerpen-remaja/cerpen-cinta-remaja-cerpen-remaja/aku-menangis-di-kuburanmu/

Suroto, Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia untuk SMA. Jakarta: Erlangga. 1981.
Suyatno. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Surabaya : Penerbit SIC. 2004

.

INOVASI PEMBELAJARAN APRESIASI  PUISI MELALUI METODE DEBAT

Mata Kuliah                     :  Pembelajran Sastra
Dosen                                    :  Dr.H. Edi Sukardi. M,Pd
Disusun Oleh                      :  Ne’mah Marasabessy
Nim                                          :  0908056036

Program Pasca Sarjana Pendidikan BahasaIndonesia
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Jakarta 2010
I.    Pendahuluan

Materi ajar puisi di sekolah –  sekolah  khususnya di jenjang  sekolah menengah atas (SMA) bukan merupakan materi ajar kesusastraan yang difavoritkan dan kurang diminati oleh sebagian besar siswa. Celakanya lagi materi ajar ini dianggap oleh siswa sebagai materi ajar yang tidak  penting . Memang tidak semua siswa beranggapan demikian , namun hal ini jangan dibiarkan berkembang, menetap, dan melekat  pada benak mereka. Sebab jika dibiarkan  salah satu ruang kesempatan untuk membangkitkan proses kreatifitas mengasah rasa, kepekaan dan logika serta  berlatih berfikir kritis  lambat laun akan  mengering dan padam  . Seperti ungkapan Aristoteles berikut ini “ Proses penciptaan , sastrawan tidak semata-mata meniru kenyataan , melainkan sekaligus menciptakan sebuah dunia dengan kekuatan kreatifitasnya.”

Permasalahan di atas  diakibatkan oleh situasi dan  kondisi di lingkungan sekitar  yang tidak apresiatif dan empati terhadap nilai-nilai seni baik itu di lingkungan lembaga pendidikan maupun di luar  (masyarakat). Misalnya saja: ketika seorang siswa menghasilkan puisi yang menarik , tidak dianggap sebagai suatu prestasi  yang membanggakan dan tak berharga ( bernilai), lain halnya jika seorang yang menghasilkan suatu karya  ilmiah. Begitu juga ketika seseorang membacakan  puisi . Di samping itu pun bentuk pengajaran  materi ajar kesusastraan ini yang disuguhkan  masih ditempatkan di atas menara gading  sebagai sesuatu yang jarang disentuh dengan sungguh – sungguh  atau ada unsur kesengajaan  dari dalam diri guru itu sendiri  untuk tidak menyajikan materi ajar itu  ke siswa. Motif ini terbentuk  karena   berpijak  pada prosedur penilaian yang berlaku pada materi ajar ini yang bukan merupakan target penilaian materi ajar bahasa Indonesia ketika ujian . Selama ini pengujian materi ajar puisi tidak berfokus pada  sejauhamana kreatifitas menulis yang dihasilkan oleh siswa ,  tetapi pengujian   yang berlangsung untuk materi ajar ini  hanya  hanya berfokus pada  unsur-unsur instrinsik, maupun unsure ekstrinsik  dari puisi yang  sudah ada. Sehingga  keterampilan menulis sebagai salah satu keterampilan produktif tidak ditonjolkan  pada materi ajar ini secara dominan .

Ironis, namun itulah kenyataan yang ada dan ditemukan dalam keseharian pengajaran  materi ajar puisi  sebagai salah satu materi  ajar kesusastraan  yang ada dalam materi bahasa Indonesia. Oleh sebab itu anggapan yang tidak  apresiatif dari siswa  –  siswa, dan lingkungan sekitar , serta prosedur penilaian yang diterapkan pada materi ajar puisi sebagai salah satu materi ajar yang terdapat dalam materi bahasa Indonesia,  perlu dicermati secara seksama untuk mencari  formula  yang tepat  agar dapat  keluar  secara  perlahan  dari  hal-hal yang tak bersahabat  dan    anggapan   negatif .  Memang   tak  mudah,  namun  hal  itu  perlu   menjadi   bahan       pemikiran  terutama  bagi  setiap pelaku didik  yang terhubung  dengan bahasa Indonesia dan orang  yang terkait dengan dunia  pendidikan,  agar materi ini menjadi materi ajar yang  menyenangkan dan dihargai sebagai  suatu kemampuan yang dapat dibanggakan dan bernilai.
II.    Pembahasan
Menurut Ki Mangoensarkoro:” ….Pendidikan di sekolah itu ditujukan pada waktu yang akan datang, dan oleh karenanya pendidikan kebudayaan ditujukan  pada keadaan dan kemungkinan kebudayaan di waktu yang akan datang….” Hal ini dikemukakan oleh beliau dalam Kongres  Kebudayaan  III di Solo tahun 1954.( Pendidikan Kegelisahan Sepanjang Zaman, Kumpulan Artikel Basis. Artikel Sapardi Joko Damono, basis 1-2, Januari- Februari 1998. ).

Jika dicermati pernyataan dari Ki Mangoensarkoro  di atas  ternyata perubahan harus terus dilakukan  karena pendidikan itu ditujukan pada waktu yang akan datang. Begitu pun dengan pengajaran kesusastraan  yang merupakan bagian  dari pendidikan kebudayaan. .

Siswa-siswa yang dihadapi oleh kita (pengajar) adalah siswa yang berkembang seiring dengan perkembangan waktu, situasi dan zaman mereka. Sebab itu  pengajaran sastra yakni puisi yang selama ini disajikan oleh  kita (pengajar) hanya sebatas sebagai ilmu untuk mengetahui unsure instrinsik dan ekstrinsik puisi saja ,atau  riwayat hidup penulisnya, dan menghapal gaya bahasa  semata perlu diubah , dan disesuaikan  dengan perkembangan yang ada agar materi ajar ini menjadi materi ajar  yang  menyenangkan  dan  menggembirakan  dan  disukai.  Toh  puisi itu sendiri adalah sesuatu yang indah dan sarat akan makna . yang mampu mempengaruhi dan memberi  warna pada situasi, dan kondisi yang ada.
a.    Pengertian puisi
Samuel Taylor C mengatakan, “ Puisi adalah kata-kata  yang terindah dalam susunan terindah, penyair memilih kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya.”  Sementara Carlyle  mengunkapkan pengertian puisi sebagai berikut “ Puisi  merupakan pemikiran  yang bersifat musikal . Penyair menciptakan  puisi  itu memikirkan  bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya.”

Berpijak dari   batasan  pengertian puisi  di atas , selayaknyalah pengajaran puisi disajikan dengan  ramuan-ramuan yang  indah , menarik ,  dan menyenangkan. Karena puisi adalah bagian dari seni,  maka tempatkan ia sebagai kegiatan kesenian , agar mereka  (siswa) dan kita  (guru) dapat bermain dengan  kata dalam mengekspresikan semua penglaman disekeliling diri dan lingkungan, dengan apik. Dan satu hal yang teramat penting  di  sini antara siswa dan guru   bermain melatih kepekaan ketika mengapresiasi karya – karya sastra. Lewat kepekaanlah seseorang dapat memandang, menilai, dan menghargai  sesuatu secara tepat dan proposional .

Dan  pada akhirnya , variasai- variasi  model pembelajaran  materi ajar kesusastraan  harus terus dilakukan   setiap saat, dan ditawarkan ketika berlangsungnya  kegiatan belajar mengajar. Jika tidak maka ketajaman rasa dan pikir  secara perlahan akan  kering dalam diri generasi –generasi penerus estafet bangsa. Dan sebagai guru tanggungjawab itu harus kita emban, tidak bisa tidak. Karena  guru adalah fasilitator, dan mediator bagi anak, atau peserta didiknya di sekolah, sekaligus sebagai penggerak proses kegiatan belajar . Dengan harapan agar siswa  bukan hanya sebagai penikmat karya sastra semata namun juga harus mampu mengukir sejarah sebagai pencipta karya-karya sastra  handal.

Seperti yang dikatakan  oleh Ki Mangoensarkoro dalam Kongres Kebudayaan III di Solo tahun 1954 “ Masyarakat sekolah adalah tempat pemeliharaan bibit  bagi kekuatan hidup masyarakat pada masa mendatang, oleh karenanya sekolah merupakan sumber  kekuatan baru dalam masyarakat.” ( Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman , Pilihan Artikel Basis. Artikel Sapardi Joko Damono , Basis 1-2, Januari-Februari 1978).Jadi dari  sekolahlah  diharapkan akan tumbuh   Taufik Ismail, Chairil Anwar, Danarto,   iwan Simatupang, Djoko Damono  yang baru. Semoga.
a.    Inovasi Pembelajaran Puisi Melalui Pembedahan dengan Debat dan Diskusi

Pembaharuan pengajaran puisi  perlu dilakukan  oleh  setiap guru dengan pendekatan dan model pembelajaran  yang beragam dengan memperhatikan perkembangan situasi , kondisi siswa dan lingkungan sekitarnya. Agar dapat mewujudkan tujuan yang ingin kita capai . Sebab penyajian pembelajaran secara  tepat akan menghasilkan produk yang tepat .
Sekalipun fakta menunjukkan Pengajaran puisi di SMA, sebagai salah satu bentuk karya sastra lebih banyak mengalami kendala ketika  harus menyuguhkannya menjadi sesuatu yang menarik. Berbeda ketika guru menyajikan  materi ajar cerpen, serta drama, siswa lebih berselera. Dengan kenyataan  itulah inovasi harus dilakukan, dan tak dapat ditawar.  Sebab menurut Andoyo Sasromiharjo dalam tulisannya yang berjudul (Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra.

Indonesia, dalam buku Bahasa dan Sastra dalam Perspektif  pendidikan, 2009:7) bahwa pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang inovatif diperlukan guru bahasa yang bertanggungjawab, antusias, dan interpreneur.

Lewat pernyataan di atas , selaku guru saya mencoba melakukan Inovasi pembelajaran puisi  melalui pembedahan  puisi dengan debat dan diskusi . Debat dan diskusi harus ditempatkan pada porsi yang lebih besar ketika menyuguhkan materi puisi  di samping model-model pembelajaran yang lain, dapat dikolaborasikan. Dengan debat dan diskusi siswa dapat belajar berkomunikasi secara terkoordinir saat mengekspresikan cipta ,karsa dan karya secara   atraktif.   Pembedahan   puisi   melalui   Debat   dan   diskusi pun   dapat mengasah kepekaan batin siswa untuk lebih apresiatif dan pada akhirnya akan  bertujuan agar siswa dapat mengekspresikaan rasa, serta akal budinya dalam sebuah tulisan yang indah dan bermakna.

Berikut ini adalah tahapan – tahapan model pembelajaran puisi untuk menumbuhkembangkan apresiasi dan empati siswa terhadap puisi hingga memasuki  tahapan  menghasilkan  sebuah puisi.  Tahapan  yang  dapatdilalui sebelum memasuki pembedahan puisi dengan debat  dan diskusi yakni:
    Example Non Example
    Guru bersama siswa mencari dan mengumpulkan karya sastra puisi dari berbagai pengarang ternama maupun yang tidak untuk diklipingkan dan masing-masing siswa  memilikinya.
    Guru dan siswa  membaca dan mengamati masing-masing pusi yang telah ditemukan .
    Selanjutnya guru menayangkan puisi – puisi dari pengarang terkenal yang telah ditemukannya  dengan LCD dan diamati secara bersama-sama.
    Kemudian didiskusikan  puisi secara bersama siswa untuk menumbuhkan apresiasi.
    Selanjutnya pada pertemuan berikut dilakukan debat.

    Debat
    Guru  membagi kelas dalam dua kelompok  peserta
    Masing kelompok peserta  membaca  dan mencermati salah satu puisi dari pengarang terkenal yang telah ditemukan pada pertemuan sebelumnya.
    Kelompok pertama membedah puisi yang telah diberikan untuk dibaca,  kemudian kelompok kedua menanggapi tanggapan yang telah diberikan oleh kelompok pertama  hingga semua siswa mengemukakan pendapatnya.
    Guru mengarahkan Membuat kesimpulan secara bersama – sama  mengenai puisi yang telah dibedah Setelah    siswa   mulai   tumbuh    minatnya   untuk   menikmat   karya  –                      karya  Sastra   puisi  dan  mencoba  memahami  setiap  pusi yang  telah  dikumpulkannya  Dalam   bentuk   kliping   dari    berbagai  pengarang -pengarang telah punya nama, Maka  langkah   berikutnya   kita   dapat menggunakan   model    pembelajaran berikut ini.

    Bertukar pasangan
    Setiap siswa mendapat satu pasangan
    Guru  memberikan tugas kepada siswa untuk  pasangan tersebut menyusun puisi secara bergantian sehingga  berupa hasil kerja bersama
    Setelah selesai menyusun puisi , kemudian bertukar pasangan dengan yang lain
    Setiap pasangan yang baru saling menanyakan  hasil puisi yang telah dibuat .
    Temuan baru drai puisi yang telah dibuat dapat dikemukakan pada teman yang baru.

    Diskusi  panel kelas
    Beberapa tulisan puisi  dai hasil kerja siswa ditampilkan untuk dibedah
    Masing – masing siswa dapat mengajukan pertanyaan kepada penulisnya mengenai puisi yang telah dibuat
    Sementara  siswa – siswa yang lain pun dapat mengkritik , menyanggah, dan mendukung.
    Selanjutnya secara bersama guru dan  siswa  menarik kesimpulan dari puisi yang didiskusikan.

    Diskusi dan demonstrasi dengan sastrawan

Sebelum diskusi dan demonstran dilakukan dengan sastrawan, gurumemberikan tugas kepada masing – masing siswa  untuk menyusun  beberapa puisi  dengan tema  yang beragam.
    Masing- masing siswa dapat meminta kepada sastrawan yang diundang  untuk membedah puisi yang telah disusunya
    Siswa dapat membacakan hasil puisi untuk didiskusikan  secara bersama-sama temannya dan ssatrawan yang diundang.
    Siswa pun dapat meminta sastrawan untuk membacakan sebuah puisi yang menarik bagi sastrawan .
    Siswa pun dapat  bercakap bertukar pengalaman dalam proses kreatifitas. Dalam menulis puisi.

Diskusi dan demonstran dengan sastrawan , alangkah baiknya merupakan agenda rutin yang harus ditetapkan oleh guru-guru bahasa Indonesia pada setiap  sekolah .Kegiatan tersebut  dapat dilakukan di dalam sekolah atau di luar sekolah sebagai sebuah wisata ilmu.  Melalui  kegiatan seperti ini  secara perlahan dapat menumbuhkan apresiasi sastra pada diri siswa.  Di samping itu pun kegiatan diskusi dengan sastrwana dapat  juga mengasah dan memperluas wawasan siswa dan  dapat dijadikan perbandingan dalam proses pembelajaran  sastra., khususnya puisi.

Ada yang terlupakan oleh kita (guru) yakni  biasakanlah beri penghargaan bagi siswa yang memiliki karya terbaik dan publikasikan, suruhlah ia untuk membukukan karya-karyanya kemudian diletakkan di perpustakaan . Dengan begitu ia merasa bangga Karen ia memiliki kemampuan.

Dengan tahapan –tahapan pemberian materi ajar di atas diharapkan siswa dapat  lebih berkembang sesuai dengan hasil penelitian yang  dikemukakan oleh para ahli bahwa siswa yang hanya belajar melalui membaca saja retensinya hanya 10%, siswa yang belajar  melalui membaca dan mendengar memiliki retensi 20%, sementara bila dia juga melihat, retensinya bertambah menjadi 30%. Siswa yang mengucapkan apa yang dilakukannya dan mempraktikkannya akan memiliki tingkat retensi paling tinggi yaitu 90%.

Hal ini mengindikasikan bahwa pengajaran melalui diskusi dan debat melibatkan semua unsur keterampilan berbahasa secara padu, sehingga memungkinkan siswa memilki tungkat retensi yang lebih baik.

IIIPenutup
a.    Kesimpulan
•    Inovasi   pembelajaran    harus     terus      dilakukan    oleh    guru   seiring     dengan Perkembangan waktu, situasi, dan zaman  yang akan dimasuki oleh siswa – siswa kita.
•    Jadikanlah  pembelajaran puisi sebagai kegiatan berkesenian  yang menyenangkan, menggembirakan bagi siswa.
•    Lakukanlah kolaborasi metode, pendekatan, dan model pembelajaran  dalam pemberian materi puisi.
•    Hadirkan debat dan diskusi  sesering mungkin  ketika menyajikan materi ajar puisi untuk mengasah proses kreatifitas

a.    Saran
•    Dalam setiap pengajaran sastra  berikanlah porsi yang lebih buat siswa untuk
•    kegiatan berdiskusi dan debat , dengan tujuan   agar ia terbiasa bermain dengan kata, dan berani mengekspresikan rasa secara terkoordinir.
•    Prosedur penilaian dalam materi ajar kesusastraan harus ditikberatkan   pada kreatifitas siswa.

Daftar Pustaka

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Waru, Siduarjo :Multi Media Buana Pustaka

Sindhunata, Editor.  2001. Pendidikan  Kegelisahan  Sepanjang  Zaman,  Pilihan  Artikel    Basis.
Jogjakarta: Knisius

Anshori, Dadang S,  Sumiyadi, editor.  Bahasa  dan Sastra  dalam  Perspektif   Pendidikan, Kado
Purnabakti Prof, Dr. H. Kosadi Hidayat S, M.Pd.  Bandung:  Jurusan  Pendidikan  Bahasa dan
Sastra Indonesia

Wiyanto, Asrul. 2004. Terampil  Menulis  Paragraf. Jakarta: Grasindo

Marahimin, Ismail. 1994. Menulis secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya

Sudarso. 1993. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia

Inovasi Pembelajaran Drama  Melalui ModelPembelajaran (SAVI  (Somatic Auditory Visualization Intellectualy)

Mata Kuliah           : Pembelajaran Apresiasi Sastra
Dosen                    : Dr. H. Edi Sukardi M,Pd
Disusun  Oleh        : Ne’mah Marasabessy
Nim                        : 0908056036

Program Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesi Universitas Muhammadiyah
Prof. Dr. Hamka
Jakarta 2010

I.    Pendahuluan

Sebagai salah satu bentuk karya sastra , drama merupakan bagian dari materi ajar  bahasa dan sastra Indonesia yang  tercantum dalam GBPP sekolah menegah atas (SMA). Karena itu materi ajar ini harus disuguhkan  sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai., yaitu siswa mampu memahami drama  dan menganalisa  pementasan drama, serta memerankan tokoh dalam drama.

Jika mencermati kompetensi materi ajar drama yang terpapar dalam silabus kelas XI , maka materi ajar ini diarahkan  agar siswa  tidak terbatas mengetahui   sejauhmana memahami watak , karakter si tokoh, alur ,  dan konflik yang dimunculkannya , atau sebatas pemahaman pada pementasan drama,  namun siswa pun diharapkan untuk mampu bagaimana mementaskan sebuah drama.dengan lakon yang diperaninya. Dapat dipastikan bahwa kegiatan mementaskan drama dalam materi ajar ini jarang  sekali digunakan, Kenyataan ini harus diakui bahwa guru jarang mengkondisikan siswa pada suatu ruang  untuk mengarahkan bagaimana mereka menyusun naskah drama , serta bagaimana mementaskan naskah  drama tersebut menjadi suatu suguhan yang kreatif di sekolah.
Kenyataan di atas tidak merujuk pada semua guru, tapi fakta menunjukkan  bahwa ruang waktu yang tersedia dalam  kurikulum  untuk mengarahkan siswa  ke arah tersebut cukup terbatas. Mengacu pada alasan itulah , sebagian guru tidak mengarahkan secara optimal  siswa- siswa untuk menggali kemampuan mereka dalam menyusun naskah drama dan bagaimana mementaskannnya. Agar meteri ajar ini tidak  hanya bertumpu pada  kemampuan kognitif semata.

Padahal dunia drama adalah dunia yang menyenangkan bagi siswa seusia mereka , karena di sana mereka dapat bermain –main dan berekspresi dengan  bebasnya tanpa sekat yang membatasi ruang ekspresi yang akan ditampilkannya. Di samping itu materi ajar ini lebih menarik minat siswa dari materi ajar  sastra l ainnya.  Sehingga  guru  tidak  perlu bersusah-susah  payah dengan mengkolaborasikan berbagai model pembelajaran saat memasuki materi ajar ini untuk disajikan.

Ini mengindikasikan bahwa , guru hanya memerlukan sedikit trik bagaimana menggairahkan materi ajar ini saat berlangsungnya praktik yang akan  mereka lakukan, untuk menyusun naskah drama dan memerankan tokoh yang diembannya. Misalnya bagaimana membangun kepercayaan diri mereka saat berhadapan dengan audiens.yang terkait dengan kesiapan mental, serta keberanian mereka . Disinilah guru mulai berperan bukan hanya sebagai fasilitator, tetapi juga harus berperan sebagai mediator, dan motivator.

Namun demikian guru tetap perlu mencari model pembelajaran yang tepat,  untuk diberikan ketika penyajian materi ajar ini. Sebab melalui model pembelajaran yang tepat guru  dapat menyediakan sebuah  ruang  situasi yang nyaman, dan menyenangkan untuk menghantarkan mereka dalam menyerap bagaimana menysun naskah drama dan berbagai teknik bermain drama, maupun saat melakukan pementasan drama.

Kenyaman , menyenangkan adalah dua hal yang tak dapat dtawar bila guru  ingin membangun kepercayaan diri siswa . Dengan kepercayaan diri maka mereka akan mau mengeksplor segala kreatifitasnya, dan selalu ingin berbuat/berlaku.

II.    Pembahasan

Menurut Kinayati  (2006:4) “ Kesusastraan adalah karya kreatif yang harus mampu melahirkan sesuatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia. Berpijak dari pernyataan ahli di atas , melalui materi ajar drama sebagai salah satu karya sastra , perlu ada ruang yang dengan unsur kesengajaan dibuat oleh guru untuk meumbuhkembangkan  kreasi  siswa. Sebab salah satu fungsi  guru adalah sebagai fasilitator. Disini, perlu ada berbagai upaya yang harus ditempuh
untuk mengkolaborasikan berbagai hal . Seperti bagaimana mengantisipasikan waktu yang tersedia dalam materi ajar ini, tetapi materi ajar tetap dapat disuguhkan untuk membangkitkan kreatifitas siswa dan menyalurkan kebutuhan kreatifitasnya sebagai manusia..

Sekalipun kita berbenturan dengan waktu yang tersedia dalam materi ajar ini ,namun rasanya tidak tepat  jika ia dijadikan sebagai kambinghitam atas segala ketidak mampuan membangkitkan kreatifitas dan menyalurkan kebutuhan kreatifitas siswa. Karena itu sebagai orang yang bersentuhan langsung dengan pemberian materi ajar ini, Sudah sepatutnyalah  guru mencari dan menemukan metode, strategi, serta pendekatan yang tepat. untuk diterapkan .

Ada berbagai macam metode, strategi , serta pendekatan dalam proses belajar mengajar., salah satunya adalah SAVI  (Somatic Auditory Visualization Intelectualy). Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah meanfaatkan semua alat indra  yang dimilki siswa . Istilah SAVI  sendiri cenderung pada hal-hal yang terkait dengan kegiatan fisik, dimana belajar dilakukan dengan mengalami dan bermakna melaui mendengar/menyimak.berbicara, presentasi, dan argumentasi.

Melalui model pembelajara ini siswa akan berlatih bernalar mengolah, mengarahkan bentuk pemikiranya untuk menyusun naskah drama, serta bagaimana ia harus berlakon sesuai peran yang diembannya. Seperti apa yang tertera dalam definisi drama berikut ini :

Drama adalah suatu aksi perbuatan yang berasal dari bahasa Yunani . Sedangkan dramatic adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalam suatu tingkah laku mimik, dan perbuatan. Sandiwara adalah rahasia pelajaran  yang terbentuk dari kata sandi adalah rahasia, sedangkan wara adalah pelajaran.

Dari batasan pengertian drama di atas menunjukkan bertingkah laku  , cara berbicara, gerak gerik tubuh, begitupun dengan mengolah emosi harus dipelajari ketika akan mementaskan sebuah drama agar semuanya tampak wajar , dan tak ada yang berlebihan.  Dengan kewajaran yang dihadirkan maka pertunjukkan drama lebih menarik.

Inovasi Pembelajaran Drama Melalui Model Pembelajaran SAVI

Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam pembelajaran  materi ajar drama melalui model pembe;ajaran  ini adalah sebagai berikut:

    Agendakan menonton teater percaturwulan dan libatkan seluruh siswa., agar tumbuhkembang minatnya, serta aprseiasinya
    Hadirkan drama melalui CD untuk di analisa oleh mereka
    Diskusikan drama yang telah dianalisa secara bersama
    Berikan pilihan kepada siswa untuk berlakon apa saja , tanpa ada naskah drama terlebih dahulu.
    Kemudian salah seorang siswa disuruh tampil terlebih dahulu dengan lakon yang diplihnya
    Selanjtunya dikuti oleh temanya yang lain, dan sambung menyambung menjadi sebuah cerita  menurut versi yang telah dibentuk oleh mereka
    Kemudian masing-masing siswa kembali ke tempatnya masing-masing. Dan selanjutnya menyusun naskah drama yang telah dipentaskan oleh mereka dengan  tatanan bahasa mereka masing masing
    Masing-masing siswa menukar naskah dramanya    untuk dicermati oleh temannya.
    Kemudian naskah drama salah siswa dibahas bersama guru dan siswa-siswa
    Setelah itu guru memberikan naskah drama untuk dipelajari dengan mengamati berbagai hal yang terkait dengan drama.
    Melakukan tanya jawab mengenai hal-hal yang terkait dengan tehn ik-tehnik drama
    Selanjtunya masing –masing siswa menyusun naskah drama
    Naskah drama yang terbaik dipilih untuk dipentaskan
    Libatkan siswa dalam menyusun naskah drama ketika perayaan kegiatan-kegiatan di sekolah agar mereka memilki harga diri sebagai suatu kebanggaan
    Berikanlah reward pada yang terbaik
Langkah- langkah di atas merupakan rangkaian pilihan yang dapat ditempuh, krena menurut beberapa ahli tak ada satu model pembelajaran yang paling tepat , artinya ada berbagai macam pilihan model pembelajaran  kembali yang dapat kita terapkan atau mungkin diko[aborasikan  sesuai situasi dan kondisi yang melingkupi kita .
.
III.    Penutupan

Kesimpulan :

    Guru harus dapat menjembatani segala keterbatasan waktu yang tersedia dalam penyuguhan materi ajar

    Guru perlu memberikan ruang , situasi yang nyaman dan menyenangkan untuk membangun kepercayaan diri siswa

    Guru dapat mengkolaborasikan berbagai model pembelajaran

    Guru perlu mengagendakan kegiatan menonton teater
Saran
    Bangkitkan kreatifitas siswa melalui kegiatan bersastra
    Hadirkan drama dalam setiap perayaan  kegiatan – kegiatan sekolah

Daftar Pustaka

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Waru, Siduarjo :Multi Media Buana
Pustaka

Sindhunata, Editor.  2001. Pendidikan  Kegelisahan  Sepanjang  Zaman,  Pilihan
Artikel    Basis.Jogjakarta: Knisius

Anshori, Dadang S,  Sumiyadi, editor.  Bahasa  dan Sastra  dalam  Perspektif
Pendidikan, Kado
Purnabakti Prof, Dr. H. Kosadi Hidayat S, M.Pd.  Bandung:  Jurusan  Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia

Wiyanto, Asrul. 2004. Terampil  Menulis  Paragraf. Jakarta: Grasindo

Marahimin, Ismail. 1994. Menulis secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya

Sudarso. 1993. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia

INOVASI  PEMBELAJARAN  PUISI
Oleh Siti Masytoh

Dalam  kegiatan  belajar  mengajar,  strategi  pembelajaran,  khususnya  metode  pembelajaran  mempunyai  peranan  penting.  Machfudz ( 2000 )  mengutip  penjelasan  edward  M. Anthony  ( dalam  H. Allen dan Robert, 1972 )  yang  menyatakan  bahwa  istilah  metode  berarti  perencanaan  secara  menyeluruh  untuk  menyajikan  materi  pembelajaran  bahasa  secara  teratur.  Istilah  ini  bersifat  prosedural  dalam  arti  penerapan  suatu  metode  dalam  pembelajaran  bahasa  dikerjakan  dengan  melalui  langkah-langkah  yang  teratur  dan  secara  bertahap,  dimulai  dari  penyusunan  perencanaan  pengajaran,  penyajian  pengajaran,  proses  belajar  mengajar,  dan  penilaian  hasil  belajar.  Sayuti ( 1985 : 213 )  menyatakan  bahwa  penggunaan  metode  yang  tepat  akan  banyak  berpengaruh  terhadap  keberhasilan  pembelajaran.  Akan  tetapi  harus  didasari  pula,  bahwa  faktor  gurulah  yang  pada  akhirnya  banyak  menentukan  berhasilnya  pengajaran.  Oleh  karena  itu,  guru  jangan  sampai  terbelenggu  oleh  salah  satu  metode  yang  dipilihnya.
Menurut  pengamatan  peneliti,  dalam  pembelajaran  puisi,  sangat  memungkinkan  untuk  menerapkan  ketujuh  prinsip  CTL  dalam  KBK  yang  telah  dijelaskan  dalam  bab  sebelumnya.  Siswa  dapat  mengontruksikan  ( contrcting )  sendiri  pemahaman  terhadap   definisi  dan  unsur-unsur  puisi  berdasarkan  contoh  ( modelling ).  Siswa  akan  menemukan  ( inquiry )  definisi  dan  unsur-unsur  puisi  atas  panduan  guru.  Siswa  juga  dapat  mendiskusikannya  hasil  temuannya  dengan  teman  sejawat  ( learning  community ).  Guru  dapat  mengadakan  tanya  jawab  ( questioning )  dari  teman-teman  yang  sudah  didiskusikan  sebelumnya.  Untuk  praktik  membacakan  puisi,  guru  dapat  memakai  contoh ( modelling ),  baik  dirinya  sendiri ( jika sudah  merasa berkompeten )  atau  melalui  praktikan  dari  media-media  pembelajaran  membacakan  puisi,  seperti  yang  akan  dibuat  oleh  peneliti.  Proses  pembelajaran  dapat  direfleksikan  ( reflection )  secara  bersama,  antara  guru  dan  murid  untuk  menemukan  bentuk  pembelajaran  yang  lebih  cocok.  Sedangkan  evaluasi  hasil,  dapat  dilakukan  melalui  penilaian  sejawat  ( peer assesment )  maupun  penilaian  guru  secara  langsung ( authentic assesment ).
Lebih  lanjut,  Sayuti ( 1985 : 213 )  menjelaskan  bahwa  secara  garis  besar,  metode  pembelajaran  dapat  dibedakakan  berdasakan  bahan  ( materi )  pengajaran  dan  interaksi  belajar  mengajar.  Metode  pengajaran  yang  berhubungan  dengan  bahasa  pengajaran  dalam  pengajaran  puisi  banyak  berkaitan  dengan  metode  analisis  puisi,  antara  lain:
1.    Metode  dikotomi,  yaitu  sebuah  metode  yang  mendasarkan  diri  pada  pendapat  yang  menyatakan  bahwa  puisi  itu  terdiri  dari  segi  bentuk  dan  segi  isi.  Pembagian  ini  memang  sudah  sangat  umum  dan  sangat  tua  usianya,  dan  sampai  kini  masih  banyak  diikuti  orang.
2.    Metode  fenomenologi,  yaitu  sebuah  metode  ini  mendasarkan  diri  pada  pandangan  fenomenologis  Edmond  Husserl  yang  memandang  bahwa  suatu  karya  itu  tidak  hanya  sebagai  suatu  sistem  norma,  melainkan  juga  sebagai  suatu  susunan  lapis  norma.  Untuk  membedakan  penilaian  terhadap  suatu  karya.  Karya  itu,  harus  dianalisis  berdasarkan  lapis-lapis  norma  yang  terdapat  didalamnya.  Susunan  norma itu  menjadi  tiga  lapis,  yaitu 1.  Lapis  bunyi  2.  Lapis  arti,  dan  3.  Lapis  objek.  Kemudian  Ingarden  menambahkan  dua  lapis  lagi,  yang  hanya  hakikatnya  lapis-lapis  itu  tidak  dapat  dipisahkan,  yakni  4.  Lapis  sudut  pandangan  tertentu  tentang  dunia,  dan  5.  Lapis  nilai  metafisik.
3.    Metode  linguistik,  yaitu  sebuah  metode  yang  menggunakan  teori  teks  menerangkan  bagaimana  terjadinya  himpunan-himpunan  kalimat  yang  pada  akhirnya  dapat  diberi  predikat  literer,  estetis,  atau  puitis.  Menurut  Hulshof,  ( dalam  Noer  toegiman, 1979 ),  terdapat  seperangkat  istilah  yang  diperlukan  dalam  teori  teks.  Istilah-istilah  itu  bukan  merupakan  istilah  asing  lagi  bagi  mereka  yang  telah  mengenal  linguistik  dan  sastra,  yaitu  struktur  luar ( surface structure ),  struktur dalam  ( deep structure ),  transformasi  ( transformation ),  parafrase  ( paraphrase ),  dan  interpretasi  ( interpretation ).  Struktur  luar  adalah  susunan  kalimat  adalah  atau  himpunan  kalimat  atau  teks  atau  bagian  teks  yang  akan  dibaca  atau  didengar.  Pendek  kata,  struktur  luar  sama  dengan  struktur  yang  tersurat  sebagaimana  yang  tersaji  dalam  kondisi  siap-pakai,  siap-baca.  Sedangkan  struktur  dalam  dapat  disebut  sebagai  struktur  tersirat.  Struktur  dalam  belum  mengalami  proses  lebih  lanjut  dalam  perumusannya.  Untuk  mudahnya,  dapat  dikatakan  bahwa  struktur  dalam   berhubungan  dengan  isi.  Sebagai  sebuah  istilah,  transformasi  dalam  teori  teks  ialah  perubahan  struktur  dalam  menjadi  struktur  luar.  Jadi,  dari  bentuk  tersirat  menjadi  bentuk  tersurat.  Melaluitransformasi,  struktur  dalm  menjadi  struktur  luar.  Tahap  transformasi  ini  menjadi  bagian  utama  dalam  teori  teks,  parafrase  dipergunakan  untuk  mengembalikan  struktur  dalam,  mengembalikan  struktur  “ bergaya “  menjadi  struktur  yang  sederhana.  Parafrase  membuka  jalan  untuk  megetahui  deviasi  dan  foregrounding  yang  terdapat  pada  struktur  luar.  Apa  yang  tersirat  dalam  struktur  luar  tidak  senantiasa  dapat  diterangkan  melalui  parafrase  saja.  Penjelasan  lebih  lanjut  masih  diperlukan  mengenai  konteks  dan  situasi  serta  kondisinya,  yakni  hal-hal  yang  ada  sangkut  pautnya  dengan  struktur  luar  dan  struktur  dalm  tersebut.  Oleh  karena  itu, interpretasi  diperlukan.  Hal  ini  disebabkan  bahwa  interprestasi  merupakan  penjelasan  struktur  dalm  berdasrkan  atau  memperhatikan  konteksnya.

INOVASI  PEMBELAJARAN  CERPEN
Konon,  pembelajaran  sastra  di sekolah  berhadapan  dengan  berbagai  masalah  serius.  Maman  S  mahayana  dalam  bukunya  ekstrinsikalitas  sastra  indonesia  mengemukakan  pernyataan  yang  cukup  mencengangkan.
Begitu  banyak  guru  yang  terlanjur  terjebak  pada  cara  pengkajian  sastra  yang  agak  menyesatkan.  Lalu,  mereka  menularkannya  pada  murid-muridnya. Maka  berantailah  ketersesatan  dalam  pengkajian  sastra.  Pengkajian  sastra  dan  pemahaman  terhadapnya,  berkutat  pada  teks  yang  diperlakukan  sebagai  artefak  beku,  kerontang  dan  artifisial.  Segala  konsepsi  tentang  unsur  intrinsik  menjadi  senjata  pamungkas  kekayaan  sosiokultural  yang  mendekam  dalam  teks.
Pernyataan  diatas  kiranya  patut  diperhatikan  oleh  para  pengajar  untuk  mempertimbangkan  kembali  upaya-upaya  yang  telah  dilakukan  dalam  pengajaran  apresiasi  sastra  disekolah  yang  ditengarai  kurang  apresiatif.  Pembelajaran  sastra  cenderung  kurang  berani  menggali  teks  dalam  konteks  yang  lebih  luas.  Padahal  sangatlah  mungkin  mengajak  pelaja / pembaca  untuk  dibawa  ke  dunia  luar  teks,  dan  dibawa  masuk  menyelami  unsur  pembangun  dari  luar  teks  yang  antara  lain,  latar  belakang  pengarang,  gaya  penulisan,  dan  gejala / situasi  sosial  tertentu.
Kita  telah  sepakat  bahwa  dalam  proses  lahirnya  sebuah  karya  sastra  banyak  unsur  yang  mempengaruhi  terutama  dengan  konteks  masyarakat  tempat  lahirnya  karya  sastra  tersebut.  Dalam  hubungannya  dengan  masyarakat,  kesusatraan  dapat  dipandang  sebagai  suatu  gejala  sosial  yang  langsung  berkaitan  dengan  norma-norma  dan  adat  istiadat  yang  berlaku  dan  dianut  yang  berlaku  dan  dianut  masyarakat  tertentu.  Gejala  sosial  itu  oleh  pengarang  diolah,  direkayasa,  dan  dirangkaikan  menjadi  struktur  karya  yang  terpadu  dan  memiliki  otonomi  sebagai  sebuah  teks.  Salah  satu  bentuk  karya  sastra  tersebut  adalah  cerita  pendek.
Cerita  pendek  adalah  salah  satu  jenis  karya  sastra  yang  terbentuk  prosa  fiksi  yang  bentuknya  relatif  pendek  tidak  sepanjang  novel.  Namun  demikian  “  kependekan “  sebuah  cerita  pendek  itu  tidak  berarti  dangkal  dalam  hal  maknanya.  Sebuah  cerita  pendek  yang  panjangnya  “ hanya “  3-4  halaman  dapat  mengandung  makna  yang  ada  dalam  yang  menghabiskan  waktu  berhari-hari  untuk  memahaminya.  Unsur-unsur  pembangun  cerita  pendek  secara  besar  dibedakan  menjadi  dua  1.  Unsur  pembangun  dari  dalam  berupa  alur,  tokoh,  dan  penokohan,  setting  dan  sudut  pandang  penceritaan,  bahasa  dan  tema  2.  Unsur  pembangun  dari  luar  antara  lain,  latar  belakang  pengarang,  gaya  penulisan,  dan  gejala  /  situasi  sosial  tertentu.
Seiring  dengan  perkembangan  masyarakat  yang  semakin  majemuk  baik  dari  sudut  pola  pikir  maupun  pola  perilaku,  gejala  sosial  yang  ditangkap  oleh  para  pengarang  cerita  pendek  itu  semakin  beragam.  Keberagaman  ini,  oleh  pengarang  diwujudkan  dalam  berbagai  bentuk  kreativitas  penulisan  cerita  pendek  yang  diharapkan  dapat  berperan  dalam  proses  merubah,  membangun,  dan  mengembangkan  masyarakat,  termasuk  didalamnya  mempengaruhi  perubahan  nilai,  norma,  dan  pola  bermasyarakat.  Mereka  mencoba  berperan  dalam  perubahan  sosial  tersebut  dengan  gaya  khas  cerita  pendek  yang  mereka  hasilkan.  Mereka  secara  terus-menerus  mencoba  melihat,  mencermati,  dan  menganalisis  dinamika  sosial  dan  fenomena  sosial  yang  terjadi  dan  sekaligus  mempengaruhinya  dengan  ide-ide  mereka  yang  dibungkus  dalam  kekuatan  kata  yang  mereka  rangkaikan.
Sebagai  sebuah  bangsa  yang  ingin  maju  perlulah  kiranya  berkenalan  dengan  kebudayaan  dan  kesusastraan  asing.  Mengenal  dan  memahami  kebudayaan  dan  kesusastraan  asing  sesungguhnya  tidak  sekedar  menambah  wawasan,  membuka  cakrawala  baru  tentang  kebudayaan  dan  tata  kehidupan  dibelahan  dunia  lain,  mengilhami  untuk  menghasilkan  karya  yang  mirip  atau  punya  kesamaan,  tetapi  juga  melebarkan  peluang  terjadinya  akulturasi,  adaptasi,  bahkan  juga  adopsi.  Ini  sangatlah  beralasan  mengingat  kekayaan  karya  sastra  akan  meningkat  dan  terwarnai  dengan  bersikap  terbuka  terhadap  sastra  dan  budaya  asing,  yang  tentu  saja  melalui  proses  penyaringan  yang  disesuaikan  dengan  kondisi  sosiokultural.
Kesusastraan  banyak  dipengaruhi  dinamika  perubahan  yang  terjadi  dimasyarakatnya.  Sisi  kehidupan  manusia,  kesantunan  sebuah  masyarakat,  peperangan,  konflik ideologi traumatik  mewarnai  tulisan-tulisan  para  pengarang  di  lingkungannya.  Perkembangan  yang  terjadi  dihadirkan  melalui  karya-karya  sastra.
Untuk  memahami  dinamika  dan  fenomena  sosial  yang  terwujud  dalam  sebuah  cerita  pendek  trsebut,  diperlukan  proses  apresiasi.  Dengan  langkah  ini  diharapkan  para  pembelajar  dapat  mengikuti  perubahan  sosial  yang  terjadi.  Sebagai  langkah  awal  proses  ini,  diperlukannya  pengenalan  apresiasi  di  sekolah-sekolah.
Sekolah  sebagai  salah  satu  lembaga  yang  ada  dalam  masyarakat,  diharapkan  turut  berperan  dalam  pengembangan  masyarakat.  Di  lembaga  ini  pulalah  pengarang  dengan  kekhasan  mereka  pada  karya-karya  cerpennya,  diperkenalkan  kepada  pembelajar  lewat  pembelajaran  apresiasi  sastra.
Salah  satu  cara  yang  dapat  dipergunakan  untuk  mencapai  beberapa  tujuan  diatas  adalah  mendorong  pembelajar  untuk  mengapresiasi  karya  sastra.  Permasalahan  yang  muncul  adalah  bagaimana  apresiasi  sastra  itu  dapat  dipergunakan  pengajar  untuk  membantu  pembelajar  memahami  perubahan  sosial  yang  terjadi  dalam  masyarakat.
Pembelajaran  cerita  pendek
Pembelajaran  sastra  di  sekolah  dimaksudkan  untuk  meningkatkan  kemampuan  pembelajar  dalam  mengapresiasikan  suatu  karya  sastra.  Dari  proses  apresiasi  ini,  diharapkan  muncul  daya  nalar,  daya  kritis,  dan  daya  khayal  dari  diri  pembelajar.  Penalaran  yang  runtut  dan  didukung  oleh  ketajaman  analisis  akan  membantu  pembelajar  untuk   mempunyai  kepekaan  terhadap  gejala  atau  fenomena  sosial  yang  terjadi  dalam  masyarakat.  Hal  ini  diharapkan  dapat  terwujud  karena  dalam  kurikulum  pembelajaran  sastra,  tertera  pembelajaran  sastra  yang  memang  diarahkan  pada  kegiatan  apresiasi  sastra  sekaligus  pemahaman  sosial  budaya  yang  terkandung  dalam  karya  sastra   termasuk  di  dalamnya  cerita  pendek.  Didalam  KTSP  telah  di  ketengahkan  beberapa  butir  pembelajaran  sastra  yang  bertujuan  agar  pembelajar  1.  Mampu  memahami  dan  menghayati  karya  sastra,  2.  Mampu  menulis  prosa,  puisi,  dan  drama  3.  Mampu  menggali  nilai-nilai  moral,  sosial,  dan  budaya  dalam  karya  sastra  indonesia  dan  karya  sastra  terjemahan,  4.  Mampu  menulis  kreatif,  5.  Mampu  membuat  tanggapan  terhadap  tulisan  kreatif  dan  mampu  membuat  kritik  dan  essay  sastra.
Berkaitan  dengan  pembelajaran  sastra  ini,  Rahmanto  menyatakan  bahwa  pembelajaran  sastra  dapat  membangun  dan  membantu  pendidikan  secara  utuh  bila  pembelajaran  itu  selain  dapat  meningkatkan  keterampilan  berbahasa  juga  dapatmengembangkan  cipt  rasa,  menunjang  pembentukan  watak  pembelajar,  dan  meningkatkan  pengetahuan  dan  pemahaman  budaya.  Tujuan-tujuan  itu  dapat  dicapai  setelah  pembelajar  menjalani  proses  apresiasi  terhadap  karya-karya  sastra.
Sebuah  alternatif  usulan  langkah  kegiatan  yang  dapat  dilakukan  untuk  mengoptimalkan  apresiasi  siswa  terhadap  cerpen,  yaitu  dengan  menjalani  tiga  langkah  dalam  proses  pembelajarannya.  Langkah  pertama  adalah  keterlibatan  jiwa.  Langkah  kedua  adalah  pemahaman  dan  penghargaan  atas  penguasaan  sastrawan  dalam  menyajikan  pengalaman  dalam  karya  sastra.  Langkah  ketiga  adalah  langkah  analisis.  Berikut  diuraikan  langkah-langkah  pembelajarannya.
Langkah  pertama  adalah  keterlibatan  jiwa.  Dalam  langkah  ini   pembelajar  dapat  memahami  masalah  yang  diangkat  sastrawan  atau  penulis  dalam  karya  sastra.  Selain  itu,  pembelajar  diharapkan  dapat  merasakan  perasaan  yang  dimunculkan  atau  yang  dialami  tokoh-tokohnya  sekaligus  sebagai  usaha  membayangkan  dunia  yang  dikreasikan  oleh  sastrawan.  Hal  penting  yang  perlu  diketahui  oleh  pembelajar  dalam  tahap  ini  adalah  penerapan  nilai-nilai  estetika  sastra  pada  pengalaman  hidup  yang  tertuang  dalam  bahasa.  Dengan  kata  lain,  tahap  ini  diharapkan  pada  pemahaman  atas  penerapan  unsur-unsur  intrinsik  cerita  pendek.
Langkah  kedua  adalah  pemahaman  dan  penghargaan  atas  penguasaan  sastrawan  dalam  menyajikan  pengalaman  dalam  karya  sastra.  Pada  langkah  ini  pembelajar  diharapkan  mengetahui  dan  memahami  cara  atau  teknik  sastrawan  menerapkan  asas  keserasian,  keutuhan,  dan  tekanan  pada  pengalamannya  sehingga  lahir  suatu  karya  dan  cara  mereka  memilih,  mengolah,  dan  menyusun  lambang-lambang  yang  dipakai  dalam  karyanya.  Langkah  ini  memungkinkan  pembelajar  untuk  bersifat  kritis  terhadap  setiap  karya  sastra  yang  dihasilkan  pengarang  sekaligus  menguji  kepekaan  pembelajar  dalam  menghubungkan  dua  fenomena  yaitu  fenomena  dalam  karya  sastra  dan  fenomena  yang  terjadi  dalam  masyarakat  nyata.
Langkah  ketiga  adalah  langkah  analisis.  Pada  langkah  ini  pembelajar  diharapkan  dapat  mempermasalahkan  fakta-fakta  yang  tertuang  dalam  karya  sastra  dan  menemukan  hubungan  fakta-fakta  tersebut  dengan  realitas  kehidupan  yang  ada  dalam  kehidupan  mereka.  Dalam  langkah  inilah  nantinya,  pembelajar  dapat  terbantu  menemukan  kesesuaian  dunia  rekaan  dalam  karya  sastra  dengan  dunia  nyata  dalam  kehidupan  sekaligus  memahami  perubahan  yang  terjadi.
Langkah-langkah  apresiasi  diatas  dapat  membantu  pembelajar  mengapresiasi  secara  optimal  bila  dalam  pelaksanaanya  mengikuti  asas  kewajaran  dan  keterpaduan.  Asas  kewajaran  memungkinkan  dijalaninya  proses  apresiasi  sesuai  dengan  kewsiapan  mental  pembelajar,  trmasuk  juga  dalam  pemilihan  karya  sastra  yang  akan  diapresiasi.  Asas  keterpaduan  menyarankan  keterkai. tan  langkah-langkah  apresiasi  yang  dilakukan.  Langkah-langkah  itu  tidak  boleh  dipisah-pisah  karena  merupakan  kesatuan  proses.
3.    Dari  pembelajaran  cerpen  ke  pemahaman  situasi  masyarakat
Setelah  diatas  diuraikan  perihal  pembelajaran  sastra  dan  perubahan  sosial,  sekarang  akan  diuraikan  bagaimana  pembelajaran  apresiasi  sastra  dapat  dipergunakan  untuk  memahami  perubahan  sosial  yang  terjadi  dalam  masyarakat.
Nurgiyantoro  menyatakan  bahwa  sastra  merupakan  salah  satu  sumber  penting  dalam  pemahaman  budaya. t Hal  ini  dapat  diruntut  karena  dalam  karya  sastra  tercermin  pandangan  penulisnya  yang  terbentuk  dan  dipengaruhi  oleh  kebiasaan  hidup  yang  dijalaninya   dalam  kehidupan  bermasyarakat.  Dengan  kata   lain  penulis  karya  sastra  merupakan  bagian  tak  terpisahkan  dari  masyarakatnya  dan  diantara  keduanya  terjadi  hubungan  timbal  balik  dalam  penciptaan  karya  sastra.
Sehubungan  dengan  timbal  balik antara  pengarang  dan  masyarakat  patut  dikemukakan  di  sini  pendapat  Hardjana  bahwa  semua  pandangan,  sikap,  dan  nilai-nilai,  termasuk  didalamnya  kebutuhan-kebutuhan  seseorang,  termasuk  juga  pengarang,  ditimba  dari  sumber  tata  kemasyarakatan  yang  ada  dan  berlaku  dalam  masyarakat  dan  komunitas.  Jadi  jelaslah hubungan  timbal  balik  antara  masyarakat  dan  pengarang  keduanya  saling  mempengaruhi.
Hal  senada  juga  diungkapkan  ole   Faruk,  mengutip  pandangan  Marx  bahwa  struktur  sosial  suatu  masyarakat  juga  lembaga  didalamnya,  moralitasnya,  dan  kesusastraannya   ditentukan  oleh  kondisi  produktif  kehidupan  anggota  masyarakatnya  sendiri  termasuk  pengarang  didalamnya.  Ini  membawa  implikasi  bahwa  semakin  produktif  pengarang  mencipta  karya  sastra  dan  diapresiasi  masyarakat  pembacanya,  ini  merupakan  indikasi  dinamisnya  struktur  sosial  masyarakat  yang  bersangkutan.
Bertolak  dari  hal  tersebut  diatas,  dapatlah  kiranya  pembelajaran  cerita  pendek  digunakan  sebagai  titik  tolak  pemahaman  perubahan  sosial  yang  terjadi  mengingat  cerita  pendek  lahir  atau  merupakan  produk  dari  pengarang  yang  didalamnya  berisi  berbagai  masukan  yang  diperoleh  dari  kenyataan  yang  terpampang  dalam  kehidupan  dan  ditarik  kedalam  bingkai  permenungan  pengarang  dan  akhirnya  lahirlah  sebuah  karya.  Sebagai  langkah  awal  dalam  proses  apresiasi  seperti  yang  dimaksud  diatas,  perlulah  kiranya  adanya  kecermatan  dalam  pemilihan  cerita  pendek.  Karya-karya  yang  dipilih  untuk  diapresiasi  pembelajar  hendaknya  karya  yang  mengandung  perubahan-perubahan  nilai,  norma,  dan  tata  kehidupan  yang  ditawarkan  oleh  pengarang.  Cerita  pendek  yang  dipilih  hendaknya  diupayakan  sesuai  dengan  tingkat  perkambangan  usia  dan  pola  pikir  pembelajar   sehingga,  pembelajar  dapat  mengetahui  dan  memahami  perubahan  sosial  yang  terjadi  atau  diinginkan  atau  yang  ditawarkan  oleh  pengarangnya.
4.    Penerapan  langkah-langkah  apresiasi
Pada  bagian  ini  akan  dipaparkan  contoh  penerapan  langkah-langkah  apresiasi  cerita  pendek  yang  telah  dijelaskan  dimuka  dalam  pembelajaran  dikelas.  Cerpen  yang  akan  diapresiasi  berjudul  dini  hari  ke  garis  depan  karya  Bang  Hyun  Suk  seorang  cerpenis  terkenal  di  korea.  Cerita  pendek  ini  mengisahkan  suatu  kejadian  yang  mencekam  tentang  aksi  mogok  karyawan  pabrik.
1.    Langkah  pertama  dalam  apresiasi  cerpen  ini  adalah  menumbuhkan  keterlibatan  jiwa  pembelajar.  Hal  ini  bisa  ditempuh  dengan  mengajak  pembelajar  menemukan  masalah  yang  ada  dalam  cerpen  itu.  Apakah  masalah  itu  terjadi  karena  penguasa  pabrik  telah  berlaku  sewenang-wenang  dan  tidak  manusiawi  ?  apakah  para  pekerja  telah  menunaikan  tugasnya  dengan  benar  ?  ataukah  ada  hak-hak  atau  bagian  yang  tidak  dipenuhi  oleh  penguasa  pabrik  ?  untuk  menemukan  masalahnya,  kita  bimbing  pembelajar  untuk  ikut  merasakan  situasi  yang  ada  dalam  cerpen  itu.  Kita  ajak  mereka  untuk  masuk  dalam  suatu  pengandaian  dengan  menuntun  pembelajar  dengan  pertanyaan-pertanyaan  :  bagaimana  perasaan  anda  bila  menjadi  pekerja  pabrik  ?  langkah-langkah  apa  yang  harus  diambil  untuk  mengatasi  persoalan  itu  ?  atau  pertanyaan  :  bagaimana  perasaan  anda  bila  anda  menjadi  penguasa  pabrik  ?  apakah  anda  akan  marah,  bertanya-tanya,  protes,  atau  menuntut  jika  karyawan  menuntut  haknya  ?  bila  ini  benar-benar  terjadi,  ini  merupakan  gejala  yang  bagus  karena  dinamika  kelas  telah  tercipta  dan  ini  memudahkan  pengajar  untuk  menggali  informasi  atau  tanggapan  dari  pembelajar  untuk  mendapatkan  kesan  umum  terhadap  cerita  pendek  tersebut.
2.    Langkah  kedua
Apabila  langkah  pertama  sudah  selesai,  pengajar  bisa  membantu  pembelajar  untuk  masuk  ke  langkah  kedua  yaitu  mencermati  cara-cara  pengarang  dalam  menyajikan  cerita  pendek  itu.  Apakah  Bang  Hyun  Suk  sebagai  pengarang  sudah  menggambarkan  realitas  yang  tepat  dalam  cerpen  itu ?  bagaimana  Bang  Hyun  Suk  memilih  kata,  ungkapan,  dan   kalimat  dalam  cerpennya,  apakah  kata  dan  ungkapannya  sulit  dan  tidak  biasanya  bagi  pembelajar  apakah  ia  menggunakan  kalimat  yang  panjang  dan  kalimat  bertele-tele  atau  kalimat  yang  sederhana  tapi  penuh  dengan  makna ?
Pengajar  dapat  meminta  pembelajar  untuk  menunjukkan  beberapa  contoh  kata,  ungkapan,  dan  kalimat  yang  menurut   mereka  sulit  dipahami  atau  yang  menarik  perhatian  mereka  dan  membahasnya  bersama.  Pada  langkah  ini  pula  pengajar  dapat  meminta  pembelajar  untuk  menemukan  simbol-simbol  yang  dipakai  yang  dipakai  Bang  Hyun  Suk  dan  mencoba  menafsirkan  lambang  atau  simbol  tersebut.  Diakhir  langkah  kedua  ini,  pembelajar  diminta  mengutarakan  pendapat  /  kesan  mereka  terhadap  cara  penyajian  Bang  Hyun  Suk  dalam  cerpennya  dan  seberapa  jauh  cara  penyajian  cerita  tersebut  membantu  pembelajar  memahami  cerpen  dini  hari  ke  garis  depan.  Tukar  informasi  dan  pengalaman  dalam  langkah  ini  akan  membuat  situasi  kelas  lebih  hidup  dan  dinamis  serta  merangsang  pembelajar  untuk  berani  mengungkapkan  perasaan  dan  pendapatnya.
3.    Langkah  ketiga
Langkah  ketiga  adalah  proses  menemukan  hubungan  pengalaman  pembelajaran  yang  diperoleh  dari  pembaca  cerpen  dini  hari  ke  garis  depan  dengan  pengalaman  pembelajar  dalam  kehidupan  sehari-hari.
Hasil-hasil  apresiasi  di  langkah  pertama  dan  kedua  akan  sangat  membantu  pembelajar  untuk  memasuki  langkah  ketiga  ini  karena  mereka  tinggal  menemukan  titik  temu  hal-hal  yang  mereka  temukan  pada  tahap  sebelumnya  dengan  kehidupan  keseharian  mereka.  Apakah  mungkin  peristiwa  yang  terjadi  dalam  cerpen  itu  bisa  terjadi  dalam  kehidupan  sehari-hari ?  apabila  itu  bisa  terjadi  dalam  hidup  nyata,  bagaimana  seharusnya  mereka  bersikap ?
Pembelajar  juga  dapat  kita  bantu  untuk  sapai  pada  proses  mempertanyakan  kembali  apa  sebenarnya  yang  hendak  disampaikan  Bang  Hyun  Suk  dalam  cerpen  ini,  nilai-nilai  moral  apa  yang  bisa  diambil  dari  apresiasi  cerpen  ini,  atau  nilai-nilai  sosial  apa  yang  harus  ada  bila  peristiwa  seperti  dalam  cerpen  dinihari  ke  garis  depan  benar-benar  terjadi  ?
Langkah  ketiga  ini  bisa  membantu  pembelajar  untuk  lebih  peka  terhadp  masalah-masalah  yang  terjadi  disekelilingnya.  Sebagai  contoh,  apakah  mereka  peka  dengan  masalah-masalah  yang  berkaitan  dengan  toleransi  antarmasyarakat  di  tempat  mereka  tinggal ?  apabila  kepekaan  itu  sudah  mulai  ada  dalam  diri  mereka,  maka  nilai-nilai  sosial  dan  nilai-nilai  moral  yang  ada  dalam  cerpen  tersebut  dapat  membantu  mereka  dalam  menjalani   peran  mereka  baik  di  keluarga,  di  sekolah  dan  di  masyarakat.
Bila  ketiga  langkah  ketiga  apresiasi  sudah  dijalankan,  pengajar  bisa.    mendaptkan  umpan  balik  dari  pelaksanaan  proses  tersebut.  Umpan  balik  ini  sangat  penting  untuk  mengetahui  tingkat  pemahaman  belajar  dalam  setiap  langkah  apresiasi  dan  pemahaman  cerita  pendek  dinihari  ke  garis  depan.  Teknik  untuk  mendapat  umpan  balik  ini  bisa  dilakukan  dengan  cara  1.  Meminta  pembelajar  menyampaikan  hasil  apresiasi  secara  lisan  dalam  suatu  diskusi,  2.  Meminta  para  pembelajar  menuliskan  hasil  apresiasinya  baik  secara  individual  maupun  kelompok,  3.  Meminta  pembelajar  menukarkan  hasil  apresiasinya  atas  cerpen  itu  dengan  milik  temannya  sehingga  mereka  akan  semakin  diperkaya  oleh  berbagai  masukan  dari  temannya  sekaligus  melatih  mereka  untuk  menghargai  hasil  karya  teman  mereka,  4.  Pengajar  memberikan  masukan,  baik  lisan  maupun  tertulis  terhadap  hasil  karya  pembelajar  sehingga  mereka  mendapat  suatu  penguatan  ( reinforcement )  atas  hasil  apresiasi  mereka.  Masukan  ini  dapat  ditekankan  pada  kemampuan  pembelajar  dalam  menghubungkan  secara  logis  tiap  aspek  yang  ada  dalam  cerpen  dinihari  ke  garis  depan.

Penutup
Sebagai  catatan  akhir  dari  tulisan  ini  patutlah  kiranya  dimunculkan  beberapa  hal  disina  bahwa  pembelajaran  cerpen  dapat  dimulai  dengan  menumbuhkan  rasa  kecintaan  pembelajar  terhadap  karya  sastra  cerpen  yang  didalamnya  termuat  nilai-nilai,  norma-norma,  “ potret “  masyarakat  yang  ditangkap  oleh  pengarang.  Untuk  menjalani  proses  tersebut,  perlulah  kiranya  ditempuh  langkah  apresiasi  yang  dilaksanakan  secara  wajar  dan  berkesinambungan  dengan  cerita  pendek  yang  sesuai  dengan  tingkat  perkembangan  pembelajar.
Pemilihan  bahan  yang  tepat  sasaran  akan  sangat  membantu  pelaksanaan  langkah-langkah  apresiasi.  Untuk  itu,  penting  kiranya  juga  bila  pengajar  mempunyai  koleksi  cerita  pendek  tidak  hanya  karya-karya  bangsa  indonesia  tetapi  juga  karya-karya  penulis  asing  diantaranya  korea.  Dengan  begitu  pengajar  punya  banyak  pilihan  untuk  aktivitas  pembelajarannya.  Selain  itu,  perlu  juga  memberi  kesempatan  kepada  pembelajar  untuk  memilih  cerita  pendek,  membacanya,  dan  mengapresiasikannya.  Dengan  terlewatinya  seluruh  rangkaian  proses  tersebut  diharapkan  pembelajar  semakin  peka  terhadap  gejala-gejala  sosial  dan  perubahan  dinamika  masyarakat  tempat  mereka  menjalani  kehidupannya.

INOVASI  PEMBELAJARAN  DRAMA

Perkembangan  drama  di  indonesia  akhir-akhir  ini  begitu  pesat.  Hal  ini  terlihat  dari  banyaknya  pertunjukkan  drama  di  televisi,  drama  radio,  drama  kaset,  dan  juga  drama  pentas.  Organisasi  remaja,  baik  disekolah,  universitas,  karang  taruna  maupun  gelanggang  remaja  mempunyai  seksi  teater,  dalam  acara-acara  dan  kegiatan  kesenian  belum  afdol  kiranya  tanpa  pertunjukan  drama.  Demam  drama  sudah  begitu  meluas,  sehingga  jika  televisi  menyajikan  drama,  masyarakat  pasti  antusias  menyaksikannya.
Disekolah-sekolah,  naskah  drama  paling  tidak  diminati  Dr.  Yus  Rusyana  disimpulkan  bahwa  minat  siswa  dalam  membaca  karya  sastra  yang  terbanyak  adalah  prosa,  menyusul  puisi,  baru  kemudian  drama.  Perbandingannya  adalah  6:3:1 ( 1979 ).  Hal  ini  disebabkan  karena  menghayati  naskah  drama  yang  berupa  dialog  itu  cukup  sulit  dan  harus  tekun.  Dengan  pementasan  atau  pembacaan  oleh  orang  yang  terlatih,  hambatan  tersebut  kiranya  dapat  diatasi.  Penghayatan  naskah  drama  lebih  sulit  daripada  penghayatan  naskah  prosa  dan  puisi.
1.    Pembelajaran  sastra
Melalui  pembelajaran  sastra  mencerdaskan  siswsa,  memperkaya  pengalaman  batin,  dan  memanusiawikan  manusia.  Pembelajaran  sastra  pada  umumnya  dan  pembelajaran  drama  pada  khususnya  mengemban  misi  efektif,  yaitu  memperkaya  pengalaman  siswa  dan  menjadikannya  lebih  tanggap  terhadap  peristiwa-peristiwa  disekelilingnya.  Tujuan  akhirnya  adalah  menanam,  menumbuhkan,  dan  mengembangkan  kepekaan-kepekaan  terhadap  masalah-masalah  manusiawi,  pengenalan  dan  rasa  hormatnya  terhadap  tata  nilai,  baik  dalam  konteks  individual  maupun  sosial  ( Boen S. Oemarjati, dalam Sumardi, 1992: 96 )
Secara  khusus  pembelajaran  sastra  bertujuan  mengembangkan  kepekaan  siswa  terhadap  nilai-nilai  indrawi,  nilai-nilai  akali,  nilai  efektif,  nilai  sosial,  ataupun  gabunngan  keseluruhannya.  Dalam  konteks  inilah  pembelajaran  sastra  perlu  dilaksanakan.  Guru  dituntut  untuk  dapat  menjembatani  pemerolehan  pemahaman  siswa  melalui  unsur-unsur  instrinsik  maupun  ekstrinsik  dalam  karya  sastra.  Hal  ini  disebabkan  bahwa  sastra  pada  hakikatnya  menyajikan  suatu  ‘ kemungkinan ‘  dalam  menanggapi  suatu  permasalahan.  Kenyataan  yang  disajikan  karya  sastra  bukanlah  untuk  diperiksa  kebenarannya  terhadap  alam  nyata,  melainkan  bersifat  menghimbau  penikmat sastra  untuk  menyelam  dan  bila  perlu  menggali  untuk  menemukan  sesuatu  berupa  nilai-nilai.
2.    Drama  dan  dunia  anak  –  memesis-dulce  et  utile
Masa   kanak-kanak  merupakan  masa  perkaembangan  yang  memiliki  banyak  sisi.  Dari  sisi  kekanakannya,  anank-anak  akan  membutuhklan  pembelajaran  etika,  tentang  baik  dan  buruk  bagi  mereka.  Guru  dan  orang  tua  dituntut  untuk  dapat  menetapkan  ukuran-ukuran  yang  memadai,  dan  menggali  hal-hal  khusus  tentang  budi  pekerti,  serta  memperkayanya  agar  selalu  lebih  menarik  dan  menyenangkan bagi  anak  ( Abdul Majid, 2002 : VII )
Berkaitan  dengan  kegiatan  drama,  drama  anak-anak  merupakan  kegiatan  yang  dipersiapkan  untuk  pengembangan  daya  cipta  ( kreativitas )  dan  mendorong  ekspresi  pribadi.  Ditingkat  selanjutnya  kegiatan  drama  di  sekolah  dipergunakan  untuk  mempersiapkan  untuk  membantu  anak  menyesuaikan  diri  dengan  tuntutan-tuntutan  sosial  dalam  kehidupannya  ( Taylor, 1988 :2 )
Drama  hendaknya  mampu  mewadahi  dunia  anak-anak.  Selain  sebagi  tempat  untuk  mengekspresikan  diri,  juga  tempat  bermain  dan  memperoleh  kesenangan  dalam  kelompok.  Drama  anak-anak  harus  dibangun  dengan  pemahaman  dulce et utile,  sweet,  and  useful.  Hal  tersebut  disebabkan  eksistensi  drama  adalah  menampilkan  cerminan  kejadian  dalam  kehidupan  ( mimesis ).  Oleh  sebab  itu  drama  anak-anak  juga  harus  dapat  dipakai  mewadahi  kehidupan  anak  melalui  cerita-cerita  yang  dipentaskannya.
3.    Pembelajaran  drama
Pembelajaran  drama  disekolah  dapat  ditafsirkan  dua  macam  yaitu :  pembelajaran  teori  drama,  atau  pembelajaran  apresiasi  drama.  Masing-masing  juga  terdiri  atas  dua  jenis,  yaitu  :  pembelajaran  teori  tentang  teks  naskah  drama,  dan  pembelajaran  tentang  teori  pementasan  drama.  Pembelajaran  apresiasi  dibahas  naskah  drama  dan  apresiasi  pementasan  irama.  Dalam  apresiasi  yang  itu  naskah  maupun  pementasan.  Tampaknya  kedua  hal  ini  penting,  hanya  saja  tekanannya  harus  pada  aspek  apresiasi.  Jika  teori-teori  termasuk  dalam  kawasan  kognitif,  maka  apresiasi  menitik  beratkan  kawasan  afektif  ( sesuai dengan taksonomi Bloom ).
Untuk  menguraikan  pembelajaran  apresiasi  drama,  maka  kita  berhadapan  dengan  berbagai  disiplin  ilmu,  yaitu  sebagai  berikut :
1.    Sastra.  Ilmu  jiwa
2.    Metode  pembelajaran  sastra
3.    Tujuan  dan  evaluasi
4.    Aspek  kurikulum

Materi  pembelajaran  juga  harus  disesuaikan  dengan  jenjang  pendidikan  sekolah.  Perihal  materi  ini  ada  berbagai  pendapat  materi  teori  drama  dan  materi  apresiasi  drama.  Materi  teori  drama  berupa  buku  pegangan  teoritis  tentang  apa  dan  bagaimana  serta  untuk  apanya  drama.  Semakin  tinggi  jenjang  pendidikan  tentulah  semakin  canggih  dan  mendalam  ( detail ).  Materi  apresiasi  berupa  naskah  drama.  Pemilihan  naskah  disesuaikan  dengan  jenjang  pendidikan  ( unsur  perkembangan  psikologis ).
Saat  ini  disadari,  bahwa  drama  semakin  populer  di  sekolah.  Guru  tentu  saja  harus  mampu  mengajarkan  drama,  baik  itu  dalam  hal  teori  maupun  dalam  hal  apresiasi,  baik  itu  dalam  hal  naskah  ataupun  dalam  hal  pementasan.  Lewat  dramatisasi,  dimungkinkan  suatu  pengetahuan,  dapat  menjadi  sikap,  dan  kemudian  menjadi  tingkah  laku  ( penghayatan dan pengalaman ).
Di  pihak  lain,  murid-murid   yang  sering  berpentas  merasa  sudah  puas  dan  berlaku  sebagai  “ aktor “.  Padahal  ada  dimensi  lain  yang  harus  mereka  kuasai  lebih  dari  berpentas,  yaitu   pengetahuan  yang  mempertinggi  tingkat  apresiasi  mereka.  Merasa  sudah  tahu,  padahal  belum  tahu,  merupakan  penyakit  para  pemula.  Sebaliknya  mereka  yang  banyak  berteori  ( seperti guru sastra )  merasa  bahwa  pemantasan  dan  naskah  drama  yang  tidak  penting  untuk  dibaca  ( dipelajari ).  Didalam  khasanah  drama  indonesia,  banyak  diterbitkan  naskah-naskah  drama  yang  sudah  dinilai  kualitasnya,  tetapi  tidak  banyak  dibaca  oleh  mereka  yang  bernama  cendikiawan,  bahkan  juga  mereka  yang  dari  jurusan  bahasa  dan  sastra  indonesia.  Menurut  penelitian  Dr.  Yus  Rusyana,  perbandingan  kegiatan  mengapresiasi  prosa,  puisi,  dan  drama  berbanding  6:3:1 ( Jakarta, 1979 ).
Selama  ini  guru  sastra  masih  terpaku  pada  penilaian  dan  tujuan  mengajar  dalam  aspek  kognitif.  Padahal  drama  sebagai  karya  seni,  mestinya  juga  mencapai  aspek  apresiasi.  Tujuan  pembelajaran  ini  kiranya  harus  segera  diatasi.  Apalagi  jika  terdapat  tuntutan  bahwa  aspek  apresiasi  harus  lebih  dititikberatkan  dalam  pembelajaran  sastra  ( termasuk drama )  daripada  aspek  pengetahuan  ( teori ),  dan  strategi  juga  harus  diperbaiki.
Harus  diakui,  bahwa  naskah-naskah  drama  memang  sulit  didapat.  Didepan telah  disebutkan,  bahwa  jalan  terbaik  untuk  mendapatkan  naskah  adalah  lewat  bank  naskah  pada  setiap  teater  drama.  Akan  tetapi  yang  terbaik  lag
Jika  guru  dan  murid  mencoba  menciptakan  naskah-naskah  sederhana.  Sebagai  contoh  menaskahkan  sesuatu  roleplaying  atau  cerita-cerita  daerah  setempat.
Suasana  kondusif  memang  perlu  diciptakan  oleh  sekolah.  Suasana  kondusif  disini  berarti  kondusif  dalam  mengembangkan  kreativitas  siswa.  Sekolah  sebagai  institusi  menjadi  obor  dan  penggerak  bagi  kreativitas  siswa.  Kegiatan  drama  dan  apresiasi  seni  yang  lain  diberi  wadah  sekolah,  diberi  alokasi  dana,  diberi  temivitapat  berkiprah,  dan  aktivitasnya  mendapat  imbalan  yang  sesuai.
Moody  menyatakan,  bahwa  drama  merupakan  bentuk  kebudayaan  yang  melekat  erat  pada  kebudayaan  dan  kebiasaan  manusia  diseluruh  dunia.  Drama  dapat  mengantarkan  murid-murid  ke  kedewasaannya,  dengan  melatih  siswa  mengalami  berbagai  macam  pengalaman  hidup  manusia  dalam  naskah  yang  dibawakan.  Dengan  mementaskan  drama,  siswa  dapat  mengerti  manusia  lain  dengan  lebih  nyata.
Guru  drama  hendaknya  mampu  memperkenalkan  drama  terhadap  siswa,  kemudian  membimbing  apresiasi  drama,  membuat  mereka  menyenangi,  menggemari,  dan  menjadikan  drama  sebagai  nilai-nilai  luhur  dalam  kehidupan,  maka  drama-drama  yang  abadi  seperti :  Oedipus  sang  raja,  Hamlet,  Machbet,  Othelo,  Julius Caesar,  dan  sebainya,  sebaiknya  diperkenalkan  kepada  siswa.  Bukan  lewat  penceritaan,  tetapi  agar  mereka  membaca  sendiri  atau  menonton  pementasannya.
Saat  ini  banyak  rekaman-rekaman  sandiwara  yang  cukup  bagus  mutunya.  Rekaman  itu  dapat  dijadikan  bahan  diskusi  kelas.  Biasanya  rekaman  drama  merupakan  hasil  kerja  tenaga  kerja  profesional,baik  dalam  hal  mengolah  dialog  ( meliputi perwatakannya ),  musik,  maupun  sound  effact.  Cerita  yang  dipilih  juga  sudah  mulai  seleksi.  Jadi,  drama  kaset  itu  dapat  dijadikan  bahan  diskusi  kelas  yang  cukup  baik.  Sebelum  mementaskan  drama-drama besar,  sebaiknya  dipentaskan  drama-drama  sederhana  yang  tidak  membutuhkan  latihan  watak  yang  cukup  sulit.  Oleh  sebab  itu,  sosiodrama,  role-playing,  akan  banyak  disinggung  disini.  Pendramaan  cerita-cerita  rakyat  yang  sudah  terkenal.  Baik  secara  tradisional  maupun  diberi  bentuk  baru,  juga  dapat  dikatakan  sebagai  latihan  pendahuluan  pementasan  drama.
Beberapa  pertanyaan  yang  muncul,  tugas  guru  bahasa  indonesia  menjadi  semakin  banyak,  tetapi  harus  disadari,  bahwa  pelajaran  drama  dapat  menjadi  suatuan   gabungan  antara  pelajaran  sastra,  dan  pelajaran  keterasmpilan  berbahasa  ( menyimak, membaca, wicara,dan menulis ).  Sebagai  contoh,  jika  naskah  dibuat  sendiri  atau  siswa  ditugasi  membuat  resensi  terhadap  pementasan  atau  pembacaan,  maka  didalam  pelajaran  ini  terkandung  pula  pelajaran  keterampilan  menulis.( latihan pemahaman dan penggunaan bahasa ).
Pembelajaran  drama  disekolah.
Pembelajaran  drama  di  sekolah  dapat  diklarifikasikan  ke  dalam  dua  golongan,  yaitu :  1.  Pembelajaran  teks  drama  yang  termasuk  sastra,  dan  2.  Pementasan  drama  yang  termasuk  bidang  teater.  Dalam  pembelajaran  teks  drama  ini,  dianjurkan  pula  untuk  mementaskan  meskipun  satu  catur  wulan  mungkin  hanya  dua  atau  tiga  kali  pementasan  sederhana.
Dalam  pementasan  drama  dibahas  pementasan  drama  dikelas  ( untuk  demonstrasi )  dan  pementasan  untuk  sekolah  yang  ditonton  oleh  seluruh  siswa  di  sekolah  itu.  Pementasan  jenis  pertama  dilakukan  oleh  guru  bahasa  indonesia  ( bahasa inggris ),  sedangkan  jenis  kedua  biasanya  dilakukan  oleh  teater  sekolah,  atau  atas  kerjasama  guru  bahasa  indonesia,  teater  sekolah,  dan  osis.
Kesulitan  dalam  pembelajaran drama  dikelas  adalah  dalam  hal  memperoleh  naskah-naskah  pendek  dengan  lama  pentas  ( durasi )  30  menit.  Kebanyakan  teks  drama  dari  karya-karya  dramawan  berdurasi  minimal  90  menit.  Ada  yang  durasinya  360  menit.  Drama-drama  yang  ditulis  para  dramawan  coccok  untuk  pentas  sekolah  ( bukan kelas ).  Untuk  pementasan  kelas,  murid-murid  perlu  menyusun  teks  sendiri.  Dapat  juga  guru  yang  menyusun  kemudian  didiskusikan  untuk  memperbaiki  bersama  kondisi  dan  situasi  kelas  atau  sekolah.
Kesulitan-kesulitan  dalam  pembinaan  teater  di  sekolah  antara  lain  adala  :
a.    Kekurangan  pelatih  atau  sutradara  yang  dedikatif.  Dikatakan  dedikatif  karena  dituntut  kerja  keras  sementara  honornya  relatif  kecil.
b.    Kekurangan  naskah  drama  yang  cukup  pendek  dan  temannya  relevan  dengan  tuntutan  sekolah.
c.    Kekurangan  peserta  yang  dedikatif  dalam  berlatih
d.    Kekurangan  fasilitas  pentas
e.    Kekurangan  biaya  latihan  dan  biaya  pementasan
f.    Kekurangan  perhatian  dan  bantuan  pimpinan  sekolah  demi  koninyuitas  pementasan  dan  perkembangan  drama  di  sekolah.
g.    Kurangnya  petugas  teknis  dan  artistik
Naskah-naskah  drama  besar  yang  disusun  dramawan  biasanya  sulit  dihayati  oleh  lingkungan  sekolah.  Sebagai  contoh  :  “ Mega-mega “ ( Arifin C. Noer ),  “ kapai-kapai “ ( Arifin C. Noer ), “ Ebrek Ewek-ewek “ ( Danarto ), “  Dag Dig Dug “( Putu Widjaya ),  “ joko Tarub “ ( Akhudiat ), “ Obrok Owok-owok “, “ Ebrek Ewek-ewek “ ( Danarto ), “ Opera Kecoa “ ( Riantiarno ), “ Taman “ ( Iwan simatupang )  dan  banyak  naskah  drama  lain  yang  banyak  dipentaskan  oleh  para  dramawan  merupakan  drama-drama  yang  sulit  di  suguhkan  disekolah.
Lakon-lakon  karya  Williams  Shakespeare ( seperti “Hamlet “, “ Macbeth “, Saudagar Venesia “, dan “ Impian  di  tengah Musim “ )  terlalu  panjang  disusun  dalam  bentuk  puisi.  Perlu  ada  penyederha  naan  atau  penyaduran  tanpa  mengurangi  kualitas  dramatik  lakon-lakon  tersebut.  Demikian  juga  lakon-lakon  tragedi  karya  Sophodes  ( “ Oedipus  sang  Raja,” “ Oedipus di Kolonus “, “ Antigone “ ),  karya  Samuel  Beckett  ( “ menunggu Godot )  dan  sebagainya.  Murid-murid  perlu  mengapresiasi  dan  menghayati  lakon-lakon  besar  dunia  ( setelah disederhanakan dan lebih singkat ).
Lakon-lakon  dari  cerita  rakyat  yang  bersifat  kedaerahan  sebe  tulnya  merupakan  kekayaan  yang  perlu  digali.  Melalui  pengkajian  cerita  rakyat  secara  seksama,  kiranya  pembinaan  group  drama  tidak  akan  kekurangan  lakon.  Dialog  disusun  sedemikian  sederhana  dan  komunikatif,  dan  panjangnya  disesuaikan  dengan  kebutuhan  pementasan  di  sekolah.  Cerita-cerita  kedaerahan  yang  cukup  kuat, misalnya :  Sri  Tanjung,  Panji  Semirang,  Ken  Arok,  Ande-ande  Lumut,  Bansacara-Ragapadmi,  Airlangga,  Anusapati, Damarwulan  ayau  Minak  Jinggo,  Warok  Suremenggolo  ( Jawa Timur ),  Roro  Mendut,  Ki  Ageng  Mangir,  Aryo  Panangsang,  Joko  Tingkir,  Mahesa  Jenar (  Nogo sosro Sabuk Inten ),  Raden  Mas  Said, Roro  Jonggrang  ( Jawa Tengah ),  Lutung  Kasarung  ( Putri Purbosari ),  Mundinglaya,  Kamandaka,  Sangkuriang,  Si  Kabayan,  Prabu  siliwangi  ( Jawa Barat ),  Calon  Arang  ( Bali ),  Malin  Kundang,  Lebai  Malang,  Pan  Pandir  ( Minangkabau ),  dan  sebagainya.
Lakon-lakon  dari  cerita  seribu  malam  seperti  Sinbad,  Ali  Baba,  Putri  Jauhar  Manik,  Aladin  dengan  7  Lampu  Wasiat,  dan  Abu  Nawas  dapat  ditaa  menjadi  cerita  drama  yang  menarik  untuk  dipentaskan.
Beberapa  latihan  yang  dapat  dilaksanakan  pada  pembelajaran  drama  disekolah  antara  lain  :
a.    Latihan  Membaca  Drama
Teks  drama  adalah  wacan  dialog  yang  berbeda-beda  dengan  teks  prosa.  Wacana  dialog  lebih  sulit  dibaca  ( dipahami )  karena  dialog  tokoh  yang  satu  dilengkapi  oleh  tokah  yang  lain.  Wacana  dialog  seorang  tokoh  belum  tentu  menyiapkan  kali utuh  yang  memiliki  maksud  lengkap.  Demikian  juga  jawaban  tokoh  lainnya  bukan  merupakan  kalimat lengkap.
b.    Latihan  Mendengarkan  Drama
Teks  drama  dapat  dibaca  didepan  kelas  oleh  beberapa  murid  ( sesuai  dengan  kebutuhan  peran  yang  ada ).  Murid-murid  mendengarkan  mencatat  tema  dan  isinya,  dan  berusaha  untuk  dapat  menanggapi  hasil  kegiatan  mendengarkan  itu.
Guru  dapat  juga  mendengarkan  tugas  untuk  mendengarkan  drama  radio  atau  drama  televisi  ( dari video, kaset, atau televisi ).  Tema,  isi,  dan  cerita  harus  dipahami  oleh  siswa  sebagai  bahan  diskusi  kelas  atau  membuka  resensi.
Guru  dapat  juga  memberi  tugas  kepada  murid  untuk  menonton  pertunjukan  drama.  Mereka  diberi  tugas  untuk  mencatat  isi,  pembicaraan,  tema,  dan  cerita  drama  tersebut.  Hasil  aktivitas  ini  dapat  digunakan  untuk  resensi  ( menulis ).
c.    Latihan  Menulis
Latihan  menulis  yang  berkaitan  dengan  pembelajaran  drama  dapat  berupa  menulis  teks  drama  (sederhana ),  menulis  sinopsis  drama,  menulis  sanduran  drama,  dan  menulis  resensi  ( teks  drama  maupun  pementasan  drama ).  Tugas  menulis  itu  dapat  individual  dan  juga  berkelompok.  Hasilnya  dapat  dilaporkan  kepada  guru  secara  trtulis,  dapat  juga  dapat  dibaca  didepan  kelas.
d.    Latihan  Wicara
Untuk  latihan  wicara  dapat  dilaksanakan  dengan  menceritakan  isi  singkat  drama  di  depan  kelas  dan  pendramaan  teks  drama.  Dengan  pendramaan  itu,  dapat  dibina  kelancaran  berbicara.  Latihan  wicara  ini  dapat  juga  dilakukan  dalam  pengkasetan  dialog  seperti  dalm  drama  radio.  Dalam  hal  ini,  penjiwaan  terhadap  peran  yang  dibawakan  perlu  dilatih  secara  baik.  Karena  itu,  kelancaran  berwicara  dapat  dilatih  melalui  pentas  atau  pengkasetan  drama.
Untuk  keperluan  latihan  pemahaman  dan  pengunaan  bahasa,  pementasan  drama  lebih  lengkap.  Dalam  pentas  drama,  siswa  terlibat  aspek  kognitif,  afektif,  dan  psikomotoriknya.  Oleh  karena  itu,  prinsip-prinsip  dramatisasi  ( dalm arti drama pentas )  banyak  digunakan  untuk  diaplikasikan  dalam  metode  mengajar  yang  sifatnya  baru  ( inovasi ).

Perumusan  masalah
Berdasarkan  uraian-uraian  sebagaimana  dikemukakan  pada  pendahuluan,  dapat  dirumukan  masalah-masalah  sebagai  berikut  :
a.    Kendala-kendala  apa  sajakah  yang  terjadi  pada  pembelajaran seni  drama  di  smp  di  wilayah  Diknas  kabupaten  Bojonegoro ?
b.    Bagaimanakah  pembelajaran  seni  drama  dilaksanakan  di  smp  di  wilayah  Diknas  kabupaten  Bojonegoro ?
c.    Pendekatan,  mtoda,  dan  teknik  apa  sajakah  yang  dipakai  sebagai  pembentukan  model  pembelajaran  drama  di  Smp  di  wilayah  Diknas  kabupaten  Bojonegoro ?
d.    Bagaimanakah  merancang  pengembangan  model  yang  sesuai  dengan  karakteristik  dunia  anak  di  tingkat  Smp ?

Tujuan  kegiatan
a.     Mendeskripsikan  pelaksanaan  pembelajaran  seni  drama  di  Smp  wilayah  Diknas  kabupaten  Bojonegoro.
b.    Mengidentifikasi  kendala-kendala  dalam  pembelajaran  seni  drama  di  Smp  di  wilayah  Diknas  kabupaten  Bojonegoeknik  yang  dapat  dipakai ro.
c.    Merancang  pendekatan,  metoda,  dan  teknik  yang  dipakai  sebagai  pembentukan  model  pembelajaran  drama  di  Smp  di  wilayah  Diknas  kabupaten  Bojonegoro.
d.    Bagaimanakah  merancang  pengembangan  model  pembelajaran  yang  sesuai  dengan  karakteristik  dunia  di  tingkat  SMP.

Kontribusi  Kegiatan
a.    Bagi  pelaksanaan  PPM
Hasil  pelatihan  guru-guru  smp  ini  nantinya  diharapkan  dapat  memperluas  cakrawala  berpikir,  sehingga  akan  mendorong  kreativitas  yang  baru  dalam   rangka  membantu  pendidik  ( guru smp )  dalam  mendesain  pembelajaran  seni  drama  di  Smp  secara  secara  memadai.  Hasil  pelatihan  ini  nantinya  diharapkan  juga  dapat  dipakai  pijakan  untuk  mendesain  model-model  pembelajaran  yang  lain,  sehingga  akan  memperkaya  khasanah  pembelajaran  seni  drama  di  SMP.
b.    Bagi  guru  SMP
Pelatihan  ini  merupakan  langkah  untuk  memperbaiki  pola  dan  teknik  pembelajaran  tradisional  yang  lazim  dilaksanakan  di  SMP.  Hasil  pelatihan  tentang  pembelajaran  drama  di  SMP  ini  diharapkan  dapat  memberikan  penyegaran  terhadap  guru  SMP  tentang  bagaimana  seyogyanya  pembelajaran  drama  dilaksanakan.

c.    Pelatihan  ini  merupakan  masukan  yang  berharga  guna  dipakai  sebagai  pertimbangan  dalam  menyusun  kebijakan-kebijakan  di  SMP,  khususnya  yang  bersangkut  paut  dengan  pengembangan  profesionalisasi  guru  SD  di  wilayah  Diknas  kabupaten  Bojonegoro.

TUGAS INOVASI PEMBELAJARAN SASTRA

Oleh
Sonya Diah Wulandari
NIM
0908056040

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA 2010

Karya sastra Indonesia dapat dibagi menjadi 2 menurut zaman pembuatan karya sastra tersebut. Yang pertama adalah karya sastra lama Indonesia dan karya sastra baru Indonesia. Masing-masing karya memiliki ciri khas tersendiri.
Karya sastra lama adalah karya sastra yang lahir dalam masyarakat lama, yaitu suatu masyarakat yang masih memegang adat istiadat yang berlaku di daerahnya. Karya sastra lama biasanya bersifat moral, pendidikan, nasihat, adat istiadat, serta ajaran-ajaran agama. Sastra lama Indonesia memiliki ciri-ciri :
1.    Terikat oleh kebiasaan dan adat masyarakat
2.    Bersifat istana sentries
3.    Bentuknya baku
4.    Biasanya nama pengarangnyatidak disertakan (anonim).
Bentuk sastra baru Indonesia antara lain adalah Roman, Novel, Cerpen, dan Puisi Modern.
1.    Puisi  adalah seni tertulis dimana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Menurut Dresden puisi adalah sebuah dunia dalam kata. Isi yang terkandung di dalam puisi merupakan cerminan pengalaman, pengetahuan, dan perasaan penyair yang membentuk sebuah dunia bernama puisi. Kesusastraan, khususnya puisi adalah cabang seni yang paling sulit untuk dihayati secara langsung sebagai totalitas. Elemen-elemen seni ini ialah kata. Sebuah kata adalah suatu unit totalitas utuh yang kuat berdiri sendiri. Puisi menjadi totalitas-totalitas baru dalam pembentukan-pembentukan baru, dalam kalimat-kalimat yang telah mempunyai suatu urutan yang logis. Sedangkan menurut Suyuti puisi adalah pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek-aspek bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individu dan sosialnya, yang diungkapkan dengan teknik tertentu sehingga puisi itu dapat membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengarnya.
Sedangkan unsur-unsur puisi menurut Dick Hartoko adalah puisi tersendiri dari dua unsur, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsure sintaksis puisi. Unsure tematik atau unsur semantik puisi menuju ke arah struktur batin sedangkan unsur sintaksis mengarah pada struktur fisik puisi. Struktur batin adalah makna yang terkandung dalam puisi yang tidak secara langsung dapat dihayati. Struktur batin terdiri dari :
(1). Tema
(2). Perasaan
(3). Nada dan suasana
(4). Amanat atau  pesan
Struktur fisik adalah struktur yang bisa kita lihat melalui bahasanya yang tampak. Struktur fisik terdiri dari :
1)    Diksi
2)    Pengimajian
3)    Kata konkret
4)    Bahasa figuratif atau majas
5)    Versifikasi
6)    Tata wajah
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literature tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.
Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zig-zag,dll). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannya. Puisi terkadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala ‘keanehan’ yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi. Ada beberapa perbedaan antara puisi lama dan puisi baru.
a.    Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang terikat olehaturan-aturan . aturan-aturan itu antara lain:
•    Jumlah kata dalam 1 baris
•    Jumlah baris dalam 1 bait
•    Persajakan (rima)
•    Banyak suku kata tiap baris
•    Irama
Jenis-jenis puisi lama
•    Mantra
Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Contoh :
Assalammu’alaikum putrid satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu

•    Gurindam
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (india).
Ciri-ciri Gurindam:
a.    Sajak akhir berirama a- a; b- b; c- c; dst.
b.    Berasal dari Tamil (india).
c.    Isinya merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatu sebab akibat.
Contoh:
Kurang piker kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang (b)
Bagai rumah tiada bertiang (b)
Jika suami tiada berhati lurus (c)
Istri pun kelak menjadi kurus (c)
b.    Puisi baru
Puisi baru disebut juga puisi modern. Bentuk puisi baru bebas daripada puisi lama. Kalau puisi lama sangat terikat pada aturan-aturan yang ketat, puisi baru lebih bebas. Meskipun demikian hakikat puisi tetap dipertahankan seperti rima, irama, pilihan kata, dll.
Hakikat puisi ada tiga hal, yaitu :
1.    Sifat seni atau fungsi estetika
Sebuah puisi haruslah indah. Unsure-unsur keindahan dalam puisi misalnya: rima, irama, pilihan kata yang tepat, dan gaya bahasanya.
2.    Kepadatan
Puisi sangat padat makna atau pesan. Artinya, penulis hanya mengemukakan inti masalahnya. Jadi, kata-kata perlu dipilih supaya mampu mengungkapkan gagasan yang sebenarnya.
3.    Ekspresi tidak langsung
Puisi banyak menggunakan kata kiasan. Bahasa kias adalah ucapan yang tidak langsung. Jadi dia harus berpikir untuk memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.
•    Rima
Rima adalah persamaan atau pengulangan bunyi. Bunyi yang sama itu tidak terbatas pada akhir baris, tetapi juga untuk keseluruhan baris, bahkan juga bait. Persamaan bunyi yang dimaksudkan disini adalah persamaan (pengulangan) bunyi yang memberikan kesan merdu, indah, dan dapat mendorong suasana yang dikehendaki oleh penyair dalam puisi.
Rima bisa berupa:
Pengulangan bunyi-bunyi konsonan dari kata-kata berurutan (aliterasi).
Persamaan bunyi vocal dalam deretan kata (asonansi)
Persamaan bunyi yang terdapat setiap akhir baris.
•    Irama
Iram sama dengan ritme. Irama diartikan sebagai alunan yang terjadi karena pengulangan dan pergantian kesatuan bunyi dalam arus panjang pendek bunyi. Jadi, irama dikatakan memiliki :
1.    Pengulangan
2.    Pergantian bunyi dalam arus panjang pendek.
3.    Memiliki keteraturan.
Contoh :
Piring putih piring bersabun
Disabun anak orang Cina
Memetik bunga dalam kebun
Setangkai saja yang menggila
•    Diksi
Diksi adalah pemilihan kata untuk menyampaikan gagasan secara tepat. Selain itu, diksi juga berarti :
1.    Kemampuan memilih kata dengan cer4mat sehingga dapat membedakan secara tepat nuansa makna (perbedaan makna yang halus) gagasan yang ingin disampaikan.
2.    Kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa.
Kemampuan memilih dan menyusun kata amat penting bagi penyair. Sebab, pilihan dan susunan kata yang tepat dapat menghasilkan :
1.    Rangkaian bunyi yang merdu.
2.    Makna yang dapat menimbulkan rasa estetis (keindahan).
3.    Kepadatan bayangan yang dapat menimbulkan kesan mendalam.
Misalnya, pemilihan dan penyusunan kata seperti gelombang melembung tinggi, atau roda pedati berderak-derak atau hilang terbang atau meradang menerjang, atau hilang rasa, selain menimbulkan kemerduan bunyi, juga menimbulkan rasa estetis dan kesan mendalam.
Memilih kata yang tepat memang tidak mudah. Oleh karena itu, menulis puisi kadang-kadang tidak sekali jadi. Puisi yang sudah jadi pun kadang-kadang masih mengalami bongkar pasang kata sampai dirasakan pas oleh penyairnya.
•    Citraan
Ketika membaca puisi, kita sering merasakan seolah-olah ikut hanyut dalam suasana yang diciptakan oleh penyair di dalam puisinya. Ketika penyair mengungkapkan peristiwa yang menyedihkan kita ikut larut dalam suasana sedih. Demikian juga kalau penyair mengungkapkan perasaan dendam, kecewa, marah, benci, cinta, bahagia, dan sebagainya.
Citraan adalah gambaran angan yang muncul di benak pembaca puisi. Lebih lengkapnya, citraan adalah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya. Wujud gambaran dalam angan itu adalah “sesuatu” yang dapat dilihat, dicium, diraba, dikecap, dan didengar (panca indera). Akan tetapi “sesuatu” yang dapat dilihat, dicium, diraba, dikecap, dan didengarkan itu tidak benar-benar ada, hanya dalam angan-angan pembaca atau pendengar.
•    Makna denotasi dan makna konotasi
Pada dasarnya, kata memang selalu mengacu pada makna referensinya, yaitu makna yang ada dalam pikiran pemakainya. Makna yang demikian itu tertulis dalam kamus. Misalnya, kata kursi maknanya “tempat duduk berkaki dan bersandaran “. Makna yang demikian disebut makna denotatif.
Kata, selain bermakna denotative, juga bermakna konotatif. Makna konotatif adalah makna yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan oleh pembicara atau pendengar. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna tambahan yang timbul berdasarkan nilai rasa seseorang. Kata hujan dalam kamus berarti “titik-titik air berjatuhan dari udara lewat proses pendinginan “. Tetapi kata hujan bisa berarti ”rahmat” bagi petani dan “petaka”bagi orang Jakarta.
•    Memparafrasekan sebagai sarana memahami puisi
Disamping kata-kata bermakna konotasi, kekhasan lain dari bahasa puisi adalah bersifat padat dan singkat.
c.    A
d.    a
e.
Inovasi Pembelajaran Puisi
PENGANTAR
Membangun imajinasi mungkin bukan sulit bagi murid sekolah dasar, tetapi bila imajinasi itu harus dituangkan ke dalam bentuk puisi persolannya akan lain. Oleh karena itu, mengajarkan penulisan puisi bagi murid sekolah dasar bukan hal yang mudah. Kreativitas guru memang harus dikedepankan, tetapi lebih dari itu, kreativitas murid harus pula dikembangkan. Sinergi antara keduanya dapat terwujud manakala murid dan guru dapat secara bersama-sama melakukan kegiatan penginderaan terhadap objek tertentu, mendiskusikan pengalaman yang diperoleh, dan berbagi baik antara guru dan murid maupun antarsesama murid.
LANGKAH MENCARI OBJEK AMATAN SEBAGAI DASARPENULISAN
Beberapa langkah dapat ditempuh untuk mendapatkan pengalaman inderawi atas objek yang diamati. Perlu ditekankan bahwa murid harus mengamati objek secara rinci, teliti, dan cermat. Pengamatan ini dapat dilakukan secara individual atau berkelompok. Berikut contoh-contoh langkah yang dapat ditempuh.
1. Mengamati Benda dari Jarak Dekat
Bawalah buah (misalnya jeruk, pisang, atau salak) ke dalam kelas dan bagikan kepada para murid, mintalah mereka untuk melihat, memegang, mencium, mengupas, lalu memakannya dengan mengunyah hingga lumat sebelum menelan.
Setiap siswa diminta berbagi cerita tentang apa yang mereka alami. Sesudah itu, mintalah mereka untuk menuliskan pengalaman inderawinya menggunakan kata-kata yang mereka suka. Kemungkinan bentuk yang dapat dihasilkan adalah sebagai berikut.
JERUK
Kulitmu berkerut tetapi lembut
Membuat aku ragu ketika harus mengupasmu
Aku suka baumu
berbeda dari bau keringat abangku
PISANG
Ini pisang bukan sembarang pisang
Pemberian tulus dari bu guru
Walau engkau teramat aku sayang
Aku terpaksa mengupasmu
Setelah kumakan aku kenyang
Dan kamu rela menjadi santapanku
2.MengamatiPemandanganAlam
Bila keadaan memungkinkan, ajaklah musrid keluar dari kelas. Mintalah mereka untuk mengamati apa saja yang mereka minati. Alam terbuka memungkinkan murid untuk melihat banyak hal. Oleh karena itu, jangan batasi mereka kepada objek tertentu. Akan tetapi bila Anda sebagai guru tertarik pada objek tertentu, boleh saja Anda mengutarakannya kepada murid-murid. Misalnya, Anda berkata, “Awan di atas gunung itu bagus ya.” atau “Merdu benar kicau burung di pohon itu.”
Setelah pengamatan dilakukan, mintalah murid bercerita untuk mengungkapkan kesan apa yang paling mendalam dari objek yang dilihat. Berilah kesempatan agar semua siswa mendapat giliran untuk berbagi. Setelah itu, barulah mereka diminta untuk menuliskan pengalaman inderawinya ke dalam bentuk puisi. Kemungkinan di antara murid-murid itu ada yang melulis puisi mirip dengan yang berikut ini.
AWAN
Awan, kamu siapanya mendung?
Mengapa kamu membubung
Lalu bergeser-geser seperti orang bingung?
Namaku Nina, ayahku pilot.
Kamu jangan menghalangi pesawat ayahku ya!
GUNUNG
Gunung, kenapa sih kamu dari dulu berada di situ?
Gunung, kenapa sih warna kulitmu kelihatan biru?
Gunung, kenapa sih orang-orang suka mengunjungimu?
Oh sekarang aku tahu, kamu indah
Pagi, siang, sore tak pernah berubah
Tetap saja indah

3. Mengamati Aktivitas Binatang
Ajaklah siswa mengamati binatang, tidak harus pergi ke kebun binatang. Manfaatkan objek yang terdekat saja. Binatang apa saja layak menjadi objek amatan, misalnya, angsa, kucing, semut, lalat, ayam, kelinci. Lagi-lagi, jangan lupa meminta siswa untuk mengamati objek dengan teliti, memperhatikan detil fisiknya, tingkah lakunya, dan lain sebagainya. Pastikan bahwa murid-murid Anda aman, Jangan sampai menjadi celaka, misalnya, disosor angsa, digigit semut, atau dicakar kucing.
Setelah pengamatan selesai dilakukan, mintalah murid-murid untuk berbagi cerita tentang apa yang diamati, dan jangan lupa untuk mencatat hal-hal paling berkesan atas objek amatan masing-masing. Bila pengamatan dilakukan secara individual setiap siswa harus diberi giliran bercerita walau hanya sebentar saja. Bila pengamatan dilakukan secara berkelompok, wakil-wakil dari setiap kelompok diberi kesempatan yang sama panjangnya. Baik pengamatan berkelompok maupun individual, ujungnya sama menulis puisi secara individual. Kemungkian pusi yang dihasilkan berbentuk seperti ini:
SEMUT
Aku suka melihat kalian, bila berpapasan selalu bersalaman
Apakah itu yang diajarkan Nabi Sulaiman?
Aku kagum pada kalian
Menggeret bangkai belalang bersama-sama
Kalian bawa ke mana?
O rupanya bisa juga kalian menggeretnya sambil memanjat tembok
Aku tak tega mencolek bawaan berat itu
Kalau sampai terjatuh kasihan
Kalian harus mengambilnya lagi dari bawah
KELINCI
Tik utak utik tik utak utik
Kupingmu caplang tetapi cantik
bergerak-gerak seperti gunting pemotong kain
Clok clok clok
Kamu melompat-lompat
Hei berhenti berhenti
Aku punya makanan untukmu
Mik umak umik mulutmu kaya mulut tikus
Pantesan makanmu rakus
Clok clok clok
Kamu melompat lagi
Ah aku tak punya lagi makanan untukmu
AYAM
Hai ayam, anakmu lucu-lucu
Bolehkah aku minta satu
Untuk berlibur di hari Minggu
LANGKAH MENGAPRESIASI PUISI HASIL KARYA MURID
Pembelajaran menulis puisi merupakan sebuah rangkaian. Langkah awal adalah mengamati objek dan mendiskusikan hasil pengamatan. Langkah kedua adalah menulis puisi berdasarkan kesan atas objek amatan. Kedua langkah ini sudah diuraikan pada bagian sebelum ini. Langkah terakhir adalah mengapresiasi puisi hasil tulisan murid. Langkah ini menjadi penting untuk dilakukan karena pada kesempatan inilah pemberian penghargaan dilakukan. Bentuk penghargaan tertinggi bagi siswa adalah pujian dari guru. Oleh karena itu, apa pun hasilnya, guru harus memberikan pujian. Pujian adalah penghargaan secara verbal. Penghargaan lain yang dapat dilakukan adalah pujian berupa tindakan, seperti memajang hasil karya siswa di mading (majalah dinding) atau membuat antologi hasil karya siswa.
Langkah-langkah apresiasi sederhana namun perlu untuk segera dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Memberi kesempatan kepada murid-murid untuk membacakan hasil karya mereka di depan kelas
2. Memberi komentar secara posistif dan proporsional
3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih lima hasil terfavorit (istilah terfavorit ini penting untuk ditekankan sebagai sarana membangun egaliter, hindari istilah hasil terbaik karena dapat menimbulkan rasa minder bagi yang tidak terpilih).

Model pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri atas 5 macam, yaitu : 1). Model Pembelajaran Mendengarkan, 2). Model Pembelajaran Berbicara, 3). Model Pembelajaran Membaca, 4). Model Pembelajaran Menulis, dan 5). Model Pembelajaran Apresiasi Sastra. Dalam model pembelajaran sastra terdiri atas : Ganti Tokoh , Ganti Latar, Urutan Alur, Skema Tokoh, Tabel Kesan Tokoh, Lanjutkan Ceritera, Parafrase Puisi, Melagukan Puisi/Pantun, dan Baca Puisi.
Dari ke sembilan unsur model pembelajaran sastra di atas, yang merupakan model pembelajaran satra/puisi yaitu : parafrase puisi, melagukan puisi/pantun dan baca puisi.
1). Parafrase Puisi
Memparafrasekan puisi artinya mengubah puisi menjadi bentuk prosa/narasi tanpa mengurangi inti/makna puisi tersebut. Langkah termudah adalah dengan menyisipkan beberapa kata di antara dua kata dalam puisi sehingga menjadi bentuk prosa/narasi yang logis dan lebih mudah dipahami.
Contoh : memparafrasekan puisi “Karangan Bunga” karya Taufik Ismail.

Karangan Bunga
Tiga anak kecil
dengan langkah malu-malu
datang ke Salemba
sore itu
Ini dari kami bertiga
pita hitam
pada karangan bunga
sebab kami ikut berduka
pada kakak
yang ditembak mati
siang tadi
Karangan Bunga (paraphrase)
(ada) tiga anak kecil
(berjalan) dengan langkah malu-malu
(datang) ke Salemba
(pada) sore itu
Ini dari kami bertiga(kata mereka)
(sebuah) pita hitam
(disematkan) pada karangan bunga
sebab kami (merasa) ikut berduka
pada kakak (kami)
yang ditembak (hingga) mati
(pada) siang tadi.
Sekedar contoh cara penulisan parafrase puisi ‘Karangan Bunga’ adalah sebagai berikut :
Ada tiga anak kecil berjalan dengan langkah malu-malu. Mereka datang ke Salemba pada sore itu. “Ini dari kami bertiga” kata mereka. Sebuah pita hitam disematkan pada karangan bunga, sebab kami merasa ikut berduka pada kakak kami yang ditembak  hingga mati pada siang tadi.
Pembelajaran paraphrase puisi perlu latihan dan latihan. Karena semakin banyak berlatih perasaan dan penghayatan terhadap isi/makna sebuah puisi akan semakin terasah. Hal ini amat berperan dalam proses memparafrasekan sebuah puisi.
2). Melagukan Puisi/Pantun
Melagukan puisi sama artinya dengan membaca puisi dengan intonasi menurut nada-nada suatu lagu. Misalnya membaca puisi berjudul “Dengarkan Keluhanku” karya Ebiet G Ade dengan dilagukan dan disertai iringan musik gitar misalnya. Seperti kita ketahui Ebiet G Ade adalah sosok penulis puisi yang dilagukan. Anda dapat mengamati ternyata lagu-lagu Ebiet G Ade sejak album perdana  Camelia I sampai album Camelia V  hampir semuanya adalah puisi yang dilagukan.
Adapun Pantun yang dilagukan pada dasarnya hampir sama dengan puisi yang dilagukan. Hanya ini dalam bentuk pantun. Contoh pantun yang dilagukan yang pernah mencapai top hits misalnya “Ayam Jago”yang dinyanyikan oleh Rany Puspita ( kalau tidak salah). Demikian syairnya :
Ayam jago jangan diadu,
Kalau diadu jenggernya merah…………2x
Baju ijo jangan diganggu
Kalau diganggu yang punya marah……….2x

Jalan-jalan ke kota Paris
Lihat gedung berbaris-baris………..2x
Saya suka sama Bang Kumis
Orangnya ganteng juga romantis ………..2x

3). Baca puisi
Nah, kalau ini saya yakin pasti sudah pada tahu alias faham. Baca puisi sering dilombakan, misalnya lomba baca puisi’perjuangan’, festival baca puisi Islami, dsb. Yang ditekankan pada aspek penilaian dalam pembelajaran baca puisi adalah :
a. Lafal (ucapan) yang jelas dan benar.
b. Intonasi (tinggi rendahnya suara) yang tepat.
c. Dinamik (keras lemahnya suara) yang tepat.
d. Mimik (perubahan raut wajah) atau penghayatan.
Sebagai inovasi pembelajaran, guru dapat menggunakan berbagai macam model pembelajaran baca puisi, misalnya :
a). Dengar ucap ; artinya siswa mendengar kemudian mengucapkan persis seperti yang didengar. Siswa bisa mendengar contoh dari guru atau dengan media rekaman kaset/video puisi Penyair terkenal (WS Rendra, MH Ainun Najib).
b). Demonstrasi/Unjuk kerja ; artinya siswa mendemonstrasikan membaca puisi menurut kreasinya sendiri tidak menirukan siapapun. Siswa membaca menurut versinya sendiri, sehingga siswa menjadi dirinya sendiri. Namun demikian guru tetap perlu memberikan perbaikan/bimbingan  dimana perlu.
Dari kedua model pembelajaran di atas keduanya sama-sama baik karena saling melengkapi. Dengan mendengarkan contoh baca puisi dari ‘Penyair ‘ tertentu siswa diharapkan mampu mengapresiasi dan termotivasi untuk melakukan kegiatan baca

TUGAS INOVASI PEMBELAJARAN SASTRA

KUMPULA MAKALAH
PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA

SEBAGAI SALAH SATU
MEWUJUDKAN UPAYA PENDIDIKAN KARAKTER

TIM PENYUSUN
Lida Nalida
Ne’ma Marasabessy
Siti Masytoh

Dosen                :  Dr. Edi Sukardi, M.Pd

Progran Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PROF. DR. HAMKA 2010

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa yang telah memberikan nikmat sehat yang tiada terhingga. Dengan nikmat itulah alhamdulillah tugas Penyusunan kumpulan makalah mata kuliah Apresiasi Sastra dapat terselesaikan. Tugas  ini berupa kumplan makalah dan diberi  topik “Inovasi Pembelajaarn Apresiasi Puisi, Cerpen, dan Drama” sebagai Salah Satu Upaya mewujudkan Pendidikan karakter. Inovasi pembelajaran sastra ini penulis khususkan pada pembelajaran apresiasi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)
Dalam proses penyelesaian tugas ini penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan apresiasi dan dan rasa terima kasih kepada:
1.    Dr. H. Edi Sukardi, M.Pd.  sebagai  pengampu mata kuliah Pembelajaran Apresiasi Sastra yang telah memberikan mamotivasi kepada penulis untuk membuat makalah tentang Inovasi Pembelajaran Apresiasi Sastra Puisi, Cerpen, dan Drama.

2.    Rekan-rekan mahasiwa yang telah membantu menyusun kumpulan  makalah ini  dan memberi masukan untuk melengkapi sumber makalah.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapakan saran dan kritik dari para pembaca. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca, terutama bagi penulis sendiri.
Amin
Jakarta, Desember 2010
Penulis
Tim Penyususn

DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL                        i
KATA PENGANTAR                    ii
DAFTAR ISI                            iv

I.    BAGIAN I
INOVASI PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI    1
A.    Selayang Pandang tentang
Apresiasi Puisi                    1
B.    Pembelajaran Apresiasi Puisi
pada KTSP                        4
C.    Beberapa Inovasi Pembelajaran
Apresiasi Puisi                    8
1.    Baca Puisi serempak                8
2.    Baca Puisi Berpasangan            10
3.    Mengganti Puisi                    11
4.    Menulis Puisi Berdasarkan Objek
Langsung                    13
5.    Menulis Puisi Berdasarkan Lamunan    15
6.    Meneruskan Puisi                16

II.    BAGIAN II
INOVASI PEMBELAJARAN
APRESIASI CERPEN                    21
A.    Selayang Pandang tentang
Apresiasi Cerpen                    21
B.    Pembelajaran Apresiasi Cerpen
pada  KTSP                         23

C.    Beberapa Inovasi Pembelajaran
Apresiasi Cerpen                     25
1.    Awali Cerita                    25
2.    Akhiri Cerita                    27
3.    Ganti Tokoh                    28
4.    Ganti Setting (Latar)                30
5.    Urutan Plot                    32
6.    Diagram atau Skema                34

III.    BAGIAN III
NOVASI PEMBELAJARAN
APRESIASI DRAMA                    43
A.    Selayang Pandang tentang
Apresiasi    Drama                43
B.    Pembelajaran Apresiasi Drama
pada KTSP        43
C.    Beberapa Inovasi Pembelajaran
Apresiasi Drama                48
1.    Membuat Naskah Drama            48
2.    Memprosakan  Drama            50
3.    Bermain Drama                52

DAFTRA PUSTAKA

About nalida24

Seputar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s